
Gubrak!
Remaja laki-laki itu baru saja terjatuh dari tempat tidurnya. Wajahnya meringis sakit sekaligus kesal. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kondisi mata masih terpejam. Dengan susah payah ia berusaha mengumpulkan kembali nyawanya.
Hoammm....
Hanan menguap tanpa sanggup menahannya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri. Seperti hadist riwayat muslim yang menyatakan, Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah menahannya sedapat mungkin.
Dengan mata yang masih terkatup-katup Hanan berdiri dengan malas, dan melangkah ke kamar mandi.
"Awww...." pekiknya ketika kaki itu tersandung kursi meja belajar. Rasanya seperti kesentrum aliran listrik, karena kejadian itu mata Hanan baru sepenuhnya terbuka.
Hanan baru sadar ternyata langit sudah berubah menjadi terang.
"Ya ampun sudah pagi rupanya? Hah? Pagi?" gumam Hanan.
Ditariknya tirai jendela kamar. Ternyata benar saja, langit sudah berubah warna. Arrgg! Hanan mengacak rambutnya sembarang, berlanjut dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia melangkah membuka pintu kamar lalu kembali lagi.
"Aduh, mau apa aku tadi?" Hanan bergumam sendiri, tiba-tiba saja ia lupa apa yang hendak dilakukan.
Innalillah sholat subuh!
Secepat kilat Hanan meluncur ke kamar mandi hampir saja dia terpeleset di kamar mandi karena buru-buru.
Pagi ini, tentu Hanan tidak lupa kalau dia ada jadwal bimbingan skripsi dengan dosennya pukul sembilan.
Dengan masih menikmati waktu yang tersisa Hanan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada kakaknya yang sedang sibuk menyiapkan roti bakar.
Baru sebentar Hanan duduk, handphone-nya berkedip sebentar, ada pesan masuk.
"Assalamu'alaikum, dokter. Apa hari ini dokter berkenan untuk aku jemput di rumah kebetulan hari ini umi juga akan pulang. Jadi kita bisa barengan ke rumah sakit?"
Uhuk...
Membaca pesan itu seketika Hanan tersedak air yang belum sempat sepenuhnya melewati kerongkongan.
"Kamu kenapa, Hanan?" tanya Kak Sarah masih mengaduk susu yang baru saja di seduhnya.
Hanan mengusap bibirnya yang basah. "Nggak Kak, cuman pesan dari dosen aja suruh bimbingan cepat," dusta Hanan.
'Siapa yang mengirim pesan seperti ini?' Hanan membatin. Hanan berpikir sejenak. 'Ya ampun aku ingat sekarang, semalam aku kan, memang menghubungi pemilik nomor yang mengirim bunga ke Kak Sarah. Iya ini pasti Fikri.'
Hanan memang memang belum memberi nama nomor Fikri pada kontaknya. Dan Hanan pasti mengira yang membalas pesan-pesannya selama ini adalah Sarah.
"Ya udah kamu siap-siap sekarang," pinta Sarah.
Drrtt...drtt....
Ponsel Hanan berdering. Fikri menelpon.
Hanan panik, sekarang ia bingung harus bagaimana? Tidak mungkin ia mengangkat panggilan itu. Hanan hanya memandangi ponselnya.
"Kenapa nggak diangkat, Han?" Sarah mendelik, membuat Hanan mengaruk keningnya.
Akhirnya ia memilih untuk menjauh dari Sarah. Sekarang ia sudah di ruang tengah. Mondar-mandir sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan dengan menggunakan handphone yang masih berdering.
Hanan memilih menekan panel hijau. Panggilan tersambungkan.
π"Assalamualaikum, dokter Sarah." Sapa Fikri diujung telepon.
π"Wa'alaikumsalam," balas Hanan dengan nada ragu.
π"Maaf ini dengan siapa?"
π"Aku Hanan."
π"Hanan? Siapa ya? Perasaan aku tadi menghubungi dokter Sarah"
π"Aku adiknya Sarah."
π"Oh, adiknya."
Suara Fikri bernapas lega dari ujung telepon.
π"Kalau boleh tau, Sarah mana ya? Kenapa kamu yang mengangkat telepon Sarah?"
π"Kak Sarah ada. Cuman Kak Sarah sedang di kamar mandi."
Hanan mengigit bibirnya. Ia sedang berbohong. Hanan hanya sedang berencana untuk membuat kejutan untuk Kakaknya. Bukankah Sarah pernah bilang kalau dia menyimpan perasaan pada anak yang menjadi pasiennya, yaitu Umi Salamah. Iya Fikri kan anaknya Umi Salamah.
π"Oh begitu ya."
π"Ada apa ya? Nanti kalau ada perlu biar aku sampaikan dengan Kak Sarah."
Hanan pura-pura tidak mengetahui apa maksud Fikri. Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa Fikri pasti ingin mengantar Sarah ke rumah sakit.
π"Nanti sajalah, aku akan telepon lagi."
πBukan masalah telepon lagi atau tidaknya. Yang jadi masalah ini bukan nomor Sarah.
