
Ucapan pria yang kemarin menyebalkan itu mengagetkan Rembulan yang sedang mengumpat suaminya yang sudah keluar dari kamar kak Siska, Rembulan terus memandangi punggung suaminya yang semakin jauh.
"Apa sih, ganggu saja dasar pria aneh. Kamu ngikutin aku ya?" tanya Rembulan, ia tidak ingin bertemu siapapun termasuk pria ini adalah adik dari suaminya.
"Apa? Ngikutin kamu, ngapain. Mending gue jalan-jalan," jawab Chiko yang di tuduh oleh wanita istri dari kakaknya.
Mendengar kata jalan-jalan, Rembulan pengen sekali jalan jalan dan melihat dunia luar lagi. Ia kangen suasana bersama teman temannya yang suka nongkrong ala ABG di kafe.
"Terus ngapain ada di sini? Jika tidak ngikutin aku, hah." tanya Rembulan yang sudah kesal pada suaminya, ia lampiaskan kekesalan pada adik dari suaminya.
"Ya terserah gue lah. Ini tuh rumah kakak gue juga dan gue berhak jika ingin di sini," jawab Chiko dengan santainya.
"Dasar aneh, gak kakaknya gak adiknya sama-sama bikin kesal saja," gurutu Rembulan yang meninggalkan tempat itu, ia keluar pengen ngadem nyatanya bikin hatinya panas tidak karuan.
Chiko yang melihat istri dari kakak hanya bisa menggelengkan kepalanya, tingkah kekanak-kanakan membuat Chiko penasaran dengan sosok perempuan itu.
"Jangan panggil aku si raja playboy jika tidak bisa menaklukkan wanita itu! Aku tidak percaya jika dia istri dari kakak ku," gumam Chiko yang tertarik dengan tingkah absurd wanita itu tidak seperti wanita pada umumnya yang selalu menjaga image untuk mencari perhatian dari seorang Chiko adik dari kakaknya yang punya perusahaan terbesar di kota ini.
.
.
.
.
__ADS_1
"Dasar kadang buntung. Tidak tertarik nyatanya diam-diam juga menghampiri kak Siska, ciuh.. ," ucap Rembulan yang teriak karena kesal telah tertipu dengan omongannya. Rembulan melemparkan batu kecil pada burung peliharaan suaminya.
"Apa burung itu membuat kesalahan sama kamu?" tanya Tuan Raditya yang sudah berdiri di belakang Rembulan.
Deg ..
Apa Tuan Raditya mendengar umpatan yang Rembulan ucapkan, tapi masa bodoh jika dia mendengarnya dan bagus biar dia mengerti tentang apa yang dirasakan oleh Rembulan.
Rembulan menoleh sebentar memasang wajah datarnya dengan berkacak pinggang.
"Mau apa kau kesini? Urus saja istri kesayangan mu itu, kau tidak perlu mencampuri urusanku," ucap Rembulan dengan ketus.
Tuan Raditya mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan omongan istrinya yang melantur itu.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Raditya lagi.
"Ini cuma burung biasa, tinggal beli lagi jika mati," jawab Rembulan.
"Memang gampang, ini tuh susah banget untuk mendapatkannya dan tidak ada satu orang pun menyentuh apa lagi merusaknya." jawab Tuan Raditya dengan tegas.
"Apa kamu menyukai burung peliharaan mu itu?" tanya Rembulan pada Tuan Raditya.
"Iya," jawab Tuan Raditya dengan singkat.
"Jadi kamu suka dengan burung itu?" tanya Rembulan lagi, ia semakin kesal dengan jawaban suaminya itu.
__ADS_1
"Dia begitu cantik saat berkicau dengan suara yang merdu." jawab Tuan Raditya yang belum peka dengan pertanyaan istrinya.
"Kalau memang suka makan saja semuanya dan nikmati semua burung itu yang kamu anggap cantik," ucap Rembulan lagi sambil berlalu meninggalkan Tuan Raditya dengan tatapan anehnya dengan tingkah istrinya yang menyebalkan.
"Kau kenapa?" tanya Tuan Raditya yang heran dengan sikap istrinya yang seperti orang sedang merajuk. Tuan Raditya pun menghalangi jalan istrinya.
"Pinggir aku mau pergi," titah Rembulan.
"Kenapa kamu jadi marah marah begini? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Tuan Raditya pada istrinya.
Rembulan menatap tuan Raditya dengan tatapan marah, ia ingin menelan pria yang ada di hadapannya sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kasih perhatian terus, dasar kadal buntung yang plin-plan...