
Hati dan otak adalah dua piranti kehidupan yang kita peroleh, dimana hati adalah piranti utama untuk kehidupan yang utuh dan berarti.
Azzam tiba-tiba berwajah masam dan melepas pegangan tanganku. Aku Mengajak Azzam untuk menepi dari keramaian.
Kita berdua bergerak ke tepian danau.
"Abang kenapa sih, cemburu?" kataku, menatap wajahnya yang kecut.
Azzam tidak menjawab, ia menyandarkan tubuhnya ke pohon yang tumbuh di pinggiran danau, dengan dua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Ya udah deh, kalau abang nggak suka. Gelang pemberian Fey, Nisa buang. Tapi abang nggak usah masam gitu mukanya," kataku membujuknya. Kemudian, menangkupkan tanganku ke pipi Azzam. "Tapi janji setelah ini abang senyum, ya!" kataku dengan melempar senyum untuknya.
Azzam balik memegang kedua tanganku, yang tadi memegang kedua pipinya.
"Abang, tidak cemburu. Hanya abang takut kalau Nisa trus mengenakan gelang itu, Nisa akan teringat kembali dengan kisah lama kalian," jelas Azzam dengan wajah datar.
Tangan Azzam, aku raih dan mengecupnya.
"Bang! Abang jangan takut Nisa akan berpaling dari cinta Nisa untuk abang. Fey hanya masa lalu. Dan masa depan Nisa adalah suami Nisa saat ini. Nisa hanya fokus untuk satu laki-laki yang sedang berdiri bersamaku saat ini." Aku mencoba meyakinkannya.
Azzam masih dingin.
Aku menghela napas pelan. Melepaskan gelang pemberian Fey. "Kalau abang nggak percaya. Ini ya... "
Aku mulai siap mengayun tanganku ke atas, ingin melempar gelang pemberian Fey ke danau yang airnya tampak begitu tenang.
Hap ... Tiba-tiba tanganku tertahan saat ingin melempar gelang yang berada di genggamanku.
"Jangan!" ucapnya. Netraku mengekor pada tangan besar yang memegang pergelangan tanganku.
"Kasihan Fey, dia akan kecewa jika tau Nisa melakukan itu. Sebaiknya gelang itu Nisa simpan saja." Mendengar permintaan Azzam, aku mengurungkan niatku kembali.
Aku menarik sudut bibirku. "Kalau begitu senyum dong, sayang!"
Aku menarik pipi Azzam, membuatnya memaksa tersenyum. Tapi Azzam malah membalas balik menarik pipiku pula.
"Iha, kok Nisa kena juga sih!" protesku.
"Habis, istriku sungguh menggemaskan," goda Azzam.
"Ha-ha." Kami tertawa bersamaan.
Kami berdua kembali naik ke atas duduk di tengah taman dengan hamparan padang bunga yang luas.
Pemandangan bunga-bunga indah dengan berbagai warna dan rupa membuat mata begitu segar memandangnya. Kami berdua sungguh menikmati pemandangan ini.
Azzam mendekap erat tubuhku. Suara kicauan burung, gemerisik dedaunan dan ranting-ranting ditemani desiran angin yang menerpa menambah suasana romantisa sore ini.
Hmm... Azzam selalu bisa membuat aku tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak. Saat mengajakku berbual. Ada-ada saja cerita Azzam yang dibuat untuk menarik premis kekonyolan yang bisa membuat aku tertawa terkial-kial.
Aku betah menyandarkan kepalaku di pundaknya.
"Sayang, kita saling bertukar ungkapan bagaimana? Abang punya dua buah kertas. Kita tulis masing-masing di sini," tanya Azzam, dengan mengangsurkan dua kertas yang mirip origami, tampaknya ia memang mempersiapkan itu.
Kepala aku angkat, usai menerima kertas berwarna merah hati itu. "Nulis di sini nih?"
"Iya. Kita tulis ungkapan kita masing-masih di sini."
"Terus? Kalau kertas ini sudah sama-sama kita isi?" tanyaku.
"Kita saling bertukar kertas," balas Azzam.
"Yah, berarti nanti abang tau dong ungkapan apa yang nanti Nisa tulis."
