
"Seperti orang yang lagi ngidam?" ucap pelayan tersebut yang menebak sesuatu yang ada dalam pikirannya sekarang.
Mangga muda yang asem itu yang suka di cari dan di buru oleh orang yang sedang mengandung di awal kehamilannya. Dan yang Santi bikin membuat pelayan lain menerka-nerka ke hal itu.
"Emang harus orang ngidam saja yang harus makan buah ini, hah," ucap Santi yang akan menutupi tuduhan pelayan itu, ia tidak ingin majikannya ketahuan dan berurusan sangat patal jika itu terjadi.
"Iya, sih. Tapi aneh saja nyonya Siska menginginkan makanan tersebut," ucapnya lagi yang mengingatkan sesuatu jika nyonya Siska tak menyukai buah asem itu.
"Sudahlah, jangan ikut campur. sana," usir Santi yang tak ingin di tanya lagi oleh pelayan lain takut kecurigaan akan membuat rahasia hancur dan berantakan.
Selesai membuat Santi segera ke kamar Nyonya Siska, ia melangkah dengan tergesa agar orang lain tak ada yang bertanya lagi dan curiga dengannya.
Di rumah sakit, Tata duduk dengan raut wajah khawatir dengan keadaan majikannya yang belum ada tanda-tanda seorang dokter keluar untuk memberitahukan tentang keadaan majikannya. Tata berharap semoga majikannya baik-baik saja dengan calon bayinya.
Saat Tata lagi cemas karena menunggu kabar dari dokter, seorang perawat keluar dan memberitahukan jika pasien yang bernama Rembulan itu sudah sadarkan diri.
"Beneran, sus. Tapi Rembulan baik-baik saja kan?" tanya Tata yang lega dan ingin melihat kondisi majikannya sekarang.
Melangkah dengan berlari, Tata menerobos pintu itu yang tak sabar ingin melihat kondisi majikannya.
"Gimana keadaan majikan saya, dok?" tanya Tata pada dokter tersebut.
"Kondisinya mulai mendingan dan kandungannya tidak ada apa-apa, untung segera dibawa ke sini jika terlambat akan bermasalah dengan kandungannya," jelas seorang dokter.
"Alhamdulillah, dok. Terimakasih telah menyelamatkan keduanya," ucap Tata yang bersyukur karena majikannya tak terjadi sesuatu terutama janin yang sedang Rembulan kandung.
"Ya sudah saya permisi," pamit dokter tersebut tak bertanya lagi perihal bekas di punggung pasiennya karena itu hal pribadi ia hanya mengobati saja.
Rembulan hanya terdiam dengan lemah, ia tak sanggup lagi untuk berbicara yang ia rasakan saat ini sakit hati karena perlakuan suaminya terhadapnya yang tak mendengarkan penjelasannya.
Tuan Raditya seolah percaya dengan apa yang dilakukannya, dan menuduhnya jika berkhianat dengan pria lain.
__ADS_1
Rembulan sudah menyiapkan kado suprise untuk suaminya ketika pulang, ia ingin merayakan kehamilannya dengan suami. Tapi apa yang Rembulan rasakan sebuah hinaan yang terlontar dari mulut orang yang ia cintai itu.
Menghina tanpa melihat dan mendengar penjelasannya, Rembulan seolah menjadi orang yang salah yang tak di maafkan.
"Ulan, maafkan aku ya yang tak bisa menjagamu, aku yang tak peka dengan situasi itu jika kamu dalam masalah besar," ucap Tata sambil mengelus tangan Rembulan yang sedang di pasang selang infus.
Rembulan terdiam, ia enggan untuk berbicara pada siapapun dunianya hancur bersama cintanya yang tak di percaya lagi.
"Aku tau yang di rasakan oleh mu, Ulan. Tapi kamu harus semangat, ada nyawa sedang bersemayam di perut mu," ucapnya lagi sambil menyemangati Rembulan.
"Dia tega, Ta. Menyakiti aku dan calon anaknya," lirih Rembulan dengan pelan sambil menitikkan air matanya mengingat perlakuan suaminya terhadapnya.
"Aku tau ini tak mudah untuk mu, Ulan. Kamu harus bangkit dari keterpurukan karena ada janin yang harus kamu selamatkan," Tata mulai menyemangati Rembulan.
