
"Nisa, bangun dulu kita sholat subuh," pinta Azzam dengan suara pelan, takut mengejutkan aku yang masih tertidur.
Aku membalasnya dengan bergumam kecil, dan kembali menarik selimut sambil mendekap bantal dengan erat. Suasana sejuk dengan rintik hujan yang belum usai dari semalam membuat aku betah membenamkan diri dalam selimut.
Kali ini Azzam menepuk pelan pipiku yang tak kunjung mau membuka mata. "Nisa, hey ayo bangun kita sholat. Cepat ambil air wudhu, abang tunggu sekarang."
Aku membuka mataku perlahan dan bangun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dengan kondisi mata masih terkatup-katup.
Selesai wudhu aku lihat Azzam sudah menyiapkan sajadah untuk kita berdua sholat. Segera aku mengambil posisi sebagai makmum di belakang Azzam yang sudah berdiri dan siap menunaikan sholat.
Di akhir sholat, Azzam melantunkan zikir dan doa kepada sang pencipta sebagai seorang hamba memang sudah seharus manusia senantiasa mengingat dan memohon kebaikan dari sang pemilik kehidupan.
"Ya Allah yang maha pengasih, lagi Maha penyayang sesungguhnya engkau telah menitipkan kepada hamba seorang perempuan pilihanmu atas diriku. Dialah istriku, Nisa, yang engkau hadirkan sebagai pelengkap imam hamba. Hadirkanlah cinta di antara kami berdua dengan izin-Mu. Jadikanlah istri hamba sebagai sumber kebahagiaan hamba. Ssbenarnya hamba sangatlah bersyukur karena bisa memilikinya dan menjadi bagian dari separuh jiwa hamba."
Aku hanya tertunduk, meresapi setiap doa yang dipanjatkan Azzam. Aku terenyuh. Jujur aku memang belum mencintainya. Tapi siapa laki-laki yang berhak atas cintaku kecuali suamiku sendiri, bukan orang lain. Hubunganku dengan Fey, aku rasa tidak ada apa-apanya lagi, kami hanya bermain dalam bayang-bayang cinta yang semu. Sementara aku sendiri telah mendapatkan cinta yang pasti dari seorang imamku, suami yang tidak pernah putus memberi cintanya untukku. Ya Allah terima kasih karena engkau telah menghadirkan laki-laki baik dan mau memberikan cinta sepenuhnya untukku. bukakanlah pintu hatiku supaya bisa menerima cintanya, doaku dalam hati.
Aamin.
Usai memanjatkan doa, aku menyalimi tangan Azzam.
"Bang, Nisa minta maaf kalau selama ini Nisa belum bisa menjadi istri yang sempurna seperti keinginan abang selama ini," ujarku setelah itu tertunduk di hadapan Azzam. Aku merasa tak sanggup menatap wajahnya. Aku merasa lalai dalam melakoni status sebagai istri.
"Nisa," Azzam mengangkat daguku hingga aku bisa menatap wajahnya lagi.
"Abang tidak pernah mengharapkan Nisa untuk menjadi istri yang sempurna untuk abang, karena sesungguhnya tidak ada pasangan yang sempurna di muka bumi ini. Pasangan diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Abang pun masih banyak kekurangan. Jadi mari sama-sama kita berdua memperbaiki kekurangan itu." Senyum Azzam di akhir kalimatnya. "Nisa mau?"
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Abang, Nisa mau tanya satu hal?"
Azzam kembali menatap wajahku dengan tenang. "Apa?"
"Apa selama ini abang bahagia hidup dengan Nisa?" ujarku, menatap manik wajahnya dengan serius. "Kalau misalkan abang nggak bahagia dan tersiksa, abang boleh tinggalin Nisa dan cari wanita lain yang sesuai dengan keinginan abang dan bisa membuat hati abang senang. Tapi bukan berarti Nisa mau bermadukan abang ya?" kataku menekan.
Azzam menarik napasnya dalam-dalam lalu dihembuskan dengan pelan. Ia memalingkan wajahnya dari mukaku.
"Berkali-kali abang bilang dengan Nisa, abang tidak akan meninggalkan perempuan yang sudah menjadi pilihan abang selama ini. Tidak ada keinginan abang untuk mencari dan melirik wanita lain," ucap Azzam penuh penekanan.
Aku hanya diam. Memandang Azzam datar, ketika pernyataan itu keluar dari bibirnya.
