
Ridho merasakan ada yang aneh dalam dirinya sejak beberapa hari ini. Pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Di ruangan kantor tempatnya bekerja, ia juga tak bisa fokus berkonsentrasi mengerjakan laporan data akademik kemahasiswaan di kampus tempatnya bekerja sebagai staf administrasi kemahasiswaan.
Sejak kejadian itu, Ridho tidak bisa melupakan wajah Nisa. Ridho bisa melihat satu sisi lain dari Nisa selain sikap keras kepalanya. Baginya dia perempuan yang manis dan cantik. Bayang-bayang wajah cantik dan senyum manis serta sikap juteknya justru itu yang membuat Ridho seakan berhasil terbius oleh pesonanya.
Ridho meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu, menghempaskan tubuhnya di jok kursi sofa.
"Ya ampun, apa sih yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku selalu memikirkan perempuan konyol itu!"
"Arrghh sial!"
Ia berusaha melepas dari yang melekas dilehernya, seolah dasi itulah yang seperti membuatnya tak bisa bernapas. Tenggorokannya tercekat.
Rara, istri Ridho baru ke luar dari dapur.
"Mas, udah pulang?"
"Iya," balas Ridho cuek.
Melihat Ridho berkesusahan melepas dasinya, Rara berusaha menawarkan bantuannya.
"Biar aku bantu, Mas"
Ridho mendengus kemudian mengangguk pelan dengan sigap jari jemari lentik itu melepaskan dari yang melingkar di kerah baju Ridho. Ia menatap wanita yang telah dinikahinya empat tahun itu.
"Ra, kamu tumben udah pulang? Biasanya kamu pulang malam, Ra."
"Iya, Mas. Kebetulan ada penambahan perawat baru tadi, jadi aku dengan dia bergantian shif hari ini. Jadi, aku bisa lebih punya waktukan untuk bersama dengan kamu." Rara mengumbar senyum merekah. Memang semenjak dirinya memutuskan untuk bekerja di rumah sakit Meidical selama satu tahun terakhir, selama itu pula Rara merasa waktu kebersamaan dengan suaminya sedikit berkurang. Kalau tidak Ridho yang sibuk, ya Rara yang sibuk. Maka, sulit menyatukan schedul mereka berdua hanya untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka.
Rara mengelus lengan Ridho dengan lembut, sementara Ridho terlihat sedang memainkan ponselnya. "Mas, nanti malam kita keluar yuk."
"Aduh, males ah. Aku mau istirahat, cepe Ra."
"Tapi Mas, ini waktunya kita menunjukkan kemesraan kita karena selama inikan orang-orang jarang melihat kita keluar bersama lagi. Kayak silaturahmi ke tetangga atau jalan begitu."
"Aduh, Ra. Kamu paham nggak sih!" cebik Ridho. Ia meraih tasnya kembali dan berlalu masuk ke kamar.
Rara menatap punggung suaminya yang telah hilang dibalik pintu kamar. Kamar mereka berdebam ketika ditutup keras oleh Ridho.
"Ridho kenapa sih kok jutek gitu!" dumel Rara. Tanpa mengetahui bahwa suaminya itu kini tengah merasa bimbang akan adanya perasaan suka pada tetangga barunya, yang baru saja menempati rumah bernomor 35 blok B.
Rara berjalan menuju teras rumah menyiram beberapa koleksi bunganya yang tertata rapi di tepian garasi rumah. Ia senang akhirnya punya waktu untuk mengurus tanaman kesayangan, ada bunga bougenvil, kaktus, dan beberapa pot yang diisi oleh tanaman anggrek. Dengan telaten ia menyemprotkan setiap tanamannya sambil sesekali memeriksa kondisi anggrek yang berwarna ungu itu.
***
Di tempat lain. Keluargaku masih tengah menatap masakan yang telah tersaji ke dalam box nasi yang disiapkan dan rencananya akan diberikan pada anak-anak yatim yang telah diundang.
"Umi, ini baru 15 kotak. Di mana sisa kotak yang lainnya biar Nisa isi."
"Lho bukannya tadi Azzam yang membelinya coba itu tanya sama Azzam."
Aku menghambur ke luar dari dapur mencari Azzam.
"Bang! Abang!" Aku memekik mencari Azzam dari ruang tengah sampai ke teras depan tapi aku belum mendapati wujudnya di sekitaran sini.
"Kemana sih tuh manusia!" gumamku.
"Bang Azzam!!" teriakku lebih keras lagi.
"Ya Allah, Nak. Kenapa teriak-teriak begitu?" tanya ayah menghampiriku.
"Ayah liat Azzam nggak!"
"Tadi terakhir abang lihat di balkon atas."
__ADS_1
"Ya udah yah, makasih ya.. "
Dengan sigap aku menaiki anak tangga menuju lantai dua. Aku sudah mengecek kamar, tapi tidak ada. Di kamar mandi pun tidak ada.
"Bang! Abang!" pekikku di kamar.
Satu satunya tempat yang belum aku cek adalah balkon di luar. Netra melihat pintu mengarah ke balkon terbuka. Aku mencoba mengeceknya siapa tahu dugaanku benar. Dan ternyata benar saja. Ia sedang duduk di sana, sambil mencukur brewok yang memang mulai menumbuhi pipinya.
"Ya Allah ampun, dicariin juga, udah teriak-teriak abang di sini rupanya!"
"Kenapa?" tanya Azzam masih sibuk dengan pisau cukurnya.
"Itu box nasi yang abang beli dimana masih kurang"
"Perasaan udah pas tadi sayang. Atau nggak coba cek di bagasi mobil mungkin sebagian tertinggal di sana."
"Ih abang aja lah, Nisa masih harus bantuin umi di dapur ya"
"Aduh, tapi abang belum selesai cukur ini sayang"
"Nanti aja dilanjutinnya, ayo buruan!" kataku dengan menarik paksa tangan Azzam dan menyingkirkan pisau cukur yang dipegangnya.
"Ya Allah ya rabbi. Sebantar ya Nisa, sedikit lagi tanggung ini. Yahhh... "cengir Azzam seraya memicingkan sebelah matanya.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada. "Udah buruan, sayang! "
"Tidak bisa buru-buru dong, nanti luka gimana?"
"Ya biarin."
"Hmm kenapa begitu? Abang begini biar abang selalu terlihat rapi dan Nisa tidak mudah berpaling dari abang. Kalau abang selalu handsome, betul tidak?"
Aku mengangguk. "Tapi, yang ada bukan hanya istri abang yang suka dan terpesona dengan rupa abang nantinya, cewek lain pun bakalan terpesona deh, apalagi mahasiswa yang masih kinclong-cinclong. Udah ah biar brewok aja biar nggak ada yang naksir dan ngegoda suami Nisa."
"Ih cemburu nih?"
Tegelak Azzam.
"Udah selesaikan? Ayo buruan. Sudah ini kita siap-siap mandi kan acaranya ba'da maghrib."
"Kita mandi berdua ya?"
Aku mengernyit bingung. "Apa? Ih nggak ah. Nggak mau! Mandi sendiri-sendirilah, enak aja mandi berdua"
Azzam mendengus sedetik kemudian menyungging senyum jail.
"Ish, kenapa sih senyum nggak jelas. Pasti mikirin yang negatif kan? Hayo!"
Azzam tidak menyahut, ia berjalan dengan derap langkah sangat pelan mendekatiku.
Aku mulai memasang ancang-ancang untuk mengambil langkah seribu sebelum dia berbuat yang macam-macam apalagi mengerjaiku. Ia semangkin mendekat, dan melempar tatapan menggoda.
Hmm... Sepertinya penyakitnya kambu lagi. Sebaiknya aku kabur ah.
"Lariiiiiii" teriakku berlari menjauhinya dan keluar kamar.
"Nisa, kemana? suara Azzam mulai memudar ketika aku menuruni tangga dengan sedikit berlari.
"Jangan lari ya!"
Aku menoleh saat mendengar suara itu, tak aku sangka Azzam cepat sekali menyusulku. Sementara aku masih di pertengahan anak tangga.
"Aaaa... " teriakanku menggema di ruang tengah takut sekali bila aku harus tertanggkap oleh Azzam.
