
"Emang entar malam ada acara apa, Pih?" tanya Revan , entah datang dari mana pemuda itu tahu tahu sudah ada di belakang kedua orang tuanya itu.
Dan, Rembulan maupun Tuan Raditya dibuat kaget dengan kedatangan sang putra semata wayangnya itu. Keduanya mengelus dadanya dan mulai berpikir untuk beralasan apa untuk pertanyaan putranya itu.
Rembulan maupun Tuan Raditya saling memandang untuk mencari alasan yang tepat agar putranya itu bisa mengerti dan menerima alasan, karena Revan belum saatnya untuk mengetahui apa yang belum pernah merasakannya walaupun umurnya sudah cukup untuk mengetahui semua itu.
"Acara makan malam ya kan, Pih? Kita akan makan diluar," jawab Rembulan dengan segera, tidak ada rencananya malam ini membuat ia beralasan itu tapi membuat Tuan Raditya lemes tak bertulang karena yang ia inginkan hanya sebuah angan saja. Jika sang istri keluar atau ada acara apapun ia tak akan mau pulang jika ia sudah bosan atau ngantuk baru ia akan pulang.
"Mih," protes Tuan Raditya, tapi Rembulan mengelus tangan suaminya agar diam dan mau menuruti keinginannya.
Rembulan pun mendekat dan berbisik sesuatu pada suaminya agar ia pun semangat untuk mengabulkan keinginannya. Dan benar saja, Tuan Raditya begitu senang dan gembira setelah di bisikan sesuatu yang entah itu apa?
"Mamih dan Papih kenapa sih? Bisik-bisik terus, jadi penasaran Revan," sahut Revan yang ingin mengetahuinya.
"Anak kecil jangan kepo ya? Masih kecil gak baik, ok. Dan itu untuk yang sudah menikah saja ya kan, Mas?" tanya Rembulan yang tersenyum jahil, ia pun bermanja-manja dengan sang suami di depan putranya tanpa malu-malu.
__ADS_1
Revan pun membuang napasnya dengan perlahan, ia sudah biasa memandang pemandangan seperti itu, dan itu hal tabu bagi dirinya seperti makanan sehari-hari. Revan pun beranjak dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang tak tahu tempat itu.
"Anak mu, Mas. Kayaknya lagi ngambek deh," ucap Rembulan yang memandang putranya itu.
"Ngambek kenapa?" tanya Tuan Raditya yang selalu tak peka dengan tingkah putranya dari dulu sampai sekarang.
Rembulan pun menepuk keningnya, ia sudah di beri kode tetap saja sang suami harus di beri contoh apa yang sedang di alami oleh putranya itu.
"Mending siap-siap gih, dari pada kamu, Mas. Bikin pusing kepala ku," titah Rembulan yang menarik tangan suaminya agar membersihkan tubuhnya dan mulai siap-siap.
"Terus itu makanan yang sudah di masak gimana?" tanya Tuan Raditya, ia seolah masih saja mencari alasan agar jalan menuju surga dunia tak ada kendala apapun.
"Sama Tata di bagikan saja, Mas. Aku sudah terlanjur loh bilang sama putramu jika kita akan makan malam di luar," jawab Rembulan, ia sudah membayangkan tempat apa saja yang ia akan kunjungi setelah makan malam bersama usai.
Tuan Raditya menarik nafasnya, ia pun berjalan dengan gontai menuju kamarnya, percuma jika ia merayunya tak akan mempan dan istrinya akan kekeh dengan apa yang ia sudah sepakati.
__ADS_1
Rembulan pun bangun dan mulai mencari keberadaan Tata, sebelum ia pergi bersama keluarganya ia akan memerintahkan Tata untuk membagikan dan meminta Tata untuk tak menunggunya. Ia akan habiskan waktu malam ini untuk keluarga kecilnya itu.
Setelah selesai berurusan dengan Tata, Rembulan pun bergegas masuk kedalam kamarnya. Ia akan bersiap dan sebelum itu ia akan menyiapkan keperluan sang suami dulu.
Di kamar Revan, ia sebenarnya malas untuk keluar tapi jika sudah menyangkut nyonya besar di rumah ini mau tak mau pun Revan akan ikut dan menuruti perintahnya. Ia yang begitu menyayangi Mamihnya itu dari segalanya.
Semuanya sudah siap, keluarga Tuan Raditya pun meluncur ke tempat restoran tempat favorit keluarga itu dan sudah hal biasa mereka lakukan. Kali ini Revan yang mengemudikan kendaraan roda empat milik sang Papih, ia akan menjadi supir yang baik untuk kedua orang tuanya itu.
"Jangan ngebut ngebut, Van. Kalau kamu sayang sama Mamih," pesan Rembulan, setiap pergi dengan putranya ia akan berpesan seperti itu agar sang putra mengemudikan dengan baik.
"Iya, Mih. Tenang saja, yang penting Mamih nyampe dengan selamat," jawab Revan yang tersenyum.
Sampai di restoran, Revan memarkirkan mobilnya di tempat biasa dan turun dengan gagahnya dengan setelan yang sederhana tapi membuat Revan begitu berbeda.
Revan pun masuk dan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah masuk duluan dan lagi lagi ia harus bertabrakan dengan seseorang yang entah itu siapa?
__ADS_1
Kamu lagi....
hayo siapa?...