"Kenapa? Banyak laki-laki di luar sana yang berpoligami dengan menikahi banyak wanita," kataku memancing reaksi Azzam. Sebenarnya aku ingin tahu bagaimana pendapat Azzam, entah dia ada niatan menikah lagi. Mengingat sampai saat ini aku belum memberikan apa yang menjadi haknya sebagai seorang suami.
Azzam balik mentap kedua mataku. "Abang tidak ingin berbicara tentang orang-orang di luar sana yang berpoligami. Dalam hidup abang hanya ingin menikah sekali saja, Nisa. Bagi abang untuk apa menikah dua, tiga, empat kali tapi kalau satu istri saja sudah buat kita bahagia. Ya kan?" Azzam melempar senyum.
"Dari awal usai abang mengikrarkan ijab dan qobul, abang selalu bilang akan tetap menunggu sampai Nisa bisa terima abang sebagai suami. Abang bahkan rela berpuasa dan tidak menuntut hak batin sebagai suami untuk sementara waktu. Abang hanya ingin kita melakukan itu dengan hati yang ikhlas."
Aku membalas senyum Azzam. Dia selalu punya kalimat manis untuk membuatku terkesan.
"Meskipun abang tau selama ini Nisa masih menganggap abang sebagai abang sepupu Nisa. Tapi tidak apalah, semoga seiring berjalannya waktu perasaan Nisa bisa berubah," harap Azzam.
Aku meraih kedua tangan Azzam. "Bang, Nisa minta maaf. Tapi kalau itu keinginan satu-satunya abang, Nisa akan berusaha," kataku tersenyum dengan masih menatap dua manik matanya yang teduh.
***
Azzam sebenarnya menyuruhku untuk tinggal di rumah umi beberapa hari. Selama ia berada di Balikpapan. Azzam khawatir jika aku tinggal seorang diri di rumah. Awalnya aku menolak, dengan alasan kalau aku tinggal di rumah Umi tentu aku harus berangkat lebih awal karena jarak rumah umi ke sekolah lumayan jauh. Tapi meskipun aku menolak, Azzam tetap tidak memberiku izin. Aku hanya bisa menarik napas pasrah. Tatapan memelas Azzam, membuatku akhirnya mengiyakan permintaannya.
Azzam bilang pesawat akan berangkat pukul 10.15 WIB. Marvin akan menjemputnya ke sini, jadi aku tidak perlu mengantar Azzam ke bandara. Sekarang aku berada di kamar sedang bermager ria sambil sibuk memainkan handphone dengan aerphone terpasang di telinga. Sesekali aku mencuri pandang tentang apa yang sedang di kerjakan Azzam. Dia sedang membongkar lemari, mengeluarkan beberapa helai baju yang rencananya akan digunakan untuk beberapa hari di sana.
"Nisa?" Azzam memanggil dengan masih sibuk mengambil koper yang berada di atas lemari sambil sedikit menjinjit.
"Nisa?" Panggil Azzam kedua kalinya, saat ia mendengar istrinya itu belum menjawab. Azzam menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang melihat ke arah ranjang. Ia hanya bisa mendesah berat sembari menggeleng-geleng melihat tingkah Nisa yang sedang mendendangkan lagu dengan lirih sembari kepala ikut bergoyang mengikuti alunan musik yang mungkin diputar dari aerphone yang terpasang di telinga.
Azzam memilih menaruh sebentar koper yang usai diambilnya tadi, dan berjalan mendekat ke istrinya itu. Ia duduk di samping ranjang sambil menatap istrinya yang sedari tadi sibuk memainkan benda pipih yang ada digenggam. Entah apa yang sedang diketik di sana.
"Nisa, sibuk?"
"Apa?" Aku bertanya saat melihat mulut Azzam komat-kamit, aku tidak tahu apa yang sedang ia katakan.
Azzam menggeleng, dan menyingkirkan aephone dari telingaku sebentar.
"Nisa, sibuk tidak?"
__ADS_1
Aku menyengir lebar, sambil memperbaiki posisi dudukku menyadar di sandaran tempat tidur.
"Kenapa?" tanyaku saat melihat Azzam sudah melihat aku dengan tatapan menyelidik.
"Bantu abang?"
Aku mengernyit. "Bantu apa?"