__ADS_1
Di ruangan ini aku mendapati ayah tengah memasang karpet untuk duduk para tamu yang telah di undang termasuk juga meja prasmanan untuk tempat pengambilan nasi.
"Ya Allah, ampun Ayah. Bisa tidak Nisa tidak usah teriak-teriak begitu."
"Ayah, Azzam itu tuh jahil. Nisa takut!" Aku bersembunyi di pelukan ayah.
"Astagfirullah." Ayah menggeleng-geleng setelahnya, melihat dua sejoli yang tak putus berbuat keusilan untuk diri sendiri.
"Sudah, daripada kalian ribut. Lebih baik bantu ayah, membentang karpet ini. Ayo!"
"Bukan Nisa dong!" tuturku seraya mengangkat tangan. "Tugas Nisa membantu Umi Salamah dan Ibu di dapur. Itu tugasnya laki-laki dong." Aku mendelik ke arah Azzam.
"Nisa! Kamu kemana? Tugas kamu belum selesai di dapur!" suara ibu berteriak dari arah dapur.
"Iya, Bu sebentar" sahutku.
"Bang, ayo buruan dimana box nya?"
Kami berdua kemudian mengecek kekurangan box nasi yang di beli tadi ke bagasi mobil. Entah-entah memang ada tertinggal di sana. Dan Azzam memang lupa membawa sebagiannya.
***
Rara telah berpakaian rapi dengan mengenakan gamis berwarna biru tosca dan menggunakan jilbab pasmina yang melilit manis di kepalanya. Sementara Ridho masing anteng di duduk menghadap televisi sambil mengunyah pop corn, ia sedang menyaksikan tayangan film box office yang diputar di channel youtube yang terkoneksi dengan jaringan internet. Melepas kepenatan dan kejenuhan atas tugas seharian.
"Mas Ridho, nggak mau ikut?" tanya Rara menatap suaminya yang masih betah menatap screen layar LCD televisi.
Ridho sempat menoleh sebentar. "Acara apa?"
"Acara pengajian, kayak syukuran gitulah pokoknya. Ayo Mas temani Rara."
"Ah, nggaklah tanggung nih! Lagi seru-serunya! Lain kali aja." Ridho kembali fokus melihat ke layar.
"Kok lain kali sih, Mas. Emang acara syukuran pindah rumah bisa diadakan berkali-kali. Yah, cukup sekali lah."
"Lah aku kira pengajian. Pengajiankan biasanya rutin diadain mingguan."
"Bukan. Syukuran pindah rumah," jawab Rara sambil menyelempang tasnya hendak bersiap berangkat.
"Pindahan siapa memangnya?"
"Lho pindahan tetangga kita yang baru, yang tinggalnya di blok B itu. Pindahan rumahnya si Dhanisa. Di undangan Pak Damar kan begitu."
"Dhanisa?"
"Iya."
Mendengar nama wanita yang terus memutari otaknya setiap malam membuat Ridho menghentikan kegiatan menonton televisinya.
"Ya udah tunggu aku ikut! Tunggu ya!"
"Lho Mas tadi?"
"Udah nggak usah komen, sayang. Mumpung aku berubah pikiran nih."
Tanpa curiga Rara menunggu suaminya untuk berganti pakaian dengan mengenakan baju koko untuk turut menghadiri undangan syukuran pindahan sekaligus acara doa atas kelulusan Dhanisa dari pendidikan aliyahnya.
"Udah, yuk!" semangat Ridho tanpa menyadari peci yang dikenakan terlihat miring.
Rara tersenyum. "Kamu kok semanget sih."
"Ya harus kan biar kita bisa keluar bareng, dan telihat sebagai pasangan romantis. Ya meskipun kita belum bisa menggandeng anak."
Rara terdiam sesaat mendengar penuturan Ridho, diujung kalimatnya membuat Rara sedikit terhenyak. Perkataan Ridho membuat merasa seperti wanita yang tak berguna karena belum mampu memberikan keturunan untuknya. Apalagi orang tua Ridho apa lagi mertuanya juga demikian.
__ADS_1
"Ya sudah ayo. Tapi sebentar peci kamu miring sayang," tegelak Rara, dibalik kesedihannya.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