Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 21. Nikah-Nikahan


__ADS_3

Malam merayap menggantikan petang. Tepat di kaki langit bulan dan bintang seperti sedang bersekongkol untuk menyemarakkan kisah romantisnya. Dia seolah tak mau kalah mempertontonkan kemesraan di tengah gelap malam yang membisu. Silauannya memanjang terang memayugi segara.


Di beranda rumah, aku masih betah berlama-lama belum hendak beringsut dari duduk. Kertas undangan pernikahan yang baru sampai petang tadi aku kibas-kibaskan ke muka, padahal udara malam itu tidak panas.


Aku mengangkatnya tepat di depan muka. Bola mataku mengedarkan garis vertikal mengikuti lambang-lambang huruf yang meliuk-liuk indah. Mungkin seindah suasana hati, dari kedua pasangan yang tertera dalam undangan pernikahan ini. Aku diam terpaku beberapa saat, lalu padangan aku alihkan ke langit menyelidik satu demi satu objek kuasa Allah yang letaknya tinggi di langit, sampai waktu telah membawaku masuk dalam terowongan masa silam. Masih terbayang bagaimana sifat kekanak-kanaknya kami berdua.


Ketika itu aku yang masih berusia enam tahun, dengan usil mengambil undangan pernikahan milik ayah yang tergeletak di meja. Aku membawanya berlari ke depan teras rumah. Tiba-tiba aku terpikir sesuatu. Akhirnya masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil spidol dan kertas. Saat aku kembali balik ke teras, pandanganku menangkap satu bayangan laki-laki sedang duduk menghadap jalan, sehingga yang terlihat hanya punggungnya saja. Ia mengangkat kertas undangan itu tinggi-tinggi. Lagaknya seperti orang yang sedang memeriksa keaslian uang. Aku yang tidak suka mainanku di usik langsung merampasnya dari atas.


“Ini mainan punya Nisa!” celetukku.


Dia hanya memasang muka terkejut ketika kertas itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


“Mau Nisa apakan?” Dia bertanya karena melihatku membawa selebaran kertas dan spidol.


“Buat main nikah-nikahan.” Tanganku mulai menyoret-nyoret nama pasangan pengantin di kertas.


Laki-laki itu hanya tertawa terbahak-bahak saat mendengar kalimat itu. “Nisa, pingin nikah?”


Dia bertanya sambil menaruh muka dengan jarak yang sebegitu dekat dengan mukaku. Hingga deru napasnya terdengar.


Aku membekap mulutnya kencang-kencang dalam waktu lama. “Hussttt, Abang jangan kencang-kencang ngomongnya.”


Tak terima, dia menyingkirkan kembali tanganku. “Nisa, hampir Abang mati karena menahan napas,” ujarnya dengan napas tersengal-sengal, napasnya hampir habis.


“Lagian kenapa sih memangnya?”


“Ish! Nisa malu,” kataku dengan suara berbisik ke telinganya.


“Ha-ha... sejak kapan seorang Nisa pemalu?” ledek si pria.


Sekarang semua tulisan nama pengantin sudah hilang dan tidak bisa terbaca lagi. Aku lanjut menempelkan kertas di atasnya.


“Memangnya Nisa mau ganti dengan nama siapa?”


“Nama ceweknya, Nisa ganti menjadi D.H.A.N.I.S.A.”


Aku mulai mengukir satu demi satu lambang huruf atas nama diriku. Untuk gaya hurufnya jangan ditanya. Tulisannya ada gendut-gendut, ada langsing.


“Terus laki-lakinya?”


Aku berhenti ketika telah menyelesaikan serangkaian huruf membentuk namaku. Sejurus aku diam dan berpikir tentang siapa nama yang tepat bagi laki-lakinya.


“Ah! Nisa mikirnya lama, sini biar Abang yang beri nama.” Tangannya meraih spidol yang tergeletak di atas lantai.


Sembari dia menulis, sembari pula aku mengeja huruf demi huruf yang terangkai. “A.Z.Z.A.M” Bibirku melafadzkan dengan terbata-bata. Huruf Z terdengar menjadi huruf J.


“Oke selesai!” seru Azzam dengan semangat.


“Mana lihat hasilnya, bagus nggak?”


Baru aku hendak meraihnya, kertas itu sudah ditarik kembali.


“Eitts, sebentar.”


Aku melihat tangannya menulis simbol hati, lalu di tengah-tengahnya dituliskan huruf berinisial DA. “Dhanisa, Azzam.”



