Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 74


__ADS_3

Deg....


Ucapan orang itu membuat Tuan Raditya merasa sakit entah kenapa? Ia belum memastikan kebenarannya tentang wanita yang mirip dengan istrinya itu. Ia seolah tak terima dengan apa yang ia dengar barusan.


"Pergi kemana ya?" tanya asisten Angga yang mewakili Tuannya yang ingin tahu sesuatu tentang wanita yang tinggal di unit apartemen ini.


"Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya melihatnya saja keluar bersama dengan seorang pria," jawab seorang pembersih itu.


Asisten Angga pun menganggukkan kepalanya, lalu berterima kasih pada orang itu karena telah memberikan informasinya padanya. Asisten Angga pun bertanya pada Tuannya.


"Kita pulang atau mencarinya, Tuan?" tanya asisten Angga, semua keputusan ada di tangan Tuannya.


Tuan Raditya bukannya menjawab pertanyaan asistennya ia malah melihat kearah putranya yang sedang tertunduk sedih karena kecewa tak bertemu dengan Mamihnya. Tuan Raditya pun berlutut dan memeluk putranya. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh putranya.


"Maafkan Papih ya, Nak? Papih janji akan bawa Mamih pulang," ucap Tuan Raditya sambil mengelus punggung putranya. Tata dan asisten pun merasa sedih melihat Tuannya dan Tuan muda seperti ini.


"Bagaimana kita jalan-jalan saja," ajak Tuan Raditya yang mengalihkan perhatian putranya agar tak sedih saat kejadian ini tak seperti yang ia bayangkan.


Revan terdiam, ia tak langsung memberi jawaban atas ajakan Papih nya itu. Sudah bisa di hitung olehnya jika keluar dan jalan-jalan bersama Papih nya sangat jarang sekali ia lakukan. Papih hanya di sibukkan oleh pekerjaan dan berkerja. Hanya bibi Ta yang selalu menemaninya saat ia senang, sedih, mengeluh dan butuh seseorang saat ia belum tidur.


"Revan mau apa saja Papih wujudkan? Tapi, Revan gak boleh sedih ya," rayu Tuan Raditya agar sang putra tak sedih lagi.

__ADS_1


"Kita makan di luar yuk, Pih?" ajak Revan yang tiba-tiba, bukannya tadi sebelum ke sini sudah makan bersamanya.


Membuat Tuan Raditya mengernyitkan dahinya, aneh dengan permintaan sang putra.


"Revan laper lagi?" tanya Tuan Raditya.


Revan menggelengkan kepalanya, ia lapar hanya saja ia ingin menghabiskan waktunya bersama sang Papih nya yang jarang sekali bersamanya. Revan tak butuh apapun kecuali perhatian sang Papih untuknya. Sudah cukup ia tak bisa menikmati kasih sayang dari seorang ibu kandung, ia hanya ingin p


di perhatikan dan di beri perhatian.


"Terus ngapain ngajakin Papih makan? Kalau Revan tak laper?" tanya Tuan Raditya yang ingin tahu alasan sang putra mengajaknya.


"Revan hanya ingin menghabiskan waktu bersama, Papih. Boleh kan? Kita makan es krim bersama-sama," pinta Revan yang sepele membuat hati Tuan Raditya sakit karena kurang perhatian pada sang putra, bukannya ia tak sayang hanya saja ia mengalihkan hati dan pikirannya tentang istrinya yang saat ini belum di temukan juga. Dan kesendirian itu pun membuat sang putra merasa kecewa padanya.


Sampai di restoran, Tuan Raditya menggandeng tangan mungil putranya ia abaikan. Kali ini ia ingin mewujudkan permintaan sang putra ia tinggalkan untuk berkerja dan berkerja.


"Ayo masuk!!" ajak Tuan Raditya pada sang putra dan asisten Angga dan Tata yang mengikuti dari belakang.


Tuan Raditya memilih tempat duduk dekat jendela agar mempermudah ia berkomunikasi dengan asistennya tentang tadi, ia penasaran dengan sosok pria yang keluar dengan wanita yang mirip dengan istrinya itu.


"Hanya pesan eskrim saja?" tawar Tuan Raditya, ia akan memberi pilihan agar putranya lebih nyaman.

__ADS_1


Revan menggelengkan kepalanya, yang ia butuhkan hanya itu dan selebihnya hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan sang Papih nya saja.


Tuan Raditya tersenyum, lalu memanggil pelayan itu untuk memesan pesanan putranya dan ia hanya secangkir kopi. Tuan Raditya bertanya pada Tata dan asisten Angga untuk memesan apa yang mereka inginkan.


Sambil menunggu pesanan sampai, Tuan Raditya mengedarkan pandangannya ke penjuru sudut restoran yang membuat hatinya penasaran, ia hal yang aneh yang ia rasakan saat tiba di restoran ini.


Dan, betapa kagetnya ia melihat sosok yang ia ingin lihat dan bertemu sekian tahun lamanya. Tuan Raditya bangun dari duduknya untuk memastikan penglihatan benar-benar nyata bukan hanya bayangan saja. Menghampiri dengan langkah pelan, ia tak ingin gegabah dalam hal ini takut ia hanya bayangan saja.


Sampai di meja yang ia tuju dan memastikan dengan jarak dekat, Tuan Raditya lalu berkata...


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Rembulan....


__ADS_2