
Selama perjalanan pulang tidak ada yang dibicarakan. Fey fokus mengendarai motor, matanya tak leka menatap jalanan di depan yang ramai dan padat. Beberapa yang berpapasan dengan mereka adalah anak muda yang seumuran. Malam minggu seperti menjadi malam sakral bagi anak muda untuk bergerayangan keluar. Sekedar reuni, hangout, atau kencan dan lain sebagainya.
Requeensha mengigit bibirnya, ia mencoba menahan nalurinya untuk tidak mengajak Fey berbicara. Tapi semangkin di tahan semangkin gatal lidahnya untuk berujar.
"Fey! " panggil Requeensha dengan memegangi jaket Fey dengan erat.
Fey tidak menyahutinya.
"Fey!" panggilnya sekali lagi dengan lebih keras.
"Apa sih, Sha?" sahut Fey dengan nada malas.
Requeensha mendekatkan kepalanya ke bahu Fey dan bertanya dengan takut-takut. "Fey, yang tadi itu kamu beneran marah dengan Nisa, dan ngebela aku?"
"Nggak. Aku nggak pernah marah dengan Nisa," balas Fey langsung. Bahkan Fey merasa menyesal karena telah meneriaki Nisa tadi.
"Terus tadi?" Requeensha menaikkan alisnya.
Fey membuang napas berat. "Plis. Aku males bahas itu." Ia menarik tuas gas motor dalam-dalam hingga membuat kecepatan bertambah. Requeensha terkejut, tubuhnya terdorong ke belakang. Dia semangkin erat meremas jaket Fey karena takut terjatuh.
Sepanjang perjalanan Fey tidak berhenti bermain-main dengan pikirannya sendiri. Ia menyesal kenapa bisa gegabah dan bertindak bodoh seperti tadi. Tangan kiri Fey mengepal hebat. Sementara tangan kanannya masih menahan tuas gas, supaya laju motor tetap stabil.
Ia menghentikan motor ketika lampu merah di perempatan jalan menyala. Angka 60 detik menyala mundur dan baginya itu terasa lama. Kepalan tangannya tadi memukul pelan bagian atas kepala motor. Kondisinya saat ini memang sedang tidak baik. Pikirannya sedang kacau.
Requeensha masih menatal kaca spion dari belakang demi melihat wajah Fey. Dia seperti masih murung, wajahnya muram, tatapannya menajam. Requeensha menghentikan aksinya ketika Sadam dan Jovan, bersuara dari belakang.
"Sha, Fey kita nggak ikut ya buat ngawal kalian pulang. Kita masih mau mejeng malam minggu." Sadam menyengih.
Fey tidak menyahut tapi ia dengar sapaan dua orang itu. Mulutnya benar-benar terkunci dia malas mengeluarkan satu kata pun.
"Kalian mau mejeng berdua?" Requeensha mengangkat sebelah alisnya. "Sadar kalian berdua cowok sama-sama cowok." Requeensha bersuara. Ia menatap dua laki-laki itu bergidik dan menggeleng-ngeleng.
Sadam menolah 90 derajat ke samping. "Jo, memangnya kita jeruk makan jeruk?"
Jovan yang duduk membonceng di belakang memukul pundak Sadam. "Gila! Masih waras kali."
"Kita masih waras Sha!" pekik Jo di tengah ramainya kendaraan yang menunggu jatah lampu merah.
"Yaudah terserah kalian," Requeensha pasrah, rasanya tidak penting malanjutkan obrolan dengan mereka.
Lampu sudah berubah hijau, beberapa motor yang berbaris di depan seperti sedang memulai aksi balapnya dari garis finish.
Perjalanan mengantar perempuan ini seperti begitu lama. Fey merasa tubuhnya sudah lelah, se-lelah pikirannya yang kalut.
Kenapa aku harus mau ikut keinginan dia, tapi kalau bukan karena desakan itu, aku ogah! Fey bergidik dan berdecak geram. Matanya menatap kaca spion sebelah kiri, bukan ingin melihat wajahnya tapi ia mau melihat Requeensha di belakang.