Rembulan memegang perutnya, dan mengusapnya dengan perlahan. Jika tak adanya calon anaknya mungkin Rembulan tak akan setegar ini menghadapi hukuman itu. Rasa perih dari cambukan itu tak dihiraukan olehnya. Rembulan hanya memegang perutnya untuk melindungi calon anaknya agar tak kena oleh cambukan ayahnya yang kejam.
"Kamu kuat, kamu adalah wanita kuat yang pernah aku temui dan kamu adalah wanita yang tegar dan menjadi teman baik dan tameng jika aku dalam masalah," ucap Tata lagi.
"Kamu benar, Ta. Aku harus kuat demi calon anaknya kelak." jawab Rembulan dengan sungguh-sungguh, ia akan bertahan demi calon anaknya yang kini ia kandung. Walaupun suaminya tak mengakui jika ini adalah darah dagingnya.
"Bagus, itu namanya Rembulan wanita tangguh dan mandiri,"
Rembulan mengangguk dengan lemah, ia menggenggam tangan Tata untuk tak meninggalkan dirinya sendiri di sini karena hanya Tata lah orang satu-satunya yang saat ini Rembulan kenal sebagai teman dekatnya.
Di sisi lain asisten pribadinya Tuan Raditya sedang mencari keberadaan nyonya Rembulan yang hilang dari ruangan tersebut. Ada yang membantunya saat kabur dari kediaman rumah ini.
Ia mencurigai pelayan pribadinya juga hilang bersama Rembulan.
Angga pun menelpon Tuannya untuk melaporkan jika Nyonya Rembulan di bantu oleh Tata pelayan pribadinya.
"Halo, Tuan. Saya hanya melaporkan jika hilangnya Nyonya Rembulan ada kaitannya dengan hilangnya Tata pelayan pribadinya Nyonya Rembulan, dia pasti yang membantu untuk keluar dari kediaman ini," laporan Angga pada Tuannya di sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Cepat cari, dan bawa kemari. Saya tidak ingin ada kegagalan mengerti," ucap Tuan Raditya di sambungan sana.
"Baik, Tuan," jawab Angga yang di matikan oleh Tuan Raditya dengan sepihak.
Angga pun menyelusuri tempat rumah sakit terdekat, ia akan mengecek satu persatu rumah sakit karena Tata tak mungkin membawa Rembulan ke jauh dengan kondisi Rembulan yang tak memungkinkan.
Saat sampai di rumah sakit, Angga pun meminta resepsionis mengecek nama pasien yang ada di rumah sakit ini.
"Gimana ada yang bernama Rembulan?" tanya Angga.
"Tidak ada, Tuan. Tidak ada pasien yang bernama Rembulan," jawab penjaga itu.
Angga pun berlalu meninggalkan rumah sakit ini, ia akan mengecek rumah sakit lain demi mendapatkan nyonya Rembulan.
Beberapa rumah sakit Angga datangi tapi hanya rumah sakit kecil yang belum ia datangi dengan ragu dan ia melangkah hanya ini harapannya semoga nyonya Rembulan ada di dalam bangunan yang tak sebesar yang ia datangi tadi.
Saat ingin melangkah masuk tiba-tiba seorang wanita keluar yang entah kemana, Angga tersenyum karena telah menemukan nyonya Rembulan. Yang ia lihat adalah Tata pelayan pribadinya nyonya Rembulan.
Dengan tergesa Angga ingin masuk dan memastikan jika Rembulan ada di rumah sakit ini. Saat bertanya pada petugas penjaga itu. Dan benar jika Rembulan sedang di rawat di rumah sakit ini.
Angga pun mengabari dan memberi lokasi pada Tuan Raditya jika ia sudah menemukan Nyonya Rembulan.
Angga melangkah menuju ruangan dimana tempat Rembulan di rawat sekarang, ia akan melihat kondisinya langsung dengan kedua matanya sendiri. Ketika ia berada di ruangan yang telah suster itu tunjukkan, Angga pun membuka pintu tersebut dan benar. Rembulan sedang berbaring di atas ranjang dengan selang infus yang menempel di tangannya.
Rembulan sendirian karena Tata ingin membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh majikannya.
Saat Rembulan membuka kedua matanya, ia ingin melihat jika Tata sudah selesai membeli sesuatu untuk dirinya. Tapi Rembulan syok bukan Tata yang ia lihat melainkan asisten pribadinya Tuan Raditya.
Asisten Angga..
Yuk di like, komen ya kak, aku udah nulis sampe 3 bab loh sambil sibuk lagi ngurus bayiku.. Minta jejak jari jempolnya ya kakak🤗🤗🤗
__ADS_1