
"Boleh aku memeluk mu untuk terakhir kalinya?" pinta Vino yang masih melirik kearah pria saingan itu dengan tatapan mematikan saat melihatnya.
Tuan Raditya segera menghampiri pria yang bernama Vino tersebut, ia ingin dan tak rela jika istrinya itu di peluk lelaki lain selain dirinya. Sudah cukup baginya yang tak sanggup melihat semua itu.
"Sini biar sama ku saja yang wakili ya," tarik tubuh Vino oleh Tuan Raditya. Dengan ini pria itu tak bisa mengelak dan meminta hal yang aneh lagi.
"Eh," ucap Vino yang kaget dengan tiba-tiba tubuhnya di tarik ke dalam dekapan pria tanpa persetujuannya. Yang ia inginkan hanya pelukan wanita yang ia cintai untuk terakhir kalinya bukan suaminya.
"Apa? Mau protes, hah?" bentak Tuan Raditya, ia tak akan mengizinkan hal itu terjadi.
Vino merengut kesal, hanya pelukan dari wanita itu untuk ia kenang semasa ia bersamanya. Vino tak pernah menyentuh apapun dengan Rembulan hanya sebatas pegangan tangan saja. Walaupun ia sangat mencintainya, Vino tetap menjaga kehormatan seorang wanita sebelum sah menjadi istrinya kelak. Tapi, itu semua hanya mimpi dan harapan saja karena semua kebenaran pun sudah terungkap dengan ingatannya sudah kembali.
"Maafkan Papih Revan ya, Om." sahut Revan yang mewakili Papih nya, ia seakan malu dengan kelakuan Papih itu yang terlalu posesif pada Mamihnya.
"Sudah sudah, ngapain pada ribut sih, dan kamu Mas. kak Vino hanya ingin memeluk saja untuk terakhir kalinya kenapa tak boleh," derai Rembulan, ia bangun dan menghampiri dua pria yang sedang berpelukan itu.
"Tapi, Ulan." ucap Tuan Raditya yang kesal dengan sikap istrinya selalu memberikan izin tanpa bertanya lagi padanya.
"Cuma pelukan, Mas. Bukan nikah," jawab Rembulan yang merentangkan kedua tangannya. Ia sepertinya sedang menggoda suami yang sedang cemburu melihatnya.
"Kamu tega sama suami mu?" tanya Tuan Raditya, ia menunjukkan wajah sedihnya agar Rembulan membatalkan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Rembulan tak menghiraukan rengekan suaminya tersebut, ia biarkan dan ini juga sebagai balasan karena dia tak pernah mengurus putranya dengan benar.
"Ulan..," panggil Tuan Raditya, ia benar-benar sedang cemburu dan tak ingin miliknya di sentuh oleh orang lain.
Vino pun jadi serba salah dengan perdebatan antara wanita yang ia cintai dan pria yang berstatuskan suami itu. Ingin rasanya menghamburkan tubuh kedalam dekapan wanita itu. Tapi, lagi lagi ia takut dengan tatapan pria itu dengan tajam seperti orang yang ingin membunuhnya.
"Awas saja sampai itu terjadi, akan ku patahkan tulangnya," ucap Tuan Raditya di dalam hatinya, ia tak ingin rela tubuh istrinya di sentuh siapapun termasuk pria itu yang katanya tunangannya.
"Jangan mengumpat, Mas. Aku dengar apa yang kamu katakan," ucap asal Rembulan. Dan Tuan Raditya melotot tak percaya dengan tebakan istrinya yang seperti sedang menjadi cenayang.
"Kamu dengar apa yang aku katakan, Ulan," tanya Tuan Raditya yang ingin memastikan.
"Hem," jawab Rembulan dengan asal, ia ingin segera istirahat dan tidur bersama putranya. Menghadapi kedua pria tersebut membuat hati dan pikirannya jadi lelah dan ngantuk.
"Tidak usah, Lau--," belum sempat Vino mengucapkan kalimat itu Tuan Raditya sudah memotongnya.
"Dia bukan Laura tapi Rembulan," ucap Tuan Raditya yang menimpali ucapan Vino tersebut.
Vino menarik napasnya dan membuang dengan kasar, ia ingin segera selesai dan pergi dari sini. Sudah cukup ia di buat pusing dengan kelakuan pria tersebut.
"Tidak usah, Ulan. Tapi kamu jangan melupakan aku ya? Anggap saja aku adalah seseorang yang berarti bagimu dan jangan pernah membenci ku," ucap Vino, ia harus melupakan kenangan bersama Laura semasa ia bersama. Dan ia tidak akan pernah bisa melupakan begitu saja.
__ADS_1
"Ngapain harus mengingat mu terus, kamu tuh bukan siapa-siapa buat istri ku dan jangan macem-macem," bukannya Rembulan yang menjawab perkataan Vino tapi Tuan Raditya yang menjawab itu semua.
"Mas bisa diem gak? Aku tuh pusing ya, mau aku hilang ingatan lagi?" ancam Rembulan, ia sudah tak sabar lagi menghadapi suaminya itu.
Tuan Raditya terdiam, ia seolah terhipnotis dengan ocehan istrinya tersebut dari pada ia kehilangan lagi pikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku yang seharusnya berterima kasih, Kak. Berkat kak Vino aku bisa hidup lagi dan berkat kakak juga aku bisa berkumpul dengan keluarga ku lagi walaupun harus menyakiti kakak dan meninggalkan semua yang kakak berikan untuk ku.. Aku hanya berdoa semoga Allah menggantikannya dengan lebih dari ku dan bisa menerima kakak dengan baik....