Azzam melempar pandangan ke arah depan, sejurus aku mengikuti arah tatapannya. Netra mataku mendapati sebuah koper sedang bertengger di sebelah lemari, sementara di dekatnya lagi ada cukup banyak tumpukan baju milik Azzam di sana.
"Bantu abang untuk mengemas pakaian itu ke koper," pintanya sambil melempar senyum ke arahku.
Aku kembali tersenyum getir sambil menggaruk keningku. "Abang, memangnya harus Nisa yang packing-in baju-baju abang itu?"
"Iyalah, siapa lagi? Masa abang harus meminta bantuan dengan istri tetangga sebelah," guyon Azzam saat melihat gelagat aku yang tidak ingin membantunya mengemas pakaian yang bertumpuk itu ke dalam koper.
Lagi-lagi aku hanya mengeyir. "He-he. Tapi kalau Nisa bantuin abang. Nisa bakalan dapat hadiah nggak?"
"Nisa, memangnya segala sesuatu yang dilakukan itu butuh imbalan?"
"Iya dong, kan sekarang susah nyari yang gratisan"
"Nisa itu istri abang. Seorang itu harus menyiapkan keperluan suaminya. Itu adalah kewajiban seorang istri," ringkas Azzam.
Aku mengerucutkan bibir. "Hmm iya deh."
Tanpa aba-aba aku langsung melompat dari kasur.
Dengan keadaan muka masih ditekuk dalam-dalam, aku mengemas beberapa pakaian Azzam untuk dimasukkan ke dalam koper berwarna hitam. Sesekali aku melirik ke Azzam yang masih duduk di tepian ranjang. Aku hanya mendengus sebal.
Sementara di ujung sana, Azzam sedang tersenyum melihat muka masam istrinya daritadi.
"Sesuatu pekerjaan itu harus dilakukan dengan ikhlas supaya dapat pahala!" sindir Azzam saat tahu aku masih cemberut.
Aku melihat ke arahnya sambil meringis. "Nisa ikhlas, abang"
Azzam tertawa pelan dan berjalan ke arahku yang sedang duduk di lantai, mengemas pakaiannya.
Azzam mengamati wajahku dengan dekat, lalu menggeleng. "Kenapa wajah Nisa berkerut masgyul? Kayaknya Nisa nggak ikhlas mengemas pakaian abang," lanjut Azzam lagi.
"Huft! Kata Ustadz Nisa, ikhlas itu ibarat semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah gelap malam. Trus gimana abang tau Nisa ikhlas atau nggak? Apa di muka Nisa nampak sembut hitam?"
Azzam tertawa sambil mengacak gemas kepalaku. Lagi-lagi sikapnya yang begitu membuatku bertambah sebal.
"Abang!" kataku berdecak kesal, Azzam selalu begitu. Aku tidak tahu alasannya kenapa dia senang sekali mengacak rambutku demikian.
Kejahilannya tidak cukup sampai situ. Azzam lanjut menarik hidungku dengan gemas.
"Abang lepasin! Sakiittt!" Aku lagi-lagi berdecak geram karena hidungku terasa panas dan sakit karena ditarik. Tangannya baru dilepaskan ketika aku mencubit lengannya.
"Sakit?" tanya Azzam ketika melihat wajahku makin merenggut.
"Iya sakitlah!" rengekku, sambil mengusap hidung yang sudah aku pastikan merah seperti tomat. "Abang memang jahat!"
"Abang tidak jahat, cuman abang sayang," ucapan Azzam membuat aku menghentikan aktivitas sebentar dari mengusap-usap hidung, dan beralih menatap Azzam.
Ia berujar seraya menatap mukaku lekat-lakat. Kami bersitatap dalam waktu yang lumayan lama. Pancaran mata Azzam membuat aku tidak bisa mengalihkan tatapan ke arah lain.
Tanpa sadar aku juga menarik garis senyum melihat wajah rupawannya. Perasaanku semangkin aneh, kenapa aku rasa kehadiran Azzam saat ini membuat hatiku senang, apalagi saat dia terus mengungkapkan rasa sayang dan cintanya kepadaku secara terang-terangan.
"Nisa jugaa... " kataku tanpa sadar.
"Apa?" Mata Azzam terbelalak, dengan kedua tangan memegang bahuku.
Aku tergeragap. "Ng... Nggak!"
"Tadi Nisa bilang?"
Aku menepuk pelan mulutku, Duh, salah ngomong nih kayaknya.
