
"Cukup, Adit. Jangan sakiti dia lagi, biar ini jadi urusan Papah, Papah akan kirim dia ke luar negeri agar tak mengganggu mu lagi" ucap pria paruh baya yang tak lain adalah Papah Haris. Ia yang sudah membesarkan pemuda itu sejak kecil dan mengangkatnya sebagai putranya. Tapi kelakuan Chiko membuat ia kecewa dan geram ingin membunuhnya juga.
"Papah," ucap Tuan Raditya yang kini menoleh kearah papahnya dengan tatapan marah.
Papah Haris pun berjalan dengan angkuhnya, ia mendekati putra kandungnya dan putra angkatnya yang lagi terikat di kursi.
"Papah bilang apa tadi, hentikan. Dia yang sudah menghancurkan rumah tangga Adit, Pah. Gara-gara dia hampir saja Adit kehilangan Ulan sama calon cucu Papah.," ucap Tuan muda Raditya pada Papahnya.
"Dia juga anak Papah, Dit. Walaupun dia sudah merusak rumah tangga mu tapi Papah yang akan mengurusnya, kamu fokus saja pada Rembulan." ucap Papah Haris lagi, ia yang akan menghukum anak itu yang tak tahu tanda terimakasih telah di angkat menjadi seorang anaknya dan sekarang ia menghianati merusak kebahagiaan putranya.
"Jangan bercanda, Pah. Aku yang akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri." sahut Tuan Raditya yang tak terima dengan ide Papahnya itu.
"Jangan, ingat Rembulan sedang mengandung calon anak mu," Papah Haris tak ingin putranya membunuh di saat istrinya sedang mengandung calon cucu nya itu.
Tuan muda Raditya terdiam, ia mencerna apa yang di bilang oleh Papahnya itu. Tuan muda Raditya pun menyimpan benda tajam tersebut lalu menghampiri Papahnya.
"Chiko tak akan melangkah sejauh ini jika istri mu tak menggodanya, salahkan saja istri mu itu," ucap Papah Haris sejak bertemu dengan Siska tak pernah menyukainya.
"Tetap saja mereka salah, Pah. Aku di sini yang di rugikan dan hukuman itu pantas untuk mereka,"
Papah Haris pun membuka ikatan tali di tangan anaknya lalu membawanya pergi dengan membopongnya untuk ia obati setelah itu ia akan kirimkan Chiko ke tempat agar ia tak kembali lagi ke sini. Biar Chiko berpikir dalam tindakan yang ia lakukan saat ini.
"Pah mau di bawa kemana? Aku belum selesai menghukumnya." teriak Tuan Raditya yang melihat kelakuan papahnya yang semena-mena.
Ketika Papah menoleh melihat putranya yang masih kesal dengan apa yang ia lakukan, ia tak ingin putranya menjadi seorang pembunuh di saat istrinya sedang mengandung cucunya.
"Jangan gegabah, Dit. Ada nyawa yang harus kamu perhatikan sekarang," pesan Papah Haris yang membawa putra angkatnya itu untuk di bawa ke rumah sakit.
Setelah berlalunya Papahnya, Tuan Raditya pun keluar dari ruangan orang yang melakukan kesalahan ia akan melihat istri pertamanya yang sedang di hukum juga.
Ketika Tuan Raditya sudah masuk kedalam, ia melihat Siska istri pertamanya dengan keadaan tak berdaya dengan wajah tertunduk merasakan sakit di tangannya.
Mendengar suara Tuan Raditya, Siska pun mendongakkan kepalanya dan melihat suaminya sedang berbicara dengan asistennya.
__ADS_1
"Mas, ampun, Mas. Tolong hentikan semua ini aku sudah gak kuat," mohon Siska dengan tatapan mengiba dan derai air matanya.
"Kamu menyesal?" tanya Tuan Raditya.
Siska mengangguk tanda ia mengiyakan, Tuan Raditya menghampiri Siska yang sedang duduk tak berdaya.
"Apa kamu tau jika perbuatan mu akan mendapatkan balasannya ?" tanya Tuan Raditya yang berjongkok menjajarkan dengan Siska yang sedang duduk.
Siska menatap suaminya dengan kaget dan merasa sakit di cengkram oleh suaminya begitu keras.
"Jawab, ngapain menatap ku seperti itu," bentak Tuan Raditya.
"Aku sudah jelaskan Mas. Aku cuma butuh perhatian mu," jawab Siska yang tak ingin kalah, ia memberikan alasan itu agar suaminya mengerti.
"Kamu tak berbohong kan? Kamu lagi menyembunyikan sesuatu?" tanya Tuan Raditya lagi.
"Aku tak berbohong, Mas. Kamu yang seharusnya berpikir bahwa aku bukan istri pajangan saja," jawab Siska lagi.
Tuan Raditya yang ingin bangun di tahan oleh Siska dengan mencekal pergelangan tangan Tuan Raditya.
"Aku mohon, Mas. Ampuni aku," jawab Siska yang mengiba lagi.
Tuan Raditya pun mengkode asistennya untuk hentikan, ia akan memberi pelajaran yang berbeda dengan istrinya itu. asisten Angga pun mengerti dan melepaskan tali ikatan pada tangan dan kaki Siska.
.
.
.
Di kamar, Rembulan masih merengek pada pelayan pribadinya itu yang ingin makan buah apel di pohonnya membuat Tata frustasi.
"Aku belikan saja ya?" rayu Tata dan jawaban Rembulan sama saja.
__ADS_1
Tata pun menghembuskan nafas dengan kasar, tingkah Rembulan yang mulai lagi seperti dulu dan mungkin ini akan lebih parah lagi dengan melibatkan kehamilannya sekarang ini.
"Ada apa?" tanya Tuan Raditya kini ia datang ke rumah orang tuanya setelah membereskan masalah yang ada di rumahnya.
Tata pun menunduk lalu berkata. "Nyonya ingin buah apel itu, Tuan," lapor Tata yang pastinya Tuan Raditya juga tak mengizinkan hal itu.
"Buah apel di mana? Ya kamu suruh orang untuk membelinya," ucap Tuan Raditya yang biasa.
"Tapi, Tuan." ucap Tata.
"Tapi kenapa?" tanya Tuan Raditya.
"Nyonya Rembulan pengen buah itu di makannya di pohon itu yang ada di belakang rumah ini" ucap Tata yang takut kali ini pasti Tuan Raditya juga akan marah.
"Memakan di pohonnya? Apa itu benar, Ulan?" tanya Tuan Raditya lagi dan Rembulan hanya membuang mukanya dengan kesal karena keinginannya tak ada yang bisa turutin.
Tuan Raditya menghampiri istrinya yang sedang kesal itu dan duduk di sampingnya sambil mengelus rambutnya yang hitam dan panjang.
"Kamu ingin buah itu?" tanya Tuan Raditya dengan lembut.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kamu tak mendengarnya, hah. Aku berubah pikiran kamu saja yang manjat dan ambil buah itu, sekarang!!!