“Nah, ambillah”


Aku menyambutnya dengan perlahan. Sekarang aku angkat tepat di depan muka. Menyaksikan serangkaian hasil karyaku, sejurus aku tersenyum.


“Heh, kalian di sini rupanya.” Hazwan─ayah Dhanisa berdiri di ambang pintu.


“Iya Om Hazwan. Ada apa Om?” tanya Azzam saat mendapati Om Hazwan seperti sedang kebingungan.


“Kalian liat undangan di atas meja Om nggak, soalnya Om mau lihat acara akadnya hari apa dan jam berapa. Maklum, beginilah kalau sudah berumur.”


Tahu kalau Ayah sedang mencari kertas undangan yang aku bawa kabur tadi, akhirnya aku menyembunyikan dibalik tubuhku. Berharap agar ayah tidak melihatnya.


Azzam menggeleng. “Nggak Om.”


Tidak sampai tiga detik, Azzam teringat sesuatu. “Atau yang ini, Om?”


“Nisa, mana? Coba kasih sama Om Hazwan,” pinta Azzam.


Aku hanya menggeleng-geleng.


“Dhanisa,” nada ayah memanjang memanggil namaku. Dengan sangat terpaksa aku harus memberikan kertas undangan milik ayah yang sudah aku coret-coret.

__ADS_1


Mata ayah terbelalak kala mendapati kertas undangan pernikahan itu berubah nama.


“Apa ini Nisa?”


Melihat ekspresi ayah yang melotot ke arahku, aku hanya cengar-cengir seraya menggaruk tengkuk, tidak tahu harus mengatakan apa.


Aku masih terus terbawa rayuan malam yang sunyi. Sanubariku tiba-tiba bergerak, lalu kupejamkan mata sejenak. Semangkin dalam aku berkonsetrasi semangkin pekat aku rasakan hawa dingin yang melucuti kulit. Aku membuka mata, kepala ku tadahkan lagi ke langit, melihat satu per satu bintang mulai pamit menghilang dari langit karena terhalau awan kelabu.


“Sedang apa di sini?” Pertanyaan Abang Azzam memecah keheningan.


Aku beringsut menyandarkan punggung pada tiang penyangga beranda rumah.


“Ini, ada undangan pernikahan dari Arman petang tadi untuk Abang supaya minggu depan bisa datang.”


“Untuk Abang? Bukannya kalau untuk Abang berarti untuk Nisa jugakan? Kita datang berdua nanti.”


Aku yang biasanya cerewet, tidak merespon apapun perkataan azzam. Aku masih duduk, diam termangu. Azzam yang duduk di sebelah menatap dengan punuh tanda tanya.


“Sayang, kenapa?”


Raut wajahku berubah kala mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Azzam.


“Sejak kapan ada kata sayang yang keluar dari mulut Abang? Bukannya selamanya ini Abang hanya selalu menyebut nama panggilan Nisa.”


Abang Azzam terkekeh. “Sejak hari inilah.”


“Kenapa?” Aku bertanya dengan raut bingung.


“Yaa, kan kita sudah sepakat buat bersikap manis layaknya pasangan yang romantis.”


“Bukannya itu kalau di depan Umi, sekarangkan lagi tidak di depan Umi.” Protesku.


Azzam menghela napas. “Di depan Umi atau tidak di depan Umi, ada baiknya kita bersikap baik dan serasi. Ya kan?” Di ujung kalimatnya ia melempar senyum.


Aku hanya mengerucutkan bibir.


Dia berdiri sekedar untuk berpindah posisi duduk, menyandarkan punggungnya pula pada tiang penyangga beranda rumah. Persis di mana aku juga menyandarkan punggungku saat ini. Kami berdua duduk dengan punggung membelakangi.


Azzam membolak balik undangan yang diberikan Nisa tadi. Bibirnya seperti komat kamit membaca nama yang tertera di kartu undangan.


Andrian Almahdi (Ryan)


Amanda Syahida (Ida)


Azzam membalik kembali ke halaman depan. Sebuah hati yang di isi oleh huruf abjad R & I


Azzam tersenyum kikuk.


“Sayang?”


Lagi-lagi panggilan itu menyeringai di telingaku. Aku menoleh ke arahnya sembari menatap sinis sekaligus muak. Mulut aku tutup rapat dan gigi gemeletukan.


“Abang! Sekali lagi sebut sayang, sayang, Nisa sumpal itu mulut pakai sendal,” kataku berdecak kesal sekaligus geram.


Tak ingin menjadi bahan amukannya, Azzam menghentikan keusilannya. “Iya, oke-oke. Abang ikut keinginan Nisa”


Dia berpindah duduk kembali, mendekat ke sisiku.


