
"Seperti ada yang mengetuk pintu dari luar," ucap Rara kemudian mematikan hair dryer seperti rencana awalnya kalau hari ini, istri Ridho itu akan pergi ke salon kecantikan bersama dengan Nisa maka dari itu saat ini Rara sudah bersipa-siap.
"Mas, itu ada orang kayaknya di luar. Coba kamu lihat dulu," pinta Rara namun bukannya bangun Ridho malah semangkin meringkuk di tempat tidur.
"Mas?" panggil Rara kembali.
Ridho bergumam, "Kamu aja Ra, aku masih ngantuk banget habis begadang semalam."
Rara menghela napas, dan memakluminya semalaman memang ia tahu Ridho lembur. Katanya membuat laporan yang harus diberikan minggu ini ke ketua dekan. Rara menghambur ke luar untuk membuka pintu.
Pandangan awalnya tertuju pada anak kecil yang tiba-tiba langsung memeluk pinggang Rara.
"Lho Fatih?" Rara menjongkok demi memeluk gemas pula bocah berusia tujuh tahun itu.
"Fatih katanya mau ketemu kamu, Dek. Rindu katanya," ucap Indri, kakak dari Rara. Indri datang bersama dengan Rayyan, suami Indira.
"Iya. Tadi kita habis jalan-jalan. Tiba-tiba di tengah jalan mau pulang ke rumah si abang Fatih merengek mau ke rumah kamu, Ra. Ya sudah kita putar balik aja antar ke rumah kamu. Kalau nggak diturutin ini. Aduh! Ngambeknya bisa guling-guling di jalan dia," kelakar Rayyan. Suami Kak Indri memang humoris. Pembawaannya selalu membuat orang tertawa cekikikan, ada-ada saja bahan yang ia gunakan untuk melempar guyon.
Rara dan Indira tertawa.
"Emmss... Keponakan kakak kangen ya?" Rara mencubit pipi gempal Fatih.
"Iya. Fatih mau main sama kakak ya"
"Iya sayang. Kita main sepuasnya ya."
Rara kembali berdiri dan mempersilahkan Indira dan Rayyan untuk masuk.
"Ayo masuk dulu, Kak" Rara mempersilahkan. Kedua menyambut ajakan Rara dengan senang hati. Mata Rayyan melihat ruangan sekitar.
"Sunyi sekali, Ra. Ini rumah apa hati yang sepi?"
Indira mencubit pinggang Rayyan. "Hmm...mulai nih!" gemas Indira.
Rara tersenyum tipis. "Yah, ginilah, Mas. Kita cuman tinggal berdua di sini. Jadi apa membuat rumah ini rame kalau bukan si abang Fatih, bocah tengil kesayangan kakak."
"Abang, senang nggak main ke sini sayang?" tanya Rara lembut.
"Senang Bunda," ucap Fatih bersemangat. Ia memanggil Rara dengan sebutan Bunda, karena Rara dan Fatih begitu dekat. Bahkan Rara menganggap keponakan satu-satunya itu sebagai anaknya pula.
"Fatih bun, di rumah nggak ada teman Fatih main," dumel Fatih, bergelayut manja di lengan Rara.
"Bang Fatih, minta sama ibu. Bu abang mau adek satu lagi gitu." Rara menyipit mata pada Indira dan Rayyan.
"Hmm, Ra. Jangan ajarin Fatih yang aneh-aneh ya. Ini satu aja riwehnya, masyaallah. Apalagi masalah ngambeknya kalau nggak diturutin. Hem melebihi ayahnya," balas Indira tertawa pelan. Ia lalu melirik suaminya yang mulai kesal.
Indira menyengir dan menarik dagu Rayyan. "Hehe... Bercanda sayang."
"Aduh, makin sweet aja kalian. Bukin aku iri."
"Oh iya, Ridho mana?" Tanya Rayyan.
"Ada di kamar," jawab Rara seraya menoleh ke lantai atas tempat kamar di mana Ridho tidur.
"Ya ampun, jam segini masih aja molor kayak bocah," kesal Rayyan.
"Biasalah, Mas. Semalam dia begadang jadi mungkin aja dia mau balas dendan siang ini," bela Rara.
Indira menilik-nilik penampilan Rara. Wanita tersebut paham bahwa adiknya ini sudah rapi, seperti hendak jalan.
