
10 tahun kemudian....
Revan Putra Raditya adalah anak tunggal dari pasangan Rembulan dan Raditya ia ingin memiliki adik nyatanya selalu gagal karena setelah kehamilan kedua dan ketiga Mamihnya itu selalu keguguran dan sekarang ia menjadi anak tunggal satu-satunya.
Revan yang sudah beranjak dewasa dan mulai sibuk untuk membantu pekerjaan di kantor dan kuliah juga. Revan yang baru pulang dari kota B, kuliah di kota itu memutuskan untuk kembali ke kotanya karena rengekan dan permintaan Mamihnya itu yang begitu merindukannya.
Mau tak mau pun Revan menuruti dan tak mau menjadi anak yang durhaka dan tak menuruti keinginannya Mamih itu. Dan sekarang ia pun bangun lebih awal untuk pergi kuliah setelah itu mengecek beberapa pekerjaan bersama dengan Papih nya itu.
"Pagi, Mih." sapa Revan pada Mamihnya sambil mencium pipi wanita hebatnya itu yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya itu. Hal biasa yang sudah Rembulan lakukan semasa ia berada di sini.
"Pagi juga, sayang. Ayo duduk dan habiskan sarapannya," titah Rembulan yang begitu merindukan melayani putranya itu, dan baru kali ini bisa merasakan itu setelah ia di tinggalkan 2 tahun lamanya di kota B.
Tak berselang lama suaminya datang yang sudah rapih mengenakan jasnya dan duduk di tempat ia berada.
"Kamu jadi kan, Van. Nanti siang ke kantor?" tanya Tuan Raditya pada putranya itu sambil menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh istrinya itu.
"Lihat nanti ya, Pih. Takutnya jadwal kuliah Revan di ganti," jawab Revan yang belum menentukan jika ia akan datang. Takutnya jadwal di ganti atau berubah.
__ADS_1
Tuan Raditya mengangguk dan melanjutkan sarapannya, ia tak mungkin memaksakan putranya yang baru pulang dari kota B.
Sarapan di pagi hari ini terasa nikmat karena kehadiran putranya satu-satunya, ia yang begitu sepi hanya Revan yang ia punya di dunia ini setelah ia kehilangan kedua anaknya semasa si kandungannya. Saat kejadian itu Rembulan tak bisa mengandung lagi karena rahimnya sudah lemah.
Rembulan yang terpuruk dan sedih harus kehilangan bayinya yang berumur 3 bulan dan 4 bulan di kehamilan kedu itu. Dan sampai sekarang Tuhan belum lagi memberikan dan mempercayai dirinya untuk memberikan seorang adik untuk Revan Putra Raditya.
Selesai sarapan, semua bubar dan beraktivitas masing-masing. Revan yang akan pergi ke universitas dan Tuan Raditya akan pergi ke kantornya dan Rembulan akan bertemu dengan teman arisannya itu.
"Hati-hati ya, Mas. Dan kamu, Van. Jangan ngebut mawa motornya," pesan Rembulan pada suami dan putranya itu.
Kedua pria yang begitu mirip dan berbeda usia itu hanya bisa mengangguk dan mengiyakan karena kalau tak di turutin akan ceramah sepanjang hari membuat kedua kuping mereka akan panas mendengar semua itu.
Sampai di universitas yang ia pilih untuk melanjutkan kuliahnya di kota B tersebut. Dan Revan turun setelah ia memarkirkan motornya di tempat parkiran yang sudah tersedia. Ia berjalan dan tanpa di duga ada seseorang yang menabrak dari belakang membuat dirinya terhuyung ke depan.
"Aw," rengek Revan saat ia akan jatuh ke lantai itu dan segera ia menegakkan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menabraknya.
Belum sempat Revan protes seorang perempuan menyahut lebih dulu dan meminta maaf atas kesalahannya yang telah ia perbuat.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tadi buru-buru soalnya aku sudah ketinggalan," ucap gadis itu yang menangkup kedua tangannya sambil menunduk karena takut.
Revan tak menjawab, ia memandang ke arah gadis itu yang sudah berani dan menjatuhkan wibawa dirinya yang baru datang dan belajar di kampus ini.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Enak saja, gak bisa kayak gitu kamu tuh udah bikin aku jadi malu...