
"Tunggu, ngapain pencarian istriku di hentikan," sahut Tuan Raditya yang baru datang, ia ingin memantau perkembangan kabar dari sang istri. Dan semoga ada kabar yang menggembirakan. tapi apa yang ia dengar barusan asisten dan para Tim itu akan menghentikan pencarian istri yang sampai sekarang belum di temukan.
Asisten Angga dan para Tim itu terdiam, semuanya tertunduk takut untuk menatap Tuannya yang lagi marah.
Tuan Raditya menghampiri asistennya dan para Tim itu, ia ingin memberitahukan kalau pencarian itu tak boleh di hentikan.
"Jika kalian tak ingin mencari keberadaan istriku silahkan pergi dari sini, aku masih bisa mencarinya sendiri." ucap Tuan Raditya dengan tegas.
"Tapi, Tuan." ucap asisten Angga.
Tuan Raditya menatap asistennya, kali ini dia kecewa pada asistennya yang saat ini tak menuruti perintahnya.
"Istriku sekarang lagi butuh bantuan ku, Ga. Dia pasti sedang kedinginan dan kelaparan. Apa kamu tega, iya?" ujar Tuan Raditya.
"Tapi, Tuan. Para Tim juga butuh istirahat, mereka sangat kelelahan dan butuh energi lagi untuk mencari keberadaan nyonya Rembulan. Saya tahu tindakan saya yang tak menuruti perintah, Tuan. Tapi Tuan harus mengerti kondisi para Tim juga jangan egois." jelas asisten Angga, ia tak ingin menambah korban atas kejadian ini. Cukup para pengawal saja yang telah kehilangan nyawa atas kejadian kemarin.
Tuan Raditya terdiam, asisten Angga pun ada benarnya juga ia tak boleh egois mereka juga manusia butuh istirahat walaupun sejenak. Tapi, yang ia pikirkan saat ini keadaan sang istri yang belum di temukan saat ini. Apa kondisinya masih hidup atau sebaliknya.
"Maaf, Tuan. Jika saya lancang. Menurut saya nyonya Rembulan mungkin sekarang ini sudah----," belum sempat asistennya berkata Tuan Raditya sudah menatapnya dengan tajam.
"Aku tak ingin percaya pada siapapun kecuali aku melihatnya dengan kepala ku sendiri, mengerti?" ucap Tuan Raditya yang berlalu, pikirannya yang lagi kacau di tambah lagi asistennya yang berkata itu. Apa mungkin yang di takuti asisten Angga itu akan terjadi dan semoga itu hanya perkiraan saja.
"Gimana, Tuan?" sahut ketua tim itu yang mengagetkan asisten Angga yang melamun setelah kepergian Tuannya.
"Istirahat sejenak dan pulihkan dulu energi kalian baru kita lanjutkan lagi," perintah asisten Angga yang tak menuruti perintah Tuannya. Biar pun ia yang dapat hukuman dari pada harus merugikan orang banyak.
__ADS_1
Para Tim itu pun mengangguk, ia butuh istirahat untuk memulihkan tenaga lagi untuk mencari keberadaan nyonya Rembulan yang entah di mana keberadaannya. Cukup sulit dengan sungai yang deras itu.
.
.
.
.
Kakek tua itu membawa Rembulan ke rumahnya, ia membawa dengan bantuan orang yang lewat di sekitaran sungai itu dan di bopong sampai ke rumah untuk di obati luka di sekujur tubuhnya. Rumahnya yang jauh dari desa pemukiman membuat kakek itu hanya membawanya ke rumah yang sederhana itu.
"Terimakasih, Nak," ucap kakek itu dari pada pria baya itu.
"Kakek nemu ini wanita dari mana?" tanya Nenek itu yang menghampiri suaminya yang sudah membaringkan tubuh wanita yang butuh bantuannya.
"Kakek menu dia di pinggir sungai itu, Nek. Kasihan sekali dengan luka di sekujur tubuhnya. Kita harus obati dia ." jawab kakek itu yang mengambil obat herbal dan meracik untuk wanita malang itu.
Nenek itu pun seperti suaminya, ia begitu iba pada wanita malang ini dengan luka sekujur tubuhnya. Nenek itu pun membantu untuk menggantikan pakaian wanita yang sudah basah kuyup dan banyak darah.
.
.
.
__ADS_1
Di kediaman rumahnya, Tuan Raditya menghampiri putranya yang sedang di gendong oleh Papahnya. Ua duduk dengan wajah kacaunya.
"Apa ada perkembangan tentang Rembulan, Adit?" tanya Papah Haris pada putranya yang baru datang.
Tuan Raditya menggelengkan kepalanya, ia enggan untuk berbicara saat ini hatinya yang kacau dan pikirannya yang semakin pecah itu.
"Sabar, Adit. Rembulan pasti di temukan dan kembali pada kita," ucap Papah Haris yang menenangkan putranya dengan kacaunya, ia kasihan dengan kondisinya yang baru saja menikmati indahnya cinta dari seorang wanita yang tulus mencintainya dan harus pergi entah di mana keberadaannya.
Dan kini, bayi montok ini pun butuh sosok seorang ibu yang harus merawatnya dengan kasih sayangnya. Begitu kasihan dengan cucunya harus di tinggalkan oleh ibunya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Adit harus bagaimana, Pah??...
__ADS_1