__ADS_1
π"Hm, nggak apa-apa kalau ada pesan. Biar aku sampaikan dengan kak sarah. Om nggak usah sungkan."
π"Oke. Sebenarnya aku ingin mengantar Kakakmu ke rumah sakit. Aku sudah mengiriminya pesan, hanya belum di balas. Tolong kamu tanyakan apa dia bersedia kalau aku antar ke tempat kerjanya."
π"Gitu ya Om. Nanti aku tanya dengan Kak Sarah. Mungkin pesan Om belum sempat dibaca makanya belum dibalas. Nanti pasti dibalas kok, Om."
π"Ya sudah terima kasih ya. Assalamualaikum"
π"Iya Om. Wa'alaikumsalam"
Sedikit lega perasaan Hanan. Ia balik ke meja makan. Di sana masih ada Kak Sarah masih menyantap sarapannya.
Hanan menatap kakaknya terlebih dahulu, lalu berdehem. "Kak, nanti kakak kerja jam berapa?" tanya Hanan sambil meletakkan ponsel di sebelahnya.
"Jam sembilan," singkat Sarah.
"Kakak berangkat sendiri?"
"Iya Han." Sarah memandang Hanan setelahnya. "Kenapa memangnya?"
"Nggak, Kak." Hanan lanjut menghabiskan potongan roti bakar yang belum sempat dihabiskan tadi. Kemudian, ia kembali mengirimkan pesan balasan untuk Fikri.
Hanan tampak menyunggingkan senyum, kemudian balik menatap kakaknya.
***
"Assalamu'alaikum"
Aku melangkah masuk saat sudah berkali-kali aku mengucap salam tapi tidak ada sahutan dari dalam. Sepi. Pasti ayah dan ibu belum pulang. Memang sih sekarang baru jam tiga. Mereka kan biasanya pulang jam empat.
Saat sudah masuk ke kamar pun, aku tidak mendapati siapa-siapa.
"Abang kemana ya?"
Tas aku hempaskan di atas tempat tidur, dan berjalan kembali keluar. Mencari dimana keberadaan Azzam.
Tanpa sengaja telingaku menangkap suara krasak-krusuk dari arah dapur. "Hm, aku tau pasti abang di dapur."
Aku datang menghampirinya. Ia sedang sibuk memotong sayur, dan disebelahnya juga ada wadah berisi potongan daging yang sudah dibersihkan.
Dorr...
Aku memukul pundaknya bermaksud mengejutkan Azzam dari belakang.
"Astagfirullah Nisa. Lebih bagus lagi kalau mengucap salam daripada mengejutkan orang begitu."
Aku mengerucutkan bibir. "Iya-iya deh. Nisa minta maaf. Habis tadi Nisa sudah ngucapin salam di luar tapi nggak dijawab-jawab."
"Abang tidak dengar," balas Azzam dengan masih melanjutkan potongan sayurnya.
Aku berbalik ke posisi semula ketika hendak memasuki area dapur.
"H'm... H'm" Aku melakukan cek sound terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum."
Aku mendekat sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
Azzam menghentikan kegiatannya sejenak, pandangannya di jatuhkan pada tanganku yang sudah melingkar di perutnya. "Wa'alaikumsalam," balas Azzam lirih.
"Abang, buat apa?"
"Buat sayur soup," balas Azzam.
Aku melepaskan rengkuhan pelukan itu dan memaksa Azzam untuk berbalik badan.
"Bang sudah sehat?" tanyaku, menatap manik mata Azzam.
Azzam tersenyum, sedetik kemudian dia mengangguk.
"Nisa, cek dulu." Tanganku menyentuh dahi Azzam. Benar. Sudah tidak panas lagi.
"Gimana?" tanya Azzam ketika aku sudah menurunkan tangan usai menyentuh dahinya.
"Iya."
Azzam lanjut mengerjakan pekerjaannya tadi.
"Nisa boleh bantu?"
"Boleh. Dengan senang hati abang kalau Nisa mau bantu, sekaligus belajarkan."
Aku tersenyum senang. "Nisa bantu apa?"
"Potong daging itu saja." Azzam menunjukk baskom yang berisi beberapa potong daging ayam.
"Dipotong gimana?" tanyaku tak paham.
"Dipotong bentuk dadu aja, sayang."
"Siap, chef," balasku bersemangat.
__ADS_1
Aku mulai sibuk memotong daging menjadi beberapa bagian lalu membaginya lagi menjadi lebih kecil dengan membentuk dadu, sesuai permintaan master chef.
"Bang!"
"Hm"
"Tadi ada salam dari Bu Lydia. Katanya semoga cepat sehat."
Azzam lanjut menyalakan kompor sambil menanggapi ucapanku tadi, "Oh. Hanya itu?"
Aku berhenti memotong daging ayam. Segera menatap laki-laki yang berdiri di sampingku.
"Memangnya apa berharap apa dari Bu Lydia?"