Lima belas menit kemudian, motor sudah masuk ke pekarangan rumah Requeensha. Dia turun dari motor sebelum diperintah. Nyala mesin motor dimatikan. Beberapa detik setelahnya Fey ikut turun dari motor. Mengembalikan helm yang sudah dipinjam dan mengaitkan helm itu di belakang motor kepunyaan Requeensha.
Fey menatap perempuan di sebelahnya sebentar. Setelah itu matanya melihat sekitar rumah. Sangat gelap, hanya lampu di depan jalan raya yang menyala hingga sedikit menambah pencahayaan. Mata Fey menyorot bagian lain dari kediaman Requeensha. Sebuah rumah kecil tapi minimalis dengan cat abu-abu, tapi tampak tidak ada penerangan di dalamnya.
Rumah yang seharus tampak bagus menjadi terlihat seram karena tidak ada lampu yang menyala. Baik itu lampu teras ataupun lampu yang ada di dalam rumah.
Mata Fey mengedar ke sisi halaman. Tidak ada tanaman di sini. Dedaunan pun banyak berserak. Fey makin bergidik. Bisa-bisanya dia betah untuk tidak membersihkan halaman rumahnya yang kotor.
Requeensha sedari tadi ikut mengawasi gerak mata Fey. Ia mengikuti setiap arah mata Fey menatap.
"Kamu kenapa?"
"Rumah kamu horor banget." Fey menoleh sebentar, lalu balik melihat rumah Requeensha.
Requeensha mengangkat bahunya. "Nggak biasa aja. Horor dari mananya?"
"Lampu rumah kamu nggak ada yang nyala. Kemana orang rumah?"
"Ada." jawab Requeensha ringkas.
"Ada, kok kayak nggak ada."
Requeensha tersenyum miring. "Ya gitu deh. Seperti yang kamu bilang. Di rumah ini ada orang tapi seperti nggak ada orang"
Dahi Fey berkerut. Mencoba mencerna kalimat yang diujarkan Requeensha.
"Orang tua kamu adakan?" Tidak tahu kenapa Fey penasaran, padahal niatnya tadi cuman ingin mengantar Requeen setelah itu pulang cepat. Ia tidak ingin berurusan lama-lama dengan perempuan ini. Tapi melihat situasi rumah Requeensha, menarik perhatian Fey untuk bertanya.
"Ada. Ada kok" Requeensha menggoyang-goyangkan kakinya memainkan kerikil di halaman rumah.
Fey menilik-nilik sekitar mencari orang lain yang menghuni rumah ini.
"Tapi di sini nggak ada tanda-tanda ada orang. Kecuali kamu."
"Aku sebenarnya tinggal dengan Papa aku."
"Mama kamu?"
"Mama aku sibuk selingkuh dengan pasangan barunya."
Fey terkejut ketika kalimat itu mengalir dengan mudah dari mulut Requeensha.
Fey mendehem mencoba melegakan sedikit tenggorokannya yang terasa kering.
Tanpa menyahut lagi. Requeensha tiba-tiba melongos masuk menuju rumahnya yang menggulita.
"Sha, mau kemana? Kunci motor kamu masih sama aku?" pekik Fey.
__ADS_1
Requeensha tidak peduli. Dia tetap berjalan lurus dan membuka pintu rumah. Fey ragu harus mengikuti perempuan itu atau tidak. Tapi dia takut-takut dengan Requeensha. Takut kalau Requeensha itu bukan wanita baik-baik.
Fey melangkah pelan. Rumah yang tadi dilihatnya gelap sekarang sudah terang di setiap sisinya. Ia yakin Requeensha yang berada di dalam sudah menyalakan saklar lampu rumahnya.
Tidak berselang lama, sebuah motor menyeringai masuk ke halaman rumah Requeensha. Laki-laki itu turun dari motor. Tubuhnya tinggi, tegap dan postur tubuh sedikit kurus dan sorot mata yang dimiliki tajam. Seram. Raut Wajahnya semangkin telihat garang dan seram karena kumis lebatnya.
"Om." Fey menegur dengan suara bergetar. Setelah itu, ia menunduk takut manatap sorot si pemilik mata.
