
"Selamat datang ratu di rumah ini," ucap Tuan Raditya setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dan Rembulan begitu kaget,ia tak menyangka akan di istimewakan kembali.
"Ini rumah siapa?" tanya Rembulan. Yang ia tahu rumah suaminya bukan di sini melainkan jauh dari orang-orang dan pemukiman warga.
"Rumah kita, sayang. Ini kan yang kamu mau?" tanya Tuan Raditya, ia selalu mengingatnya jika sang istri ingin tinggal di tempat keramaian agar tak bosan seperti di rumahnya yang seperti di penjara saja.
"Terus rumah itu?" tanya Rembulan yang belum tahu tentang hal itu, saat ia tercebur kedalam sungai tersebut ia tak tahu lagi bagaimana dengan kehidupan suaminya tersebut.
"Aku tinggalkan, aku akan mewujudkan impian mu ingin memiliki rumah di tempat keramaian banyak orang dan aku berharap suatu saat nanti kamu akan kembali padaku dan Tuhan ternyata mengabulkan doaku," jawab Tuan Raditya yang kini menghampiri istrinya dan menuntunnya ke dalam rumah besar itu, ia desain sendiri sesuai keinginan sang istri.
"Terimakasih, Mas." ucap Rembulan yang menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan sang suami. Ia bahagia karena kini dirinya tak menjadi putri yang terkurung dari sangkar emasnya.
"Sama-sama, yuk masuk." ajak Tuan Raditya yang merangkul bahu sang istri dan berjalan meninggalkan teras depan rumah utama.
"Papih...," teriak Revan yang protes karena ia di tinggalkan begitu saja tanpa mengajaknya untuk masuk.
"Ya ampun Papih lupa, Van. Saking senengnya Mamih mu kembali," ucap Tuan Raditya yang menepuk keningnya, ia sampai kelupaan jika putranya belum keluar dari dalam mobil yang lagi menunggu Papih nya untuk menggendong.
Tuan Raditya langsung menghampiri putranya, ia tak ingin putranya merajuk padanya yang akan mendiamkan dirinya sepanjang hari.
"Papih gak sayang sama Revan?" tanya Revan yang ketus.
__ADS_1
"Sayang lah, Van. Tadi tuh Papih lupa saking senengnya Mamih mu kembali," jawab Tuan Raditya.
Saat Tuan Raditya merentangkan kedua tangannya untuk menggendong putranya tiba-tiba Revan turun tanpa menghiraukannya.
"Revan gak mau di gendong," ucap Revan yang turun dan ia menghampiri Mamihnya yang lagi menunggu di depan teras.
"Ayo, Mih. Kita masuk," titah Revan, ia akan membalas sang Papih dengan cara seperti tadi yang Papih nya lakukan.
Setelah Revan dan Rembulan masuk, Tuan Raditya membuang napasnya dengan kasar.
"Kenapa aku yang di tinggalkan sih," gurutu Tuan Raditya yang kesal dengan tingkah putranya.
Didalam ruangan tamu, Rembulan di buat Tercengang dengan foto berukuran besar terpanggang jelas di atas dinding tersebut. Foto pernikahannya dengan sang suami saat ia di nikahi dengan paksa karena hutang orang tuanya.
Ia pun memerintahkan asistennya untuk memasang foto pernikahannya saat Rembulan kembali ke rumah ini. Ia menyembunyikan semua foto dan semua tentang Rembulan agar ia tak merasakan sedih kehilangan belahan jiwanya. Dan putranya pun tak pernah mengenal dengan sosok wanita yang melahirkannya dan melihat fotonya tersebut.
Tuan Raditya menyembunyikan semua itu pun ada alasannya dan ia tak ingin melihat putranya sedih seperti dirinya.
"Itu foto pernikahannya Mamih dan Papih?" tanya Revan yang baru melihatnya karena sang Papih selalu menyembunyikan dengan rapih.
Rembulan mengangguk dan berlutut di hadapan putranya, ia pun ingin mengetahui jika sang putra seperti apa keseharian saat tak ada dirinya di sisinya untuk mengurus dan menemani kesehariannya.
__ADS_1
"Memang Revan tak tahu dengan wajah Mamih?" tanya Rembulan.
Revan menggelengkan kepalanya jika ia tak di bolehkan Papih nya untuk mengetahui sosok wanita yang pernah melahirkan ke dunia ini.
"Kenapa?" tanya Rembulan yang ingin mengetahuinya dan alasan apa suaminya menyembunyikan semua itu.
"Kata Papih....," belum sempat Revan melanjutkan ucapannya Tuan Raditya menyela percakapan antara ibu dan anak.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Karena aku tak ingin melihat Revan sedih seperti diriku saat melihat foto mu itu, Ulan....