Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 48


__ADS_3

Penyesalan Tuan Raditya tak ada artinya sama sekali untuk Rembulan, hatinya teramat sakit setelah merasakan sakit luar biasa. Rembulan harus merasakan hal yang tak di sangka olehnya. Baru ia merasakan manisnya cinta dan di perlakukan seperti bak bidadari surga oleh Tuan Raditya.


Tapi, itu hanya sebuah pemanis saja menurutnya. Rasa sakit menjadi rasa kecewa yang dirasakan oleh Rembulan saat ini.


Sampai di kediaman rumah Papah mertuanya, Rembulan turun dan di susul oleh Tata pelayan pribadinya yang selalu setia menemani Rembulan. Hanya Tata lah yang kini Rembulan percaya saat ini. Ia sudah memutuskan akan tinggal di rumah Papah mertuanya untuk beberapa hari setelah suaminya itu memutuskan hubungannya.


Saat ingin masuk kedalam kamarnya, Rembulan bertemu dengan Papah Haris yang sudah tahu masalah putranya dengan mantunya ini.


"Maafkan Adit ya, Nak. Papah juga kecewa dengan sikap Adit lakukan terhadap mu," ucap Papah Haris yang kecewa dengan apa yang di lakukan pada mantunya itu.


"Mungkin ini sudah jalannya, Pah. Doakan saja semoga Rembulan baik-baik saja dan calon cucu Papah juga sehat," jawab Rembulan yang selalu menghormati Papah mertuanya yang selalu baik padanya.


"Papah akan beri pelajaran untuk anak nakal tersebut, ia pasti karena istri pertamanya itu," tuduh Papah Haris yang dari ia tahu sampai sekarang tak pernah suka dengan istri pertamanya dari putranya itu.


"Sekarang kamu istirahat, jaga calon cucu Papah ya," titah Papah Haris.


Rembulan mengangguk dan tersenyum, setelah itu Tata mendorong kursi roda untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Tolong ambilkan ponsel ku, Ta." titah Rembulan pada pelayan pribadinya itu.


"Siap, Ulan. Mau saya pijitan?" tawar Tata ingin memanjakan majikannya.


"Tak usah, tolong tinggalkan aku sendiri," titah Rembulan lagi, ia ingin beristirahat saat tubuhnya masih belum stabil.


"Jika ada sesuatu atau ingin sesuatu panggil saya saja, Ulan."


setelah kepergian Tata Rembulan bangun dari kursi roda tersebut dengan hati-hati, ia duduk di ujung ranjangnya yang begitu luas.


"Kalian akan mendapatkan balasan setelah apa yang telah kalian lakukan," gumam Rembulan sambil menitikkan air matanya. Ia kecewa dengan tindakan suaminya yang gegabah dalam memutuskan masalah dan Rembulan akan membalas siapa pun yang telah menjebaknya bersama pria lain.


Tak berselang lama Tuan muda Raditya masuk ke dalam kamar Rembulan tak di kunci, ia masuk tanpa mengetuk dan permisi.

__ADS_1


"Rembulan," panggil Tuan Raditya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rembulan dengan nada dingin, ia tak lagi bisa berbicara hangat lagi dengan suaminya yang sudah menuduhnya sebagai seorang wanita murahan.


"Maafkan aku, Ulan. Kamu boleh memukul ku, memarahi ku, atau pun apa yang bisa membuat mu puas, tapi jangan tinggalkan aku," pinta Tuan muda Raditya yang berlutut di depan sang istri yang sedang duduk di pinggiran ranjang dengan wajah yang berpaling ke samping. Rembulan enggan untuk melihat wajah suaminya yang sudah bikin ia kecewa.


"Pergi lah, jangan ganggu aku," usir Rembulan tak ingin bertemu dengan suaminya.


Tuan muda Raditya pun keluar, ia memberi kesempatan pada sang istri untuk menenangkan hati yang pernah ia sakiti. dan kecewa karena tak mengakui calon anaknya yang ada di dalam kandungannya.


Raditya pulang ke rumah, ia ingin mengambil sesuatu dari dalam kamar pribadinya.


"Mas kamu sudah pulang?" tanya Siska yang menyambut kedatangan suaminya.


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri Tuan muda Raditya melihat Siska dan menanyakan adik angkatnya yang beberapa hari tinggal di rumah ini.


"Entah, Chiko hanya tiga hari saja tinggal di sini," jawab Siska sedikit gugup.


Setelah itu Tuan muda Raditya masuk tanpa bertanya lagi pada istrinya itu.


Lagi lagi Siska di abaikan, ia hanya menanyakan adik iparnya itu tak peduli padanya yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Kapan kamu melihat ku Raditya," gurutu Siska yang kesal setelah itu meninggal kamar suaminya itu.


Sorenya, Tuan Raditya dan asisten pribadinya itu ke ruang tamu, mereka melewati Siska tanpa bertegur sapa ataupun melihat sedikit pun membuat Siska merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Rasa takut pada Tuan Raditya. Takut ketahuan kalau dirinya lah yang selingkuh berujung menghadirkan nyawa dalam perutnya.


"Nyonya kenapa?" tanya Santi yang menghampiri nyonya Siska yang sedang melamun.


"Tidak apa-apa, ayo kita ke kamar ku," ajak Siska pada pelayannya. Ia akan menghubungi Chiko untuk menanyakan kabar selanjutnya tentangnya.


Di dalam kamar, Rembulan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah hari ini. Ia tak melakukan apapun hanya pergi ke rumah sakit saja membuat Rembulan terasa capek.

__ADS_1


"Kamu butuh sesuatu, Ulan?" tanya Tata yang melihat majikannya itu.


"Aku lelah sekali, Ta." adunya pada Tata.


"Mau di pijitin?" tawar Tata.


"Boleh deh, kakiku pegal sekali," ucap Rembulan mengeluh di bagian kakinya.


Tata pun mulai memijat kaki Rembulan, ia memperhatikan tubuh Rembulan yang sekarang lebih terisi karena adanya bayi di dalam tubuh Rembulan.


Kehamilan baru menginjak 4 Minggu, Rembulan memeriksanya bersama Tata di salah satu klinik langganannya.


Rembulan tak melibatkan tuan Raditya karena dirinya tak mengakui jika yang ia kandung bukanlah anaknya. Sakit memang, tapi Rembulan akan mempertahankan walaupun Ayahnya tak menginginkan kehadirannya.


"Sehat sehat ya sayang," gumam Rembulan sambil mengelus perut yang masih rata.


"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Tata, yang ia dengar jika seorang wanita sedang mengandung di kehamilan awal akan adanya acara ngidam, tapi yang Tata lihat majikannya tak menunjukkan seorang wanita hamil pada umumnya.


"Tidak, aku hanya merasakan lelah saja," jawab Rembulan.


"Mau ku panggilkan dokter?" tawar Tata, ia tak ingin terjadi sesuatu pada Rembulan yang kini sedang berbadan dua.


Rembulan menggelengkan kepalanya, ia hanya butuh pijatan saja sudah cukup baginya dan beristirahat sebentar untuk menghilangkan kelelahannya.


Hari telah berganti malam. Dan kini makan malam bersama dengan Papah mertuanya. Rembulan akan turun untuk menemani papah mertuanya itu.


"Boleh gak sih aku makan di sini saja," pinta Rembulan yang tak ingin ke lantai bawah rasanya masih lelah, lelah tubuhnya dan lelah hatinya.


"Saya akan mengambilnya kalau begