Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 93. Pilihan


__ADS_3

Semenjak kehamilan. Azzam semangkin mencurahkan segala perhatiannya. Rasa sayangnya dan cintanya semangkin bertambah, selalu ada kejutan-kejutan manis yang ia berikan kepadaku yang tengah mengandung buah hatinya karena kebahagiaan yang dicurahkan kepada seorang wanita yang sedang hamil, akan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan janin.


Nasehat-nasehat yang sering diberikan orang tuaku tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu diperhatikan ketika seorang istri sedang hamil aku laksanakan.


Tapi yang aku sadari saat ini, Azzam berubah menjadi laki-laki dengan tipe pencemburu dan lebih lagi dia sangat over protektif. Huft! Kadang-kadang aku hanya mencuri-curi waktu ketika Azzam tidak ada di rumah, aku membantu mertuaku membersihkan rumah, pekerjaan yang lihai aku lakukan ketimbang memasak di dapur.


Azzam senantiasa istiqomah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan sholawat serta surah Al Fatihah 41x sembari memegangi perutku, setiap selesai sholat. Segala doa-doa terbaik kami panjatkan untuk buah hati kami.


Seperti yang disarankan dokter untuk memperhatikan asupan gizi dan pola makanku. Tapi, Azzam yang lebih sigap mengingatkan aku, bahkan bila dilihatnya aku telat untuk makan. Ia bersedia mempersiapkan semuanya dan memaksaku untuk makan. Tak lupa, ia turut memberiku air zam-zam yang katanya ia dapatkan dari Kiyai Habullah, Kiyai di pondok pesantren Darusallam, tempat dimana Azzam mondok dulu. Kiyai Hasbullah kebetulan baru pulang selepas menjalankan ibadah umrah.


Semua perhatian yang tercurahkan, tidak lain dilakukannya demi mengharap ridho Allah agar dikaruniai putra putri yang cerdas, sholeh dan sholehah.


Suatu malam aku menghampiri Azzam yang baru saja usai mengkhatamkan Al-Qur'an.


"Sayang, kok sudah mengajinya. Padahal kita sangat menikmati lantunan ayat suci abi yang mendayu-dayu."


Azzam mengakhiri bacaannya, dan meletakkan mushafnya.


"Sudah, sayang sudah selesai. Nanti dilanjutkan kembali."


Usai meletakkan mushafnya. Azzam mengunci tatap matanya, menatapku sambil tersenyum merekah. Dia begitu manis dengan lesung pipi yang dipamerkannya. Wajah Azzam kian berseri memancarkan aura ketenangan. Aku yang memandangnya saja merasa sejuk dan syahdu.


"Sayang kemarilah, mendekat dengan abang."


Aku menggeser tubuhku mendekat ke sisinya. Ia mencerukan wajahnya ke dadaku. Entah kenapa aku merasakan ia begitu manja saat ini. Bukankah aku yang seharusnya bersikap demikian.


"Lho sayang, kenapa jadi manja begini sih"


"Memang kenapa? Abang hanya rindukan istri abang."


"Rindu? Bukannya kita setiap hari bertemu di rumah. Tidur berdua." Aku menggeleng-gelang. "Abang ini seperti beberapa hari saja tidak bertemu, bilang rindu" ledekku.


Azzam mengumbar senyum, melepas pecinya dan meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku mengusap rambutnya yang tebal dan hitam pekat bekali-kali.


"Abang sangat ingin selalu di dekat kalian berdua. Rasanya abang tidak bisa jauh-jauh." Azzam mencium tanganku, aku pun membalasnya. "Apa Nisa tidak meraskan seperti yang abang rasa?


"Hmm, sedikit."


"Sedikit? Kenapa sedikit? Yang abang tumpah ruah"


"Nggaklah, Nisa pun sama." Tanganku mengusap lembut pipinya. "Bang?" panggilku.


Azzam menyahut.


"Nisa, boleh minta satu?"


"Apapun yang Nisa minta selama abang mampu akan abang kabulkan. Mau apa, sayang?"


"Nisa hanya minta satu."


"Apa itu sayang?"


"Jangan pernah tinggalin, Nisa" ucapku lemah, dengan mata berkaca-kaca. Melihatku demikian Azzam bangun dari pangkuanku. Melihat dua manik mataku. Aku juga demikian.


Tak terasa air mataku mencelos jatuh, tanpa mampu di tahan.


Ia menggenggam tanganku dan menguncinya rapat. "Abang janji, tidak akan meninggalkan Nisa. Abang akan selalu berada di samping kalian dan mendampingi istri dan anak abang." Tangannya menghapus jejak air mataku.