"Kamu mau keluar, dek?"
"Iya kak, biasalah perempuan mau perawatan gitu."
"Yah, abang Fatih nggak bisa lama-lama di sini sayang. Bundanya mau pergi," tutur Indira pada anaknya yang tengah memainkan robot transformers yang tadi dibelikan oleh Rayyan.
Fatih menggeleng. "Nggak mau. Fatih maunya sama Bunda."
Fatih mendekat, dan bergelayut manja dengan ibunya. "Ibu, Fatih nginap di rumah bunda boleh?" tanya Fatih penuh harap agar ibu dan ayahnya mengizinkan.
"Tapi sayang, besok kan abang sekolah. Gimana?"
Fatih memanyunkan bibirnya, tanda kecewa kalau dia paham bahwa nada bicara ibunya itu tidak mengizinkan Fatih menginap.
"Iya anak ayah, nanti kalau abang di sini sama Bunda Rara. Terus ayah sama bunda cuman tidur berdua dong. Ayah sama Ibu nanti sedih gimana?" ucap Rayyan turut membujuk putra tunggalnya.
Bocah itu masih merengek sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai. Bahkan mainan yang ada ditangannya juga dihempaskan ke lantai.
"Nggak mau!"
Rara meraih tubuh Fatih dan menenangkannya. "Hustt, abang Fatih. Abang boleh nginep di rumah Bunda ya. Tapi besok abang harus tetap sekolah besok. Besok ke sekolahnya bareng sama Om Ridho mau?"
Fatih mengangguk pelan, namun mukannya tidak lepas dari raut cemberut.
Rara tersenyum kemudian menatap Indira dan Rayyan bergantian. "Kak, besok biar Ridho aja yang mengantar Fatih ke sekolahnya, sekalian dia kan berangkat kerja juga."
__ADS_1
Kakak Rara itu menghela napas berat. "Ya sudah kalau begitu, karena kamu juga sudah mau pergi, kita pamit dulu ya, Dek. Salam sama Ridho ya dek."
"Iya Kak. "
Rayyan mengangkat tubuh Fatih sambil memberi nasihat. "Sayang, abang Fatih nggak boleh nakal di sini yah. Nanti kalau abang nakal, ayah nggak segan-segan jemput abang pulang lagi."
"Iya ayah bawel," balas Fatih.
"Bisa aja putra ayah." Rayyan mencubit pelan hidung anaknya.
"Rara, aku tutip Fatih ya. Salam juga untuk suamimu."
Rayyan menurunkan Fatih kembali, lalu berpamitan pulang pada Rara.
Melihat ayah dan bundanya sudah pergi menjauh. Fatih berlari menaiki tangga. Ia sudah hapal dimana tempat biasa ia bermain, dan beberapa mainan Fatih pun sengaja Rara simpan di kamar supaya sewaktu-waktu kalau Fatih bermain kemari ia bisa menggunakannya lagi.
Jam sudah pukul tiga sore. Rara kembali naik ke atas mengambil tasnya dan juga kunci mobil. Ups, hampir saja Rara menabrak tubuh berisi dan kekar di depannya. Ia mengerjap terkejut ketika tiba-tiba Ridho sudah berdiri di ambang pintu dengan tatanan rapi, meski hanya mengenakan t-shirt oblong. Tidak bisa dipungkiri pria yang telah empat tahun bersamanya ini memang tampan, membuat bergairah dan betah menatapnya.
"Lho kamu kemana, Mas?"
"Mau keluar sebentar."
Rara mengendus aroma wangi dari tubuh Ridho. "Wangi banget"
"Ya iyalah, aku harus selalu tampil cool. Ya nggak" Ridho tersenyum, seraya menaik turunkan alisnya.
Rara mengangguk ragu. "Tap-tapi kamu taukan aku juga mau keluar?"
"Tau."
"Di rumah ada Fatih, Mas. Nanti Fatih di rumah sama siapa?"
"Dia ikut kamu aja ya. Nih kunci mobil. Nanti aku bawa motor aja nggak papa, sayang." Ridho memyerahkan kunci mobil. "Aku duluan ya," ucapnya dengan senyum merekah.
Rara masih menatap bingung sikap suaminya. "Bahagia banget kayaknya. Kenapa sih dengan Ridho kadang-kadang senyum nggak jelas. Kadang-kadang marah, kesal. Huft!" Rara menggeleng-geleng.
