
"Saya suaminya, Dok," jawab Tuan Raditya yang lebih dulu, ia tak ingin keduluan oleh pria yang tak ia kenal mengakui jika wanita yang mirip dengan istrinya itu.
"Aku tunangannya, bahkan Laura tak mengenali mu, Tuan yang terhormat," ejek Vino yang tak kalah, ia akan tetap mempertahankan walaupun ada orang yang mengakui jika dia adalah suaminya sebelum Laura mengatakannya sendiri.
Membuat dokter tersebut menjadi bingung dengan kedua pria yang ada di hadapannya sekarang, ia harus bagaimana mana untuk memutuskan siapa yang akan menemui pasien di dalam.
"Boleh saya saja, Pak dokter?" sahut Revan yang sama pusingnya melihat perdebatan antara Papih dan pria yang tak di kenalnya.
Semua orang menoleh kearah Revan dan dokter pun mengiyakan tanpa berpikir karena dari pada ia memberikan salah satu dari pria tersebut mending bocah kecil tersebut.
Dokter pun mengangguk dan tersenyum setelah itu ia pamit karena ada pasien yang lain yang harus ia periksa juga. Revan pun berjalan dan masuk ke ruangan di mana mis Laura sedang berbaring tak sadarkan diri sampai sekarang.
"Mis... Bangun, Revan kangen," ucap Revan yang memanggil wanita yang baik hati dan selalu mengajarkan apapun pada dirinya. Walaupun mis Laura baru mengajar di sekolahnya tapi bagi Revan ia sudah nyaman dan senang.
Revan menggenggam tangannya dan memberikan perhatian kecil agar bisa bangun dan melihatnya sekarang ini.
Saat tangan mungil itu memegang tangannya, Mis Laura terbangun dan mengerjapkan kedua matanya dengan pelan. Ia melihat sekeliling sudut ruangan yang begitu asing baginya.
"Dimana ini?" gumam mis Laura dan ia baru menyadarinya jika tangannya di pegang oleh anak kecil yang ia kenal.
"Revan," ucap Mis Laura yang masih lemas.
__ADS_1
"Mis Laura, apa yang sakit?" tanya Revan yang penuh perhatian, ia melihat mis Laura seperti ini begitu sakit dan tak rela.
Mis Laura tersenyum lalu mengelus tangan mungil yang sedang memegang tangannya agar bocah ini tak terlalu mengkhawatirkannya. "Mis tidak apa-apa, sayang. Dan tak ada yang sakit, jadi Revan tak perlu cemas ya?" jawab mis Laura yang menenangkan bocah yang begitu perhatian terhadapnya.
"Ini semua pasti gara-gara Papih dan Om itu ya, Mis. Nanti Revan bilangin jangan bikin Mis Laura sakit seperti ini," ucap Revan lagi, baru mengenalnya ia sudah posesif terhadap wanita yang baik hati, Revan begitu nyaman dan senang saat bersamanya, entah itu karena kontak batin yang di rasakan kedua anak dan ibu.
Mis Laura baru mengingat dengan kejadian di restoran itu, ia juga mengingat pria yang pergi bersamanya dengan makan malam bersama.
"Kak Vino kemana ya?" ucap mis Laura yang pelan tapi nyatanya masih di dengar oleh bocah 10 tahun itu.
"Om itu di luar, Mis. Bersama dengan Papih, mereka berdebat lagi," jawab Revan, ia jujur tak pernah menutupinya.
Mis Laura menarik napasnya dengan perlahan lalu membuangnya dengan cepat. Ia bingung harus bagaimana untuk meyakinkan jika dirinya bukanlah Rembulan yang di katakan nya. Tapi, ada hal yang aneh membuat dirinya enggan untuk mengatakan hal itu.
Mis Laura terhenyak lalu melihat kearah Revan dan tersenyum, ia tak mungkin mengatakan hal itu pada bocah yang tak tau apa-apa.
"Mis Laura lapar? Biar Revan kasih tau Papih untuk membelikan makanan untuk, Mis." tawar Revan yang hanya tahu soal makanan saja, ia ingin di dekat wanita yang baik hati.
"Tidak usah, sayang. Mis Laura hanya butuh istirahat saja," jawab Mis Laura yang tersenyum dan mengelus rambut Revan yang begitu lebat.
"Boleh Mis Laura bertanya?" ucap Mis Laura yang ingin tahu sesuatu tentang anak didiknya ini.
__ADS_1
Revan mengangguk dan tersenyum lalu ia duduk di samping ditempat ranjang yang di tempati oleh Mis Laura.
"Memang Mamih Revan kemana?" tanya mis Laura yang penasaran, ia ingin bertanya agar ia paham apa yang terjadi di resto itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mamih Revan katanya lagi belajar seperti Revan, dia akan kembali setelah selesai belajarnya.... Revan kangen, dan Revan tak pernah lihat Mamih Revan sekali pun...
Yuk tinggalkan komentar dan jejak jempolnya ya kak🤗🤗🤗