Laki-laki bahkan mengabaikan sapaan Fey. Tidak disangka pria itu sangat cuek. Mukanya pun, menampakkan muka tak bersahabat.
"SIAPA LAGI YANG KAMU BAWA!" suara berisik dari dalam rumah Requeensha berhasil di tangkap gendang telinga Fey.
"Pah, aku cuman jalan biasa aja dengan dia!" nada suara itu seperti suara Requeensha.
Fey mencoba melangkah lebih dekat lagi dari garasi rumah. Hingga langkahnya berhenti ketika dia berdiri di depan teras. Ia mencoba sedikit menguping perdebatan mereka.
"APA SIH MAU KAMU?!" kedengaran suara pekik laki-laki itu dengan nada meninggi.
"Aku cuman mau Papa sama Mama kayak dulu lagi! Aku keluar cuma mau cari suasana tenang! Di rumah, Requeen capek liat Papa namparin Mama terus!"
Suara Requeensha seperti terisak.
"ALAH! ALASAN KAMU! MAMA KAMU ITU NGGAK TAU DIRI! PEREMPUAN MURAHAN!" sahut laki-laki itu balik.
Fey tersentak. Laki-laki tadi Papa Requeensha? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini? Fey bertanya-tanya, bingung.
Pikiran membawa ingatannya pada apa yang dikatakan Requeensha ketika di parkiran RESTO tadi. Apa selama ini Requeensha bertahan hidup di tengah-tengah keluarga yang broken home. Fey bahkan berpikir sikap Requeensha begitu adalah imbas dari kehidupan keluarganya yang rusak.
Selama beberapa menit, hening. Tidak ada lagi percakapan anak dan ayah itu.
"Nih, minum!"
"Astagfirullah!" ucap Fey beristigfar. Kemunculan Requeensha tiba-tiba membuatnya meloncat kaget. Ia bahkan melempar kunci motor Requeensha cukup jauh dari tubuhnya.
Fey menyengih dan berbalik mencari kunci motor yang terlempar. Beruntung kunci itu terlempar masih ke area teras rumah. Tidak tahu bagaimana ceritanya kalau kunci motor itu tenggelam di antara rapatnya daun yang tertumpuk di samping kiri rumah.
Fey mendekat lagi ke Requeensha. Ia melihat sorot mata sendu, dan wajahnya muram.
"Kamu hauskan? Nih minum!" tawar Requeensha, tanpa ekspresi.
Air mineral di dalam gelas bening sedikit berombak kecil. Requeensha memegang gelas itu dengan gemetar.
"Kamu kenapa, Sha?"
"Nggak, apa-apa!" singkatnya.
Ia masih belum menyambut gelas itu dari tangan Requeensha.
Fey menggaruk keningnya. Dia tahu saja apa yang Fey pikirkan. Tangannya dengan pelan meraup gelas yang digenggam Requeensha.
"Makasih." Fey meneguknya dengan pelan. Tidak sampai setengah Fey mengembalikan gelas itu lagi.
"Ini kunci motor kamu! Aku pulang dulu!"
Langkahnya dipercepat menjauh dari rumah Requeensha. Ketika sudah jauh dan berdiri di pinggir jalan raya. Matanya balik mengekor ke rumah Requeensha. Dia sudah menghilang. Pintu sudah ditutup.
"Angkot dek!" suara kernek mobil menawarkan membuat Fey berhenti menoleh.
"Iya, bang." Fey naik ke dalam mobil, hingga mobil itu membawanya menjauhi kediaman perempuan yang baru diantar.
***
Azzam meraih kursi dan berpindah posisi duduk di sampingku. Ia merogoh sesuatu dari saku celananya, kemudian meraih tangan mungilku.
"Ini untuk Nisa."
Ia meletakkan sebuah benda berbentuk kotak kecil, berwarna peach. Sebuah warna kesukaanku. Aku mengernyitkan kening. Ketika benda pemberian Azzam sudah mendarat dan berpindah ke tanganku.
"Hadiah untuk istri abang, barakallah fii umrik," ujar Azzam kemudian mengecup singkat keningku.