Ia melanjutkan langkahnya. Meraih tas yang ada di atas nakas dan menghampiri Fatih yang tengah bermain di kamar sebelah.
"Abang Fatih, kamu dimana sayang?" panggil Rara.
Fatih menghambur ke luar dari kamar mandi. "Iya bun."
"Abang ikut bunda ya."
"Mau kemana bunda?"
"Iya." Rara menilik apa yang dipegang Fatih di tangan kanannya. Ia tahu yang di pegang Fatih itu sebuah foto.
"Sayang, apa itu?"
Fatih memberikan benda yang dipegangnya. "Ini bunda tadi Fatih temuin di kamar mandi."
Perlahan Rara meraih foto yang sudah agak basah itu, mungkin karena tlah terkena air di kamar mandi tadi.
Deg!
Betapa terkejutnya Rara ketika membalik foto itu, ternyata itu adalah foto Dhanisa.
"Foto Dhanisa? Iya ini foto Dhanisa? Kenapa bisa ada di rumah ini?" Rara bertanya-tanya dalam hati. Perasaan Rara mulai tak menentu saat ini. Kaget, bingung, aneh, semua menjadi satu.
"Bunda, kenapa?"
"Ng-nggak sayang. Kita berangkat ya sekarang." Rara menaruh foto Dhanisa dalam tasnya dan menggandeng tangan Fatih untuk ikut bersamanya.
***
"Bagaimana di angkat umi?"
"Iya sayang diangkat tapi suaminya yang angkat. Katanya Rara sedang keluar, begitu katanya."
"kamu yang sabar ya Nak. Sebentar umi telepon Azzam dulu. Dia sudah dimana. Kenapa lama sekali," kata Umi cemas.
"Biarlah, Umi. Mungkin lagi di jalan. Jadi, mana bisa Azzam angkat teleponnya."
"Iya, Nak. Teleponnya juga tidak diangkat."
"Assalamu'alaikum" Azzam masuk dengan langkah terburu-buru. Bersama dengan Dokter Tommy di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam."
Dokter Tommy mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksa bagian tubuhku. Mendeteksi gejala yang direaksikan dari tubuh. Aku melihat Dokter Tommy menghela napas leganya.
"Bagaimana menantu saya Dokter Tommy, dia dan janinnya baik-baik saja kan?"
"Janin dalam kandungan istri anda masih sangat muda, dan usia kandungan seperti ini begitu rentan. Dan resiko terburuknya adalah keguguran tapi beruntung calon bayinya kuat. Istri anda perlu istirahat total saat ini untuk pemulihan kondisinya. Yang perlu diperhatikan masa hamil muda ini adalah pola asupan gizi untuk ibu dan anaknya, juga jangan terlalu banyak pikiran yang bisa menyebabkan ibunya stres apalagi depresi. Kurangi pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat," saran Dokter Tommy.
__ADS_1
"Ibu hamil bisa mudah mengalami pendarahan selama masa-masa kehamilan apalagi bila kondisi tubuhnya kelelahan. Sebelum kondisi tubuh yang mudah lelah dan sakit menganggu kesehatan serta janin di dalam kandungan," lanjut Dokter Tommy.
"Umi, jadi merasa bersalah karena bantuin umi di dapur."
Azzam menggenggam jemariku. "Benar begitu, sayang?"
Aku menatap umi yang menampakkan raut bersalah. "Mi, kan itu Nisa yang minta bantuan umi. Tidak apalah Umi yang penting kita baik-baik saja," kataku memenangkan umi.
"Abang, kata dokternya kan Nisa nggak apa jadi nggak usah cemas," senyumku.
"Suplemen vitamin yang saya berikan minggu lalu supaya rutin diminum ya untuk meningkatkan imunitas tubuh ibu dan si calon bayi. Dan melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan calon bayi."
"Iya Dokter terima kasih."
Setelah dokter Tommy pulang, umi juga pergi meninggalkan kami berdua di kamar karena masih harus menyelesaikan kukusan kuenya yang belum terselesaikan.
"Hari ini Nisa kan ada janji dengan Rara. Nisa tidak usah kemana-mana dulu ya hari ini" pinta Azzam sambil menuangkan sirup ke sendok.
"Iya, kalau gitu Nisa beritahu mbak Rara dulu, takutnya dia pergi karena kita janjian jam tiga tadi. Sekarang sudah lewat 10 menit."
"Minum obatnya dulu." Azzam mmembantku bangun dan menyuapi obat yang dituangnya disendok.
"Azzam ada orang di bawah," kata Umi seraya mengatur napasnya yang setengah habis karena naik turun tangga.
"Sepertinya untuk saat ini Umi sarankan kalian pindah saja dulu ke kamar bawah. Demi kebaikan Nisa juga kan supaya tidak lelah naik turun tangga."
Azzam berdiri melihat ibunya yang datang. "Iya, umi. Saran yang bagus. Insyaallah nanti kita pindah kamar saja dulu sementara."
"Ada siapa di bawah, Umi? Perempuan bukan?" tanyaku.
"Bukan, Nak. Laki-laki, katanya dia ingin bertemu denganmu Nisa"
"Laki-laki, Umi. Siapa?" tanyaku bingung. "Rasanya aku tidak ada janji dengan siapapun hanya dengan Mbak Rara saja, dan aku tidak punya teman lelaki yang akrab di sini"
"Iya. Umi tidak tau namanya, coba saja temui dulu."
"Sayang, kamu biar di sini aja dulu ya. Biar abang yang ke bawah."
Dari atas Azzam melihat ke bawah. Benar sedang ada laki-laki yang berdiri di teras depan. Dengan langkah cepat Azzam menuruni setiap anak tangga hingga membawanya ke lantai bawah.
"Maaf anda mencari siapa?"
Pemuda itu awalnya memungungi badan, sekarang memutar balik badannya dan melemar senyum.
"Halo Azzam."
"Assalamualaikum. Ada baiknya mengucap salam," komentar Azzam.
Pria itu terkekeh. "Astaga, aku lupa! Kalau saat ini bertamu di rumah Ustadz," kata Ridho menyindir.
"Ridho, ada apa kemari?"
Ridho tersenyum miring. "Bukannya agama mengajarkan kita untuk saling bersilaturahmi, dan saat ini ya aku ingin silaturahmi." Ridho mengangkat sebelah alisnya.
"Oh begitu. Kalau memang begitu ayolah, silahkan masuk." Azzam menyambut dan mempersilahkan Ridho masuk dengan sapaan hangat.
Ridho memperhatikan setiap sisi bagian ruangan. Ia seperti mencari-cari sesuatu.
"Ada apa?"
"Dhanisa mana?"
"Di atas, sedang istirahat. Kenapa? Ada perlu?"
"Aku hanya ingin memberikan buah tangan ini untuknya." Ridho menyerahkan bingkisan untuk istri Azzam. "Aku tahu dia sedang sakitkan? Makannya aku ingin menjenguk dia? Oh iya sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat ya. Selamat karena Dhanisa mengandung anakmu. Semoga keluarga kalian selalu bahagia."
Azzam tersenyum senang. "Alhamdulillah. Terima kasih atas do'anya. Tapi sebelumnya darimana kamu tau kalau istriku sedang sakit?"
"Tadi Dhanisa meneleponku. Aku tidak menyangka disaat sakit dia masih sempat menghubungiku." Ridho memalingkan wajahnya dan tersenyum jahat.
Raut wajah Azzam seketika berubah. Perkataan Ridho barusan tentu saja membuat hatinya panas dan cemburu.
"Apa maksud Nisa harus menghubungi Ridho kalau diringa sakit?" batin Azzam.
"Nampaknya istrimu butuh perhatian, Zam. Lihat dia sakit saja sempat menghubungiku. Apa maksudnya coba," ungkap Ridho bersuka hati membuat Azzam memanas. Ia yakin setelah ini Azzam pasti akan memarahi Dhanisa.
Azzam merubah posisi duduknya, mulai merasa risih. Dalam hatinya ia terus melafadzkan dzikir berusaha menenangkan hatinya. Azzam masih menahan kekesalannya.
"Apa aku boleh menemui Dhanisa?"
"Dia butuh istirahat," jawab Azzam acuh.
"Aku hanya ingin menjenguknya, aku rasa istrimu tidak akan terganggu. Ya kan?"
Dengan sabar, pria berkopiah itu. Mempersilahkan Ridho menemui Nisa di kamar.
__ADS_1
***