"Bilang apa? Nisa nggak bilang apa-apa," kataku sambil melanjutkan pekerjaan tadi, sehingga aku bisa menyembunyikan raut wajah yang memerah karena malu akibat ucapanku barusan.
__ADS_1
Azzam menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya. Hal itu membuat wajahku mendongak kembali menatap wajah Azzam.
"Abang akan tunggu," Azzam tersenyum.
Hanya itu yang Azzam ucapkan kemudian membantuku melipat pakaian yang belum selesai aku masukkan ke dalam koper.
Aku hanya diam melihat apa yang dia lakukan sambil mengamati wajahnya yang tenang.
Selama beberapa menit kami tidak mengobrol lagi. Sampai Azzam selesai mengemas pakaiannya yang tidak seberapa.
"Abang kenapa bajunya cuman sedikit?" tanyaku ketika Azzam sudah menutup kopernya.
Azzam berdiri dan menyingkirkan koper itu ke dekat nakas. "Abang kan cuman tiga hari jadi tidak usah bawa pakaian yang banyak. Kecuali abang pergi tiga tahun, bukan cuman pakaian yang abang bawa, tapi istri abang pun abang angkut," kata Azzam terkekeh.
"Ih, memangnya Nisa barang, diangkut!"
Azzam tertawa pelan.
"Kira-kira Nisa rindu tidak kalau abang tinggal?"
Aku mengangkat kedua bahuku. "Belum tau. Kalau sekarang belum rindu. Nggak tau nanti sore," kataku terkekeh.
"Lho kenapa tiba-tiba menjadi Dilan," sahut Azzam.
"Abang, kenal Dilan?"
"Nggak, abang belum pernah ketemu dengan Dilan jadi belum kenal tapi tau."
"Ish! Apaan sih!" decakku yang dibalas tertawa berderai oleh Azzam.
Tin... Tinn
Bunyi klakson dari luar. Azzam mengarah ke jendela mengintip siapa yang datang.
"Siapa, bang?" tanyaku saat Azzam sudah siap-siap mengemas kembali keperluannya.
"Marvin sudah datang. Abang siap-siap dulu."
Aku segera berdiri dan membantu apa-apa lagi yang perlu Azzam bawa.
"Abang, kenapa buru-buru?"
"Iya, karena nanti mesti mampir dulu ke rumah Ustadz Ahmad mengambil barang di sana."
Melihat Azzam menyeret koper dan berjalan keluar. Aku segera mengenakan hijab instan dan ikut mengekor di belakang. Setelah sampai diambang pintu, Azzam memutar tubuhnya memghadapku.
"Nisa, jaga diri baik-baik." Seloroh Azzam. "Ingat pesan abang setelah ini Nisa siap-siap ke rumah Umi dan kunci rumah rapat-rapat ya?"
"Iya" sahutku pelan seraya menatap Azzam. Tiba-tiba kedua mata kami terkunci beberapa detik. Namun, suara panggilan Marvin dari dalam mobil membuat kami berdua segera memutus kontak mata.
"Iya sabar!" sahut Azzam membalas panggilan Marvin dengan suara sedikit berteriak.
Azzam menatapku sebentar kemudian mengecup lembut ke bagian keningku. Ia melepaskan kecupan itu dengan senyum bahagia.
"Jangan rindu. Abang cuman tiga hari," goda Azzam kemudian
Aku mendesis. "Siapa yang rindu coba. Ge-er!" ucapku tegas, dan Azzam tampaknya mengalah.
"Iya-iya. Bukan Nisa yang rindu. Tapi abang yang akan rindukan Nisa," ucapnya.
"Ayo salim tangan abang?" pinta Azzam. Aku menurut dan menyambut tangan Azzam yang sudah menggantung di depanku dan mengecupnya.
"Abang berangkat dulu. Assalamu'alaikum," senyum Azzam sambil meninggalkan aku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam"
Aku menatap kepergian Azzam, tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi sorot sendu. Aku hanya tersenyum kecil saat Azzam melambaikan tangannya ke arahku. Tidak tahu kenapa aku menyimpan kesedihan yang tidak pernah ada sebelumnya. Bukannya momen ini adalah momen yang aku tunggu-tunggu karena tidak akan ada lagi orang yang bawel untuk melarang-larangku bepergian.
_____
Terima kasih sudah mampir. Kalau boleh jangan lupa votenya ya hehe
__ADS_1