"Terima kasih dan Nisa pegang janjimu, sayang."


"Iya sayang."


"Oh iya, abang ada kabar baik buat kita," lanjutnya.


"Kabar baik? Memangnya kabar baik apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Alhamdulillah Kiyai Hasbullah yang tak lain kerabat mengabarkan pada abang dan meminta abang untuk menjadi pemimpin pondok pesantren, milik almarhum Kiyai Hasyim, sayang. Tapi, sebenarnya abang ragu."


"Ragu kenapa, sayang?"


"Takut tak bisa melanjutkan amanah Hasbullah, meskipun almarhum telah mengamanahkan itu pada abang. Karena abang takut bila tidak sebaik Kiyai Hasyim dalam memimpin ponpes Mambaul Ulum."


"Sayang, aku yakin abang pasti bisa. Setidaknya abang bisa belajar kan dari Kiai Hasbullah, bisa sharing, tanya-tanya gitu. Abang jangan lepaskan kepercayaan yang telah diberikan almarhum pada abang. Dan juga bukannya ini sebuah rezeki bagi kita sayang," kataku meyakinkan.


"Iya ya. Harus abang bersyukur karena bisa jadi ini rezeki atas anak kita, yang dikirimkan Allah pada kita."


"Iya. Yang jelas abang harus optimis. Pesimis gitu ya. Nisa akan selalu mendukung dan mendoakan abang."


"Terima kasih sayang sudah mendukung semuanya."


***


Di meja ruang tamu, Ridho tengah mengesap kopinya yang baru saja di antar oleh Rara.


Rara baru saja keluar kembali dari kamarnya, usai bersiap-siap dan mengenakan seragam perawatnya. Ia akan berangkat ke rumah sakit Syifa.


"Mas, aku diminta untuk mengisi materi berkaitan dengan dunia kesehatan di salah satu sekolah di Tangerang Selatan hari Selasa. Itu atas permintaan Dokter Sandy yang memintaku untuk mengisi acara itu."


Ridho meletakkan masih menyusun berkas dan memasukkannya ke dalam map plastik berwarna kuning.


"Sekolah apa? SD? SMP? SMA?"


"Sekolah agama. Kalau nggak salah Dokter Sandy bilang Pondok Pesantren Mambaul Ulum."


"Oh pondok pesantren."


"Iya, Mas."


"Kamu berangkat dengan siapa ke sana?"


"Dengan siapanya sih belum tau. Mungkin aku akan mengajak Tania untuk menemaniku juga membantu keperluan dan segala materi yang kira-kira perlu dipersiapkan."


"Mas, libur diakhir pekan besok kita honeymoon lagi gimana? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua. Sekalian kita menjalankan program yang kita rencanakan bulan lalu. Bagaimanan, sayang?" ucap Rara antusias.


"Boleh juga. Nanti kita atur ulang ya." ucapnya dengan ekspresi datar.


"Mas, kok kamu kayak nggak semangat gitu jawabnya." ucap Rara bersedih.


"Nggak semangat apa sih sayang." Ridho mencubit dagu Rara. "Memangnya aku harus loncat dan jingkrak-jingkrak."


"Yah, nggak juga. Kamu ih berlebihan."


"Nah, makannya itu. Kalau kamu menginginkan itu, nanti kita atur ulang." Ridho menyelempangkan tasnya. "Mas, berangkat kerja dulu." Ridho berangkat dengan terburu-buru.


"Mas!" panggil Rara, membuat Ridho berhenti dan menolah.


"Ada yang lupa."


Ridho mengecek kelengkapan pakaian yang dikenakannya dan juga tas-tasnya.


"Nggak kok, semuanya ada. Ponsel, kunci motor."


"Salam dan sun nya kan belum"


Ridho menghela. "Ya ampun Ra, aku kira apaan"


Ridho mencium kening istrinya terlebih dahulu, dan Rara menikmati kecupan lembut suaminya itu. "Sudah, aku berangkat ya. Assalamu'alaikum"


"Iya. Wa'alaikumsalam. hati-hati di jalan ya, Mas."


Rara tersenyum sambil melihat punggung suaminya yang mulai mengilang. Setelah benar-benar tak terlihat baru pula ia siap-siap untuk berangkat bekerja di rumah sakit Syifa.

__ADS_1


***


Di ruang kerjanya, Ridho tengah memainkan ponselnya. Membuka sosial media facebook di sela jam istirahat kerja.


Tiba-tiba mendadak dada Ridho terasa panas. Hatinya bergemuruh. Tampangnya tampak begitu kesal melihat foto-foto yang si posting oleh Nisa sehari yang lalu. Tentang kejutan manis dari istrinya untuk Ustadz muda itu.