“Nisa lihat ini.” Jarinya menunjuk sebuah sisi surat undangan.


Meskipun aku masih merasa geram, mataku masih tetap mengekor untuk mencuri-curi pandang tentang apa yang ingin dia beritahukan kepadaku.


“Nisa, dulu pernah buat seperti inikan?” Ia bertanya dengan nada semangat.


Dalam hati sebenarnya aku berpikir padahal baru saja ingatanku terlempar ke peristiwa konyol itu, dan sekarang dia pun masih mengingatnya. Aku kira dia lupa tentang itu. Entah mengapa mata dengan sengaja aku edarkan liar kemana-mana supaya tidak perlu aku menyimak pertanyaan itu.


Uhuk ... uhukk


Suaraku pura-pura terbatuk.


“Aduh! Sepertinya tenggorokan Nisa haus sekali. Nisa masuk ke dalam dululah mau minum.”


Dengan alasan demikian, akupun berlalu masuk ke dalam meninggalkan dia yang masih duduk sendirian di beranda rumah.


Baru sampai di ruang tamu, aroma wangi sudah menyeruak hebat. Tiba-tiba aku merasa seketika perut manjadi sangat lapar saat mencium aroma sedap yang mengarah dari dapur. Ah, uminya Abang Azzam memang ahli dalam hal memasak, aku rasa kepandaiannya memasak ia turunkan ke anak bungsunya itu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku melesat ke arah dapur, dan di sana aku sudah menemui umi sedang menyiapkan makan malam.


“Hemm, wangi sekali Umi. Buat Nisa makin lapar malam-malam gini.”


“Eh, Nisa. Kemarilah Nak. Kita bersiap makan sama-sama. Mana suamimu suruh kemari.”

__ADS_1


“Ada Umi, masih di luar. Nisa yakin sebentar lagi dia bakal kemari."


Di atas meja makan sudah terhidang beberapa masakan termasuk masakan yang aku masak tadi sore, sayur bayam dan ikan goreng ditambah lagi dengan masakan yang dibuat Umi, yaitu sayur asam pedas, ayam bakar dan sambal. Sambal yang dibuat Umi mirip sekali dengan sambal yang waktu itu Abang Azzam buat. Cabe merah bercampur dengan cabe hijau yang ditumbuk kasar. Sungguh mengugah selera untuk segera menyantapnya.


Tanpa aku sadari Abang Azzam telah berdiri di belakangku.


“Sudah duduklah. Kita makan sama-sama,” pinta Umi.


Kami semua sudah mengisi bangku masing-masing.


Setelah merapatkan duduk dikursi mataku langsung liar menatap makanan yang tersaji. Aku mulai menyendokkan nasi masuk ke dalam piring, baru mengambil lauknya. Pilihan menu pertama, aku jatuhkan pada sambal buatan umi yang membuatku jatuh hati, karena kenikmatannya, pedas-pedas, gurih.


“Nisa, tolong sendokkan sedikit ayam bakarnya.” Pintanya halus.


Namun aku diam tak bergeming. Melihatku demikian, ia mengerlingkan matanya ke arahku seperti sebuah isyarat agar kami menjalankan misi seperti apa yang telah disepakati sore tadi.


Aku cuma bisa pasrah menuruti kehendaknya untuk melayani dia, sebagaimana istri melayani suami. Aku mendengus napas sabar. Sepertinya untuk beberapa hari kedepan beban dipundakku akan semangkin berat.


Aku lihat Abang Azzam mulai menyendokkan sayur dan memindahkannya ke dalam piring. Aku memilih untuk tidak peduli dan kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut.


“Buka mulutnya.” Perintah itu terdengar ketika aku masih mengunyah pelan nasi yang baru masuk ke dalam mulut. Aku memalingkan muka ke arahnya. Sekarang sendok itu tepat selurusan dengan mulutku.


“Ayo,” suruhnya lagi, dengan masih mengayunkan sendok yang sudah terisi nasi dan bercampur dengan lauk. Apa coba yang dia lakukan! akukan masih punya tangan yang bisa aku gunakan untuk menyuapkan nasi ke dalam mulutku sendiri.


“Abang sajalah,” ujarku, bermaksud menolak.


Abang Azzam mendengus lalu berujar, ”Abang juga akan makan, tapi untuk suapan pertama Abang berikan khusus untuk istri Abang, ayo.”


Aku lihat umi melirik ke arahku, aku hanya bisa tersenyum kikuk, kemudian mencoba bermanis muka di depan umi. Pandangan mata, aku alihkan lagi ke muka Abang Azzam tapi aku menatapnya seraya melotot. Dalam hati aku menggerutu kesal, Hemm, kalau tidak ada Umi di sini piring-piring dan sendok ini mungkin sudah melayang mengenai kepalanya.


Dengan sangat terpaksa aku membuka mulutku, menerima suapan nasi dari Abang Azzam yang bergerak pelan. Begitu nasi sudah masuk ke dalam mulut, terasa begitu sulit aku mengunyah apalagi menelannya.


“Lagi?” tawarnya dengan tangan yang masih terangkat.


Aku menggeleng.


“Abang coba cicip sayur buatan Nisa?”


Aku menyendokkan sayur dan sedikit kuahnya ke dalam piring makan Abang Azzam. Aku tatap wajahnya demi melihat bagaimana ekspresi muka Abang Azzam. Tidak lama nampak dahinya mengernyit ketika merasakan makanan yang melintas di lidah.


“Bagaimana? Enak?” tanyaku yang belum sama sekali menyentuh sayur buatan tanganku sendiri.


“Enak.” Aku lihat dia menjawab sembari matanya merem melek, pikiranku mulai aneh aku yakin pasti ada yang tidak sedap.


“Nisa, cobalah ambil sayurnya,” sekarang giliran Azzam yang meminta.


Karena penasaran juga, akhirnya aku coba menyedokkan sayur bayam itu ke piring lalu mencampurnya dengan nasi. Pada saat pendaratan pertama dimulut lidahku belum merasakan apapun, namun setelah aku mengunyah dan menelannya baru lidah mulai menggeliat. Aku hanya bisa menyengir saat sayur itu telah lewat kerongkonganku. Dengan buru-buru tanganku menyambar gelas, meneguk air mineral sampai kosong melompong.


“Asin banget,” kataku, mengomentari hasil masakan sendiri.


Umi hanya menggeleng-geleng melihat ekspresiku.


“Tidak apa-apakan masih belajar, ya kan. Umi?” Azzam sepertinya mencoba melapangkan hatiku, supaya tidak terlalu merasa gagal untuk mulai belajar memasak.


“Iya. Niat Nisa untuk belajar pun sudah bagus. Ada usaha, nanti lama-lama juga akan pandai dalam menakar komposisinya.” Umi berujar seraya tersenyum.


Aku tersenyum rikuh. Muka mulai terasa panas dan memerah karena menahan rasa malu dan tidak enak hati. Apalagi ada Umi di sini, itu tentunya akan semangkin menunjukkan kalau aku selama ini kurang dalam hal mengurus urusan rumah tangga. Dan aku semangkin yakin kalau dalam pikiran Umi pasti selama ini yang mengurus semuanya adalah anaknya.


“Nisa, bagaimana enak menjadi istri dari seorang Azzam?” Umi menyoal, entah dia memang mau benar-benar bertanya atau hendak menyindirku.


“Umi kenapa bertanya seperti itu?” Bukannya aku yang menjawab malah Azzam yang membuka suara.


“Ya, tidak. Umi bertanya saja.”


Aku mengembuskan napas berat serta melirik sekilas ke arah Abang Azzam yang terlihat sedikit memberikan anggukan dan senyum kecil.


Aku hanya tersenyum masygul. “Kalau Nisa happy, happy saja Umi,” jawabku atas pertanyaan Umi.


Umi mengangguk. ”Alhamdulillah syukurlah, senang Umi mendengarnya.”


“Setelah tamat nanti, mau menyambung kuliah ke mana?” Umi menyambung ucapannya.


Aku diam kemudian berpikir, “Rencana awal Nisa mau cari beasiswa Umi, kuliah di luar.”


“Hmm, bagus itu. Kalau begitu mulailah tekun dari sekarang supaya mudah Nisa sewaktu tes nanti.”


“Iya, Umi. Nisa sedang berusaha untuk tekun belajar dan mengulas soal-soal ujian supaya lancar ketika ujian nanti.”


Umi mengangguk saja, kemudian lanjut berbicara. “Umi pernah bilang dengan Azzam supaya dia jangan terlalu menyuruh Nisa agar melakukan perkerjaan rumah tangga, Umi minta agar Azzam itu menyuruh Nisa supaya fokus dulu dalam menghadapi ujian sekolah yang sebentar lagi.”

__ADS_1


Dalam hati pernyataan umi itu sedikit membuatku merasa lega. Ternyata mereka selalu memberi ruang untukku mengeksplore diri tidak hanya menuntut sekedar melakukan perkerjaan monoton sebagai ibu rumah tangga.


__ADS_2