"Iya, pasti. Abang harap kita sama-sama menulis apa yang ada di dalam hati, semua ungkapkan di dalam kertas kecil ini," jelas Azzam, setelahnya memberikanku satu bulpoin berwarna hitam.
Kami mulai duduk membelakangi satu sama lain.
Apa yang harus aku tulis? pikirku.
Aku sedikit menoleh ke belakang. Azzam begitu santai mengeluarkan kata-kata hatinya. Tapi aku sedang merangkai kata apa yang pas untuk aku menyampaikan semuanya. Aku sangat tidak pandai mengarang. Haha, karena aku memang bukan pujangga yang pandai membuat larik indah seperti indahnya kata-kata Zainuddin untuk Hayati dalam mahakarya penulis legendaris Buya Hamka.
Beberapa menit kemudian.
"Gimana sudah?" tanya Azzam, setelah melipat kertasnya.
Aku menoleh. "Sudah. Tapi tunggu dulu di bawahnya kita beri tagar!"
__ADS_1
"Tagar apa?"
"Tagarnya 'Rasa Hati' "jawabku.
"Oh oke kalau begitu."
"Oke Nisa sudah," gumamku. "Kita tukaran ya?"
Aku menerima kertas yang diterima Azzam, begitupun sebaliknya Azzam menggambil kertas yang aku berikan untuknya.
"Sekarang abang minta, Nisa lisankan kalimat yang abang tulis itu!" titah Azzam.
Aku menghela napas panjang lebih dahulu, melegakan perasaanku. Sungguh hatiku penasaran tentang apa yang dirangkainya.
Bagi sang pencuri hatiku,
Wanita kesayanganku...
Huftt... Awalnya saja sudah membuat hatiku bergetar.
Hari-hari tlah aku terima dengan sangat baik. Saat aku bisa mengisi hari bersamamu. Sungguh aku sangat bahagia berada di sampingmu, mengenalmu... Kekasih hati.
Saat malam-malamku terasa sunyi dan sepi. Engkau hadir sebagai cahaya dalam hidupku, memberiku satu kehidupan berharga. Hingga saat ini aku bisa merasakan setapak jalan menuju sebuah keindahan cinta.
Tahukah engkau sayangku, getaran-getaran cinta ini sungguh menyiksaku ketika aku takut saat dirimu tidak akan membelas perasaanku. Sungguh aku merasa resah memikirkan dirimu dan rasaku. Tapi Allah selalu punya cara untuk melahirkan segalanya karena ia Maha cinta. Dulu jika aku menganggap cinta yang hadir untukmu itu salah. Namun, orang mengatakan cinta tidak pernah salah. Cinta adalah anugrah Allah swt yang diberikan kepada hambanya.
*Sayang, percayalah cinta karena Allah adalah cinta yang sebenarnya cinta. Aku memberikan itu untukmu. Layaknya ketika Zulaikha mengejar cinta nabi Yusuf yang terus menjauhinya. Tapi saat Zulaikha mengejar cinta Allah maka Allah datangkan Yusuf untuknya.
Sungguh aku hanya mencoba melakukan itu disetiap doa-doaku selama ini, sayangku. Bibirku tiada henti melafadzkan bahwa aku yakini Allah akan menuntunmu untuk menyadari cinta ini. Tiada terkira Allah turut menghadiahiku cinta itu darimu, sayang*.
Dengan secarik kertas yang kini telah aku ukir untukmu kekasih hati bahwa inilah ungkapanku sesungguhnya yang aku hadiahi.
Salam sayangku, wanitaku. #rasahati
"Bang!" panggilku lirih.
"Iya, sayang."
Azzam menatapku.
"Itu karena ditulis dari hati," balas Azzam. "Kalau begitu, sekarang giliran abang ya yang membacakan tulisan Nisa."
"Iya. Tapi Nisa minta maaf kalau kalimat Nisa tak seindah ungkapan cinta abang untuk Nisa."
Azzam tersenyum tipis. "Bukan itu yang abang liat tapi tentang apa ungkapan Nisa yang diperuntukkan untuk diri abang."
Ia membuka lipatan kertas. Huft, rasanya ingin aku tutup telingaku rapat-rapat. Aku malu saat hasil tulisanku dibacanya. Karena aku tidak se-pede Azzam dalam mengungkapkan perasaan.
