Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 87


__ADS_3

Pesan yang diberikan oleh Vino seakan akan menyerahkan wanita yang ia cintai pada pria yang berhak atas dirinya, ia tak tega melihat bocah itu memohon padanya walaupun hatinya tak mengizinkan hal itu. Ia yang sangat mencintai harus rela melepaskan wanita ia perjuangkan saat bertemu.


Entah kenapa hati kecilnya merasa kasihan melihat raut wajah bocah itu yang menginginkan sosok wanita yang selama ini ia rindukan, apa ia tega melihatnya dengan raut wajah yang begitu melas.


"Om benar?" tanya Revan yang ingin memastikan jika ibu kandungnya akan di lepaskan selamanya tanpa syarat apapun pada Papih nya.


"Iya, tapi harus di jaga kalau sampai Om dengar Laura di sakiti atau menangis Om akan ambil lagi tanpa memberitahukan siapa pun termasuk Revan juga, paham." pesan Vino yang sesak, ia perkataan memang mengizinkan tapi tidak dengan hatinya seolah menolak itu, ia tidak rela dan ingin memilikinya seutuhnya.


Revan mengangguk, ia yang akan menjaganya kalau Papih berbuat nakal atau menyakiti Mamihnya Revan yang akan maju ke depan untuk melawannya.


"Janji, Om. Om tenang saja. Revan akan menjaga dan menyayanginya." ucap Revan yang begitu bahagia. Ia sudah bisa memiliki wanita yang selama ini ia rindukan sudah menjadi miliknya.


Rembulan tersenyum, ia menghampiri putranya dan merentangkan kedua tangannya agar bocah itu masuk kedalam dekapannya.


Revan langsung berlari dan masuk ke dekapan Mamihnya itu. "Revan kangen, Mih. Jangan pergi lagi ya?" ucap Revan, ia tak ingin di tinggalkan lagi walaupun hanya sebentar.


Rembulan mengangguk dan tersenyum, ia malah bahagia karena bisa mengingat dan kembali pada keluarga kecilnya. Entah mengapa jika ia tak ikut dengan kak Vino di kota ini mungkin ia tak akan bisa bertemu dengan keluarganya terutama putranya yang selama ini ia tinggalkan dari bayi.


"Mamih tak akan meninggalkan Revan, Mamih akan tetap bersama Revan," ucap Rembulan yang meyakinkan putranya.

__ADS_1


"Sama aku tidak," sahut Tuan Raditya yang cemburu, ia malah di abaikan oleh istrinya yang baru ia temukan, tapi malah fokus pada putranya.


"Kamu sudah tua, Mas. Jadi ngalah sama anak kecil," jawab Rembulan tak kalah kekeh.


"Benar tuh kata Mamih," ucap Revan yang membenarkan ucapan Mamih sambil mengejek kearah Papih nya, ia menang di saat pertama kali Rembulan kembali.


Vino tertawa kecil untuk menutupi rasa sakit dan iri nya pada keluarga yang berbahagia itu. Entah kapan ia akan menemukan belahan jiwanya yang menerimanya dengan apa adanya. Yang ia inginkan seperti Laura yang baik, cantik dan penuh perhatian dan kasih sayang.


Tuan Raditya merengut kesal melihat tingkah anaknya yang mulai posesif terhadap istrinya, ia yang begitu merindukan belahan jiwanya itu selama 10 tahun.


Vino pun menghampiri wanita yang amat ia cintai itu dan memandangi sesaat untuk terakhir kalinya. Ia akan kembali ke kota asalnya untuk melupakan kenangan bersama Laura 10 tahun berlalu ia lewati bersama-sama. Tak mudah untuk meyakinkan wanita yang keras kepala dan butuh bukti jika ia benar-benar Laura.


"Laura, aku akan tetap memanggil mu dengan sebutan itu walaupun nama mu bukan itu, itu adalah nama pertama yang aku berikan di saat kita bertemu dan aku menyukainya. Jadi ku mohon jangan melupakan kenangan kita bersama selama 10 tahun ya? Dan jangan membenci kedua kakek dan nenek ku yang tak tahu tentang hal ini. Yang ku lakukan ini hanya ingin memiliki mu saja dan itu tak mungkin sampai sekarang kamu sudah mengingatnya walaupun aku mengalihkan tentang itu. Maaf, bukan ku egois tapi cinta yang membutakan mata dan hati ku untuk memiliki mu," ucap Vino dengan panjang, ia mencurahkan isi hatinya yang selama ini. Dan wanita yang ia cintai tak membencinya walaupun tindakan salah di matanya.


"Aku mengerti, Kak. Dan aku memaafkannya. Jadi, kakak tenang saja ya? Aku tak akan membenci siapapun termasuk yang sudah menolong ku dan merawat ku. Malah aku berterima kasih karena kalian aku bisa seperti dan kembali pada keluarga ku sendiri." jawab Rembulan yang tersenyum dengan tulus, ia tak mungkin membenci orang yang telah menolongnya dari maut itu.


"Boleh aku meminta satu permintaan?" pintu Vino untuk terakhir kalinya.


Rembulan mengangguk dan mengiyakan ucapan pria yang selama ini membantu dan menjaganya.

__ADS_1


Vino tak langsung berkata, ia melirik kearah pria yang katanya suami dari wanita yang ia cintai itu dengan raut wajah yang begitu cemas saat ia ingin mengatakan permintaannya itu, cemas cemas Vino mengatakan itu dengan suara pelan tapi bisa di dengar oleh orang yang dekat dengannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Boleh aku memeluk mu untuk terakhir kalinya??...


__ADS_2