"Sial!" rutuk Ridho.


"Kenapa mereka terlihat malah semangkin mesra. Harusnya teror kiriman hadiah dan pesan-pesan mesra yang aku kirimkan rutin membuat hati Azzam panas. Tapi kok malah gini. Mereka malah tambah mesra," gerutu Ridho. Tak senang.


Ia merasa gelisah sambil menyandarkan tubuhnya di kelapa kursi. "Hal apa lagi yang harus aku lakukan. Dengan begitu tentu akan semangkin sulit memisahkan mereka. Dan sulit bagiku untuk mendapatkan Dhanisa."


KRIEKK...


Suara pintu berderit. Menandakan ada seseorang yang memasuki ruangannya.


Mata Ridho membulat saat mendapati Mama nya datang menemui dirinya.


"Ma, ngapain ke sini?"


Ibu Ridho menarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan meja Ridho.


"Mama ke sini tentu ada hal penting yang mau dibicarakan."


"Ha-hal penting apa?" Ridho terbata-bata.


"Kita sudah rundingkan semalam. Sekarang kamu, Mama beri opsi untuk kalian!" celetuk ibu Ridho langsung. "Kamu harus menceraikan Rara atau kamu menikah lagi!" tegas Ibu Ridho.


Ridho terkesiap. Perkataan ibunya di siang hari bagaikan ledakan yang mengalirkan larva panas. Dada Ridho sesak dan panas.


Sebelum membalas ucapan ibunya. Ia memastikan orang-orang di sekitar dulu. Takut akan ada yang mendengar permasalahan rumah tangganya.


Beruntung orang-orang sedang keluar untuk santap siang. Hingga hanya ada dirinya dan satu staf lain di ruangan kemahasiswaan ini.


"Ma, kenapa mesti dibicarakan di sini. Kenapa nggak di rumah. Kalau di dengar orang bagaimana?" bisik Ridho.


"Biarin. Kamu, selalu mengelak kalau ibu suruh ke rumah. Ada saja alasan nggak jelas kamu itu," ketus Ibu Ridho.


"Ma, plis Mama nggak usah ikut campur masalah keluarga kami. Ridho bisa urus sendiri masalah kami. Dan Mama nggak perlu memberi opsi itu!"


"Tentu harus dong. Dari dulu kamu tau kan. Mama nggak suka kamu menikah dengan wanita itu. Mama benci wanita itu. Tapi kamu keras kepala Ridho. Kamu anak satu-satunya kami, dan Mama mengharapkan kamu menikah cepat supaya kamu cepat memberi keturunan pada Papa dan Mama. Dan jauh hari Mama sudah menyiapkan Kaleya sebagai calonmu. Tapi apa? Kamu menolaknya kan? Dan memilih untuk menikahi wanita nggak berguna itu," jelas Mama Ridho.


Di ruang kerjanya, Ridho tengah memainkan ponselnya. Membuka sosial media facebook di sela jam istirahat kerja.


Tiba-tiba mendadak dada Ridho terasa panas. Hatinya bergemuruh. Tampangnya tampak begitu kesal melihat foto-foto yang si posting oleh Azzam. Tentang kejutan manis dari sang istri.


"Sial!" rutuk Ridho.


"Apa maksud laki-laki ini, dia ingin menunjukkan bahwa semalam dia baru saja mencadat kejutan dari istrinya!" geram Ridho.


Kamu harus menceraikan Rara atau kamu menikah lagi!


Kalimat itu terus terngiang di telinga Ridho. Ia mengepalkan tangan dan tanpa disadari sebuah teriakan keluar dari bibir Ridho. Membuat Juno menoleh menatap rekan kerjanya.


Kebetulan Juno baru saja menyelesaikan makannya. Ia menghampiri Ridho.


"Kenapa kamu, Ridho. Apa ada masalah?" Juno membaca raut wajah Ridho.


Ridho tak menjawab. Ia malah membenamkan kepalanya di atas tangan yang bertumpuk di atas maja.


Juno mendaratkan tangan kanannya, menepuk pelan bahu Ridho.


"Tidak apa kalau kau tidak mau cerita. Kau bisa cerita kepada Allah. Tentu akan lebih privasi. Ayo kita sholat dzuhur. Kamu bisa curhat di sana, dan aku yakin kau akan lebih tenang."


Ridho masih belum bereaksi untuk mengangkat kepalanya. Sementara Juno tak ingin terlalu mengusik Ridho ia keluar lebih dulu menuju masjid yang ada di kampus.

__ADS_1


***


__ADS_2