Wahai pencuri hati,
Lelaki yang sengaja Allah kirimkan untukku.
Pendamping perjalanan hidupku, sekaligus pemilih hati.
Ketika aku tidak mengenal bagaimana memperlakukan cinta sebagaimana mestinya, kau hadir sebagai hamba Allah yang mengenalkan cinta yang sempurna. Kau tunjukkan padaku bagaimana memperjuangkan cinta, perasaan yang tiada karam engkau hadirkan.
Aku kadang terpaku pada perasaanku sendiri. Aku binggung, seperti orang yang tersesat tidak tahu arah kemana perjalanan hidup sesungguhnya aku labuhkan. Aku buta. Buta pada perasaan sendiri. Sampai Allah membuka mataku, dengan mengirimkan engkau kekasihku...sebagai kompas, petunjuk arah dimana aku dapat melabuhkan hati ini. Kau datang memberi pengajaran, model dan contoh bagaimana berjuang untuk suatu yang patut diperjuangkan.
Engkau selalu meyakinkan aku bahwa menerima suatu karena Allah adalah satu cara kita untuk ikhlas dalam menerima suatu. kau tunjukkan bagaimana makrifat cinta itu.
Surgaku, kau telah memainkan peran di dalam kehidupanku. Tak pernah lelah dirimu kucurkan kebahagiaan-kebahagiaan yang selama ini engkau hadirkan, meski kau tahu bahwa aku bukan wanita yang selalu dapat membalas kebahagian itu.
Andai dirimu tahu sesungguhnya kau sangat lihai mengambil alih hatiku dengan perhatian yang tulus kau berikan telah mampu melunakkan kerasnya hatiku untuk menerimamu dalam hidupku. Sungguh hadirmu, membuka matamu tentang arti berjuang dan ikhlas. Itulah yang kau tunjukkan dan ajarkan selama ini.
Wahai imamku, surgaku. Hanya ungkapan ini yang mampu aku sampaikan dari apa yang ingin diutarakan dari hatiku. Sepenuhnya. Ini sepenuhnya untukmu, sayang.
Tanda sayang dan cinta dari dari seseorang yang telah engkau ajarkan tentang cinta. #rasahati.
Azzam menutup lembar kertas itu. Melipatnya menjadi dua bagian seperti semula.
Aku bisa melihat bola mata Azzam yang berkaca-kaca, tatapan cinta juga tidak pudar dari matanya.
"Terima kasih," ucapnya lirih dan hanya kata itu yang terlontar usai dirinya menyelesaikan kalimat yang tertulis di secarik kertas berwarna merah hati.
Tanpa ia sadari air matanya menetes. Aku yang lebih dulu melihat buliran air mata itu langsung mengusapnya.
"Terima kasih juga untuk semuanya," kataku lirih. "Kehadiran abang mempunyai arti besar dalam hidupku."
__ADS_1
Lembut sekali aku mengelus pipi Azzam. Azzam nampak tak kuasa lagi membendung rasa yang teramat dalam. Ia memegang tanganku dan langsung membawa tubuhku dalam pelukannya.
Aku mengangkat wajah dari dada Azzam. "Seperti ungkapan itu Nisa tidak akan melihat laki-laki lain kecuali setia pada suamiku saat ini," kataku.
"Really?"
"Yes" jawabku.
Azzam mengecup keningku. Perasaan kami tercurah bersama petang yang mulai merangkak.
***
Laki-laki yang bersama Fikri waktu di rumah sakit itu berhasil menendang laki-laki yang memakai topeng dari belakang. Orang itu jatuh tersungkur. Ia menghajarnya, menendang dan memukuli orang itu. Pengunjung sekitar bersama polisi yang baru tiba langsung menyeret tubuh yang sudah babak belur itu.
Laki-laki tadi berlari terengah-engah menghampiri Sarah dan tubuh Fikri yang terkulai lemah. Wanita itu masih menangis di sebelahnya. Tubuh Fikri semangkin banyak mengeluarkan darah di pangkuan Sarah. Pisau belati bergerigi dengan ukuran 25 cm dan tajam baru saja usai menancap di dada sebelah kiri Fikri. Tidak tahu bagaimana nasibnya apakah pisau itu telah benar-benar mengenai dada Fikri atau tidak.