Aku ternganga beberapa detik, mencoba mencerna kejadian di mana Azzam mengecup singkat keningku.
"Bang"
"Iya, kenapa?" Azzam menatapku.
"Ulang tahun Nisa kan udah lewat dua minggu lalu."
"Iya abang tau. Abang telat memberikan hadiahnya. Tapi tidak masalahkan?"
Mataku kembali beralih menatap kotak berbalut warna peach yang ada digenggaman tangan. "Apa ini?" Aku menatap Azzam. Wajahnya tampak tenang.
"Bukalah," pintanya dengan menggeser posisi kursi mendekat ke sampingku.
Sesuai perintahnya. Aku membuka kotak mini itu, terdapat secarik kertas yang sudah dilipat kecil. Aku mengambil dan membuka lipatan kertas dari dalam kotak. Kertas itu berisikan tulisan tangan Azzam. Kalimatnya ditulis dengan model huruf tegak bersambung.
Untuk istriku.
Dhanisa.
Sebelumnya abang minta maaf karena baru bisa memberikan hadiah ini. Abang hanya mencari momen yang tepat dan romantis. Kalau Nisa tahu abang selalu ingat hari lahir adik sepupu abang, yang sekarang sudah sah menjadi istri.
Abang tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih. Mungkin benda kecil ini akan menjadi kenangan bagi Nisa, bahwa abang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidup Nisa.
__ADS_1
Karena abang tidak bisa jamin akan selalu di samping Nisa, menjaga Nisa. Tapi yakinlah bahwa Allah selalu menjaga dan bersama Nisa.
Salam cinta, dari suamimu
Azzam
Sepersekian detik, mataku langsung berkaca-kaca. Dengan tangan gemetar aku melipat kertas itu kembali.
Aku mengangkat wajah dengan berat. Tatapanku jatuh ke wajah Azzam dengan teduh. Tatapan Azzam memang penuh cinta.
"Abang kenapa menulis kalimat begini?"
Buliran bening yang sudah menumpuk di sudut mata, akhirnya lolos juga. Tangan Azzam mendarat di wajahku. Dengan sangat hati-hati jari-jari mengusap wajahku. Kedua bola mata bening Azzam menatap dengan jarak yang begitu dekat.
"Karena abang tidak bisa janji untuk bisa selalu menjaga Nisa selamanya."
"Abang mau ninggalin Nisa? Setelah ayah dan ibu juga ninggalin Nisa sendiri?" Aku bertanya dengan pelan dan nada suara bergetar. Kedua mata kami terkunci beberapa detik.
Azzam mencium keningku, dan kini aku berada di dalam dekapan tubuh pria rupawan ini.
"Abang, tidak akan meninggalkan Nisa," ucapnya berusaha menenangkan aku. Ia mengusap punggung, kemudian naik ke kepala.
Kami berpelukan dan bersikap saling pengertian satu sama lain seakan aku telah memerima Azzam sebagai bagian dari hidupku. Aku sendiri masih bingung mengartikan perasaan ini. Apakah ini rasa suka dan simpatiku dari seorang adik terhadap abangnya? Atau perasaan suka dan cinta sebenarnya untuk dia.
Perlahan aku melepaskan pelukan. Menatapnya sebentar dan meraih kembali kotak kecil itu. Setelah membuka dan membaca surat yang tertera di dalamnya. Aku mendapati sebuah kalung yang sangat indah di sana.
Azzam memasangkan kalung itu di leherku yang tertutup hijab. Sebuah kalung emas putih. Sungguh menawan. Apalagi saat tersorot cahaya lampu kemilaunya semangkin terpancar, membuat kalung itu semakin menawan.
Azzam menjelaskan arti kalung liontin itu. Aku bagaikan bulan dan dia bagaikan bintang. Dua simbol benda langit ciptaan Allah itu melambangkan bahwa mereka sama-sama saling menerangi satu sama lain.
Azzam berharap kehidupan rumah tangga kami berdua, akan selalu diisi oleh cahaya cinta dari Allah.
Air mataku belum berhenti, aku kembali menangis terharu. Azzam benar-benar sukses mengobrak-abrik perasaanku kali ini. Aku semangkin yakin dengan ketulusan Azzam.
"Terima kasih." Hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan dan ketulusannya dengan cara apa.
Aku masih meraba permukaan liontin yang mengalung di leherku.
"Malam ini, kita pergi ke suatu tempat mau?" ajak Azzam dengan tatapan teduhnya.
"Kemana?"
"Ada. Semoga Nisa suka. Mau?" tanyanya, memastikan lagi.
Aku mengangguk, tanda mengiyakan ajakan Azzam untuk ikut bersamanya.
Azzam ikut tersenyum bahagia. Idenya untuk mengajakku tanpa harus membuat aku cemberut dan beradu mulut, cukup membuat Azzam bernapas lega sekaligus bersemangat.
"Nisa tunggu abang di depan pintu masuk, ya? Nanti abang menyusul."
Tanpa aku mengiyakan perintahnya, dia sudah beringsut dari duduk dan mengarah ke kasir untuk membayar makan yang sudah dipesan.
Aku meraih tasku dan berjalan menuju ambang pintu masuk RESTO. Langkah tiba-tiba berhenti ketika aku melihat keluarga inti sedang makan bersama, di sudut meja sebelah barat. Seorang ayah, ibu, dan anak yang berusia kira-kira sepuluh tahunan. Ibunya tampak begitu bersemangat menyuapi putri kecil mereka yang tampak enggan untuk makan. Aku tersenyum. Otakku membuat ilusi bagaimana jika aku yang berada diposisi anak perempuan itu. Sungguh bahagia pastinya.
"Ayo!" Azzam merangkul tanganku. Mataku mengerjap kaget. Aku berhenti memandangi keluarga itu, lalu menoleh ke arah Azzam.
"Iya," sahutku pelan seraya menatap Azzam. Kami berdua kemudian berjalan beriringan keluar dari RESTO.
"Om! Om!"
Aku menoleh ke samping, melihat bocah laki-laki sedang menarik-narik tangan Azzam.
"Om uangnya jatuh!" Tangan mungil itu memberikan selebaran uang lima puluh ribu rupiah.
"Terima kasih ya sayang," kata Azzam, kemudian menjongkok, dan menarik gemas pipi tembem bocak laki-laki itu. "Tapi nggak apa-apa, ini buat kamu!"
"Nggak usah Om, kata Bunda kita nggak boleh ambil yang bukan milik kita," ujar bocah kecil itu dengan polos dan lugu. "Atau kasih aja sama anak Om."
Azzam yang masih berjongkok, mendongakkan kepalanya menatap ke arahku. Aku membalas tatapan itu dengan senyum. Sedetik kemudian kami menoleh dan mentap lagi ke anak laki-laki yang berdiri menghampiri kami berdua.
"Om, belum punya anak sayang," balas Azzam dengan ramah dan lembut. "Nama kamu siapa ganteng?"
"Adam, Om"
Azzam menarik sudut bibirnya dan tersenyum. "Nanti Adam bilang sama Bunda, ini uangnya di kasih sama Om. Om, ikhlas."
Anak itu mengangguk tanpa ekspresi.
"Om sama tante namanya siapa?" Anak laki-laki itu benar-benar punya keberanian yang luar biasa untuk akrab.
Azzam menunjuk dirinya. "Nama Om Azzam. Dan di sebelah Om namanya Nisa."
"Terima kasih ya Om Azzam dan Tante Nisa. Adam balik dulu," pamit bocak laki-laki bernama Adam sambil berlari mendekat ke ibunya lagi. Samar-samar aku mendengar anak itu berlari sambil berteriak, "Bunda Adam dikasih duit."
Azzam tersenyum, lalu kembali berdiri setelah melihat bocah itu masuk ke dalam RESTO, menghampiri ibunya dan lanjut ke area parkiran.
***
SKIP
___
Sebelumnya author ucapin terima kasih sudah mampir. jangan pernah bosan buat ngikutin setiap episodenya ya. Di tunggu vote dan like-nya. Semoga ceritanya bisa dimuat sampe selesai.
__ADS_1