
"Ya ampun, Mas. Saking lamanya aku sendiri jadi lupa jika aku tuh masih punya suami," ucap Rembulan menepuk keningnya sendiri, ia hanya fokus pada putranya tak melihat jika suami sedang menunggunya untuk di layani juga.
Tuan Raditya merengut kesal dengan sikap istrinya yang harus memberitahukannya dengan langsung entah apa jika ia tak protes dengan hal itu.
"Jangan marah, Mas. Biasanya juga sendiri ya gak, Van?" tanya Rembulan pada putranya, ia seolah biasa saja.
"Mending nikah lagi walau gini caranya," gumam Tuan Raditya dengan pelan dan hanya bercanda tapi tak di sangka jika Rembulan mendengar gumaman suaminya itu.
"Tadi kamu bilang apa, Mas? Nikah lagi ya?" bentak Rembulan yang mulai mengeluarkan tanduknya, ia yang baru datang dan tinggal di rumah ini sudah di bikin emosi oleh suaminya tersebut.
"Kamu salah dengar kali, sayang. Aku bilang kangen," jawab Tuan Raditya beralasan lain, ia tak ingin istrinya merajuk dan marah padanya.
"Jauh banget nikah sama kangen. Aku dengar ya, Mas. Awas saja jika itu terjadi," ancam Rembulan tak main-main, ia tak ingin di madu seperti kak Siska dulu cukup dirinya yang menjadi ratu di rumah dan di hatinya.
Rembulan pun melayani suaminya dengan baik, hal ini ia rasakan lagi setelah kejadian beberapa tahun lalu dan yang paling Rembulan bahagia sekarang adanya putranya yang akan menemani hari-harinya.
"Makan yang banyak ya," titah Rembulan pada putranya dan suaminya tersebut, ia bahagia karena kedua pria yang berbeda umur tersebut begitu lahapnya.
"Mau nambah?" tawar Rembulan yang melihat piring milik putranya sudah habis.
Revan pun menggelengkan kepalanya dan menggeser piringnya yang sudah kosong tak tersisa. Ini adalah makan malam yang begitu menyenangkan malam ini di temani dan sesekali di suapi oleh Mamihnya. Dan yang membuat Tuan Raditya cemburu pada putranya tersebut.
"Jangan di majuin gitu bibirnya, Mas. Jelek banget," ucap Rembulan yang terkekeh melihat kelakuan suaminya yang begitu iri dengan apa yang ia lakukan pada putranya.
__ADS_1
"Papih tuh seharusnya ngalah sama Revan, Papih itu sudah tua," ejek Revan dengan tertawa saat mengatakan nama 'TUA' tersebut.
"Enak saja tua, Papih tuh masih muda," tolak Tuan Raditya yang tak terima jika ia di katakan tua oleh putranya tersebut.
"Yang muda tuh Mamih, Pih." balas Revan yang membanggakan Mamihnya di depan semua orang saat makan malam sudah selesai dan para pelayan itu membereskan sisa makanan tersebut. Terutama Tata hanya bisa tersenyum dengan kelakuan keluarga yang baru berkumpul.
"Sudah ah, ngapain pada berdebat sih, oh iya, Ta. Tolong gantikan pakaian Revan ya," titah Rembulan pada pelayan setia itu, entah apa jika tak ada Tata yang setia menemani dan menjaga saat dulu.
"Siap, Nyonya." jawab Tata yang masih hormat dan patuh di hadapannya Tuannya jika memanggil majikannya itu, tapi tidak dengan Rembulan yang membuang napasnya dengan perlahan.
"Mamih mau kemana?" tanya Revan yang takut jika Mamih Rembulan akan pergi lagi dan takkan kembali.
"Mamih mau ngobrol dulu sama Papih mu ya? Jika sudah selesai baru Mamih ke kamar Revan," jawab Rembulan, ia tahu dengan kekhawatiran putranya terhadapnya yang baru merasakan kebahagiaan yang baru ia rasakan.
Revan mengangguk dan melangkah bersama bibi Ta, ia tinggalkan orang tuanya yang akan mengobrol tentang orang dewasa.
Tuan Raditya dan Rembulan sudah duduk berdampingan di ruang tamu yang akan membicarakan banyak hal tentang kehidupannya masing-masing.
"Aku mau tanya kabar tentang orang tuaku, Mas. Apa mereka masih ada?" tanya Rembulan yang ingat pada orang tuanya itu.
Tuan Raditya menarik napasnya lalu membuangnya dengan perlahan. Ia harus memulai dari mana untuk membicarakan tentang keadaan keluarga dari mertuanya itu.
"Mamah dan Papah mertua itu---,": ucap Tuan Raditya yang menggantungkan ucapannya, ia tak sanggup harus memberitahukan tentang kabar tersebut.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?" tanya Rembulan yang penasaran dan ingin mengetahui langsung, ia pernah membencinya karena telah menjualnya pada suaminya ini demi hutang piutang lunas.
"Kenapa diam? Ada apa dengan mereka?" tanya Rembulan lagi.
"Mereka sudah tiada, Ulan. Saat aku memberi tahukan jika kamu belum di temukan dan setelah itu Mamah mertua sakit bersama Papah juga. Mereka sedih kehilangan mu dan setelah itu meninggal," jelas Tuan Raditya yang menundukkan kepalanya, ia tak tega melihat raut wajah istrinya sekarang yang tahu kabar tentang orang tuanya.
Dek...
Sakit, Pertama mendengar kabar tersebut adalah hatinya sakit. Ia yang selalu melawan dan mengekangnya dan sekarang sudah tiada.
Rembulan menitikkan air matanya karena tak tahan dengan apa yang ia rasakan saat mendengar kabar duka itu. Walaupun kedua orang tuanya telah membuangnya dan menjualnya demi hutangnya pada suaminya. Tapi, sekarang Rembulan tak mempermasalahkannya ia akan berterima kasih karena telah di berikan suami yang begitu mencintainya dengan apa adanya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Menangis lah, karena setelah ini air mata mu akan jatuh karena tangisan kebahagiaan...