"Oh Tuhan, Fikri. Bangun Fik!" ucap pria yang tak lain adalah teman Fikri.
Sarah melihat laki-laki yang tentu ia kenali wajahnya. Hanya dia tidak tahu siapa nama pria itu. Sarah menatap laki-laki yang mengenakan setelan serba hitam begitu pula dengan jaket yang melekat di tubuhnya.
"Kamu bukannya teman Fikri yang kemarin?"
"Iya betul. Aku Angga, teman Fikri," sahutnya dengan napas masih setengah habis.
Sarah balik melihat tubuh Fikri. "Sekarang kita harus bawa Fikri secepatnya ke rumah sakit terdekat sebelum kehabisan darah."
"Iya," Angga menatap sekitar. "Tolong, bantu saya untuk mencari mobil bantuan!" pinta Angga pada orang-orang yang berdiri di sekitar.
"Sudah. Mobil sudah kita dapatkan sekarang cepat angkat tubuh pria itu! " perintah salah satu orang di sekitar TKP.
Angga yang dibantu beberapa orang mengangkat tubuh Fikri ke dalam mobil.
Di mobil, Sarah masih berusaha membuat Fikri sadarkan diri dengan menepuk pelan pipi Fikri. Tapi laki-laki itu tak juga menyahut.
"Ya Allah. Ayo Fikri kamu harus bangun!" Sarah semangkin panik.
Tubuh Fikri sudah terkulai. Sarah memangku kepala Fikri dengan segenap kegelisahan dan kecemasan. Sarah hanya ingin mendampingi Fikri. Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit sekitar.
Tak ada satu pun yang bersuara di dalam mobil. Hanya deru halus mesin mobil yang sayup terdengar. Doa terus Sarah panjatkan agar Fikri bisa diberi keselamatan.
Sesekali Sarah memegang pergelangan tangan Fikri. Dan Sarah merasakan denyut nadinya kian melemah. Bayangan buruk semangkin menghantui Sarah. Si sopir mobil masih berusaha memacu mobil sekencang mungkin.
***
Aku dan Azzam beranjak meninggalkan taman ketika sudah mulai petang dan samar-samar suara orang mengaji terdengar dari TOA pengeras suara di masjid.
Dari kejauhan aku dan Azzam melihat orang-orang sedang berkerumun. Entah apa yang mereka tonton di sana. Kami berdua belum tahu.
Kami mencoba mendekati orang-orang di sana.
"Ya Allah seram sekali. Beruntung pelaku ditangkap!" tutur seorang lelaki yang berdiri di antara kerumunan.
"Maaf, permisi ada apa ya di sini?" tanya Azzam pada salah satu orang yang ada di sekitar.
"Tadi ada penusukan yang terjadi di sini, Pak," balas pria berkumis tipis itu.
"Penusukan?" kataku kaget mendengar ada insiden penusukan di area taman ini. "Kenapa bisa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Kami juga tidak tau pasti bagaimana kronologisnya. Yang jelas pria itu sudah bersimbah darah di sini."
"Lalu bagaimana korbannya, Pak?" tanya Azzam.
"Korbannya sudah dibawa ke rumah sakit barusan, sementara pelaku sudah berhasil dibekuk polisi. Setelah seorang pemuda yang di sini tadi menghajar pelakunya."
Aku merasa sedikit agak ngeri dan ngilu ketika membayangkan darah. Apalagi di rerumputan hijau itu, aku melihat cairan merah masih tersisa.
iiii..... Aku bergidik ngeri.
"Semoga korbannya nggak apa-apa yang Bang," ujarku sambil mengelus lengan Azzam. Kami sangat prihatin dengan kejahatan seperti ini.
"Iya, ya sudah Nisa kita harus sesegera mungkin pulang. Sudah mau magrib pula," Azzam mengajak dan menarik tanganku menjauh dari kerumunan. Orang-orang sekitar juga satu per satu pergi meninggalkan taman.
_____
Terima kasih sudah mampir.
Boleh tinggalkan vote, rate dan commentnya ya. 💕
__ADS_1