Azzam melirik usil ke arahku. "Abang kira dia memberikan obat herbal racikannya untuk abang."
"Oh, Nisa tau berarti selama ini abang senang kalau mendapatkan perhatian dari Bu Lydia!"
Azzam terkikik.
"Ada yang cemburu nih ya?" goda Azzam.
"Nggak!" kataku mengelak.
Aku kembali sibuk memotong daging.
"Yakin? Kalau nggak kenapa mukanya masam begitu?" tanya Azzam menyelidik ke wajahku.
"Nggak, muka Nisa biasa aja." Aku mencoba menetralkan wajahku saat tahu Azzam membaca raut cemburu di wajahku.
Seketika tanganku turut teriris pisau karena Azzam terus saja mengusikku.
"Aww... " pekikku lirih.
"Huft... Huftt.. " Aku meniup jariku berkali-kali. Darah mengalir saat pisau telah berhasil memberi goresan kecil diujung jari telunjuk.
"Ya Allah sayang hati-hati," ucap Azzam khawatir.
Ia pun segera mengarahkan aku ke kran air untuk membasuh jariku yang sudah berlumur darah. Azzam mendudukkan ku di kursi makan. Aku lihat Azzam berlari cepat mengambil obat-obatan.
Azzam kembali dengan membawa kotak P3K. Membersihkan luka dengan antiseptik, setelahnya menempelkan plester luka ke jari yang terluka.
"Hm, Nisa jadi inget adegan romantis drakor-drakor yang penah Nisa nonton. Tapi kalau di drama Korea itu dikecup jarinya."
"Udah, kurangi-kurangi menonton film begitu, hampir setiap malam abang liat nontonnya drama korea trus. Itu bisa mendatangkan zina mata."
"Ya elah bang, cuman nonton doang. Habis sinetron ditelevisi kurang menarik bagi Nisa."
"Kurang menarik apa? Jangan liat menarik tidaknya. Tapi cari film atau sinetron yang bisa memberi pembelajaran. Contohnyaβ"
"Contohnya, film Ku Menangis kan?" Aku memotong ucapan Azzam dengan cepat. "Nisa tau itu tontonan abang setiap malam."
"Lho kenapa memangnya? Di sana abang belajar gimana sakitnya hati seorang wanita kalau disakiti, dikhianati. Jadi sebagai laki-laki harus berhati-hati jangan sampai menyakiti istri apalagi menduakan dia," jelas Azzam.
"Sayangnya tidak ada film yang mengangkat tentang suara hati suami," Azzam menyambung kalimatnya tadi.
"Kalau ada kenapa?"
"Kalau ada abang mau mengajukan diri untuk kisah abang diangkat dalam kisah itu." Azzam mendelik ke arahku, aku tau Azzam sedang menyindirku.
Aku merubah posisi duduk dengan sedikit menyerong. "Aku adalah laki-laki yang disakiti istriku ketika dia menjalin hubungan dengan laki-laki yang tak lain muridku sendiri. Bla.. Bla.. Bla.. DAN INILAH KISAHKU... begitukan? Trus nanti judulnya ISTRIKU, PACAR MURIDKU."
Mendengar kalimatku. Azzam tegelak puas.
"Nggak usah ketawa gitu. Abang tuh harusnya jangan nonton begituan trus. Cari referensi sinetron yang lain kek, yang buat hidup lebih berwarna dan bergairah. Jangan yang bawaannya mewek-mewek terus!" ucapku ketus.
Tawa Azzam terhenti seketika.
"Lho kenapa?"
"Takutnya malah bikin abang pengen mendua," balasku langsung.
"Naudzubillah, Nisa. Abang tidak terpikirlah untuk mendua."
"Beneran? Trus harapan abang untuk Bu Lydia tadi?"
"Ya Allah sayang. Itu abang hanya bercanda. Abang ingin tau istri abang cemburu atau tidak?"
"Ah, masak?"
Azzam mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Harus bagaimana lagi abang meyakinkanmu sayang?" bisik Azzam pelan. "Abang sangat menyayangi istri bang sendiri dan abang pun sudah berjanji dengan Allah dan dengan diri abang sendiri, kalau Azzam Alhusayn Zahidi tidak akan menyakiti hati wanita yang telah dipilih untuk dicintai seumur hidup."
"Trus bagaimana kalau suatu saat Nisa menjadi wanita yang cacat tidak berguna untuk abang. Apa abang akan pergi meninggalkan Nisa?"
"Hust!" Azzam meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirku. "Jangan pernah berbicara seperti itu sayang. Apapun yang terjadi, bagaimana pun keadaan Nisa. Abang akan tetap mendampingimu sayang."
"Abang adalah sumber kebahagiaan Nisa saat ini, setelah orang tua Nisa. Maka tanamkankan selalu kebahagiaan itu."
Perlahan aku mendekatkan ujung hidungku ke ujung hidung Azzam. Aku bisa merasakan setiap napas yang ia hembuskan. Kami hanya berharap semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan keberkahan untuk rumah tangga kami.
__ADS_1
***
skip