
"Kok kamu ada di sini?" tanya Revan yang baru bangun dari duduknya. Ia begitu kaget dengan adanya gadis itu yang ada di mana-mana.
Aluna tak menjawab pertanyaan dari pria itu, ia malah mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan pertanyaan pria itu lontarkan. Aluna pun melihat kearah Mamahnya dan meminta jawaban darinya.
"Ini Aluna, putrinya Tante." jawab Mamah Mentari yang memperkenalkan putrinya itu.
Semua biasanya saja kecuali Revan, ia pernah mengingat sesuatu nama yang pernah di sebutkan oleh Om Reyhan waktu itu dan gadis yang di ceritakan itu adalah gadis yang selalu bikin onar dengannya.
"pria ini putra Om?" tanya Aluna yang menghampiri tamu Papahnya itu dan menyalami satu persatu, ia begitu ramah dan menyambut dengan senyuman.
"Iya, dia putra Om dan Tante. Namanya Revan kamu mengenalnya?" tanya Mamih Rembulan, ia begitu bahagia dan merindukan sosok anaknya yang telah meninggal di dalam kandungannya dan itu membuat Rembulan refleks menitikkan air matanya.
"Kamu kenapa, Mih?" bisik Tuan Raditya melihat raut wajah sang istri terlihat sedih.
"Aku kangen pada putriku, Mas. Mungkin dia cantik seperti Aluna." lirih Mamih Rembulan, jika anaknya hidup mungkin Rembulan bahagia dan ada yang menemani hari-harinya di saat sang putra menuntut ilmu di luar sana.
"Jangan mengingat itu lagi, Mih. Kita doakan saja ya," ucap Tuan Raditya dengan pelan ia tak ingin memberikan kisah sedihnya di rumah ini.
Rembulan menganggukkan kepalanya dan tersenyum, ia tak ingin larut dalam kesedihan karena itu tak mungkin bisa kembali.
__ADS_1
Makan malam kedua keluarga itu pun begitu nikmat dengan obrolan para orang tua yang membahas tentang pekerjaannya dan para istri mengenal sesama, tak kecuali Revan dan Aluna dengan tatapan yang tak bisa di artikan oleh keduanya.
Selesai makan malam bersama Tuan Reyhan mengajak tamunya untuk mengobrol di ruang tamu sambil mencicipi makanan ringan dan teh hangat buatan sang istri tercinta.
Revan yang sudah kesal ingin segera pulang, ia hanya menyahut apa yang di tanyakan saja selebihnya ia lebih memilih diam dan mendengarkan saja.
Mamih Rembulan yang melihat tingkah laku putranya hanya terkekeh dengan raut wajah seperti ada yang ingin segera pulang, ia tahu watak dan karakter putranya jika dia tak suka dengan keadaan sekitarnya.
"Kalian kedua pada diam saja, kenapa? Bukannya kalian berdua satu kampus ya?" tanya Mamih Rembulan yang memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Gak ada apa-apa," jawab berbarengan dan membuat kedua keluarga itu tersenyum.
"Kompak ya, kalian lucu." ucap Mamih Rembulan lagi, tanpa berpikir lagi Mamih Rembulan pun mengatakan sesuatu yang bikin kaget antara dua keluarga terutama Revan dan Aluna.
Revan maupun Aluna melebarkan matanya dan kaget dengan perkataan dan ide dari wanita yang masih cantik di usianya yang tak muda lagi.
"Mih, jangan aneh deh," protes Revan, ia tak berpikiran ke sana melihat gadis itu membuat Revan selalu ingin marah dan marah.
Memang penampilan Aluna berbeda dari biasanya, ia lebih feminim dan cantik dengan polesan make up yang natural menambah aura seorang Aluna yang tadinya cantik dan imut. Tak di sangka jika Revan pun terpesona dengan kecantikan seorang gadis yang membuat hatinya selalu kacau. Tapi untuk masalah ide sang Mamih tercinta Revan belum kepikiran dan ia hanya ingin fokus belajar dan belajar saja.
__ADS_1
"Di jodohkan sama dia, gak, Tan. Mending Luna gak laku deh." sahut Aluna, ia juga membenci pria itu yang tak mau mengalah dan membiarkan dirinya tenang.
"Gue juga ogah ya, bikin pusing kepala ku saja." balas Revan tak mau kalah.
"Ngapain pada ribut sih, nanti jodoh gimana?" tanya Mamih Rembulan yang menderai perdebatan antara putra dan putri dari rekan kerjanya sang suami.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Gak mau dan tak ingin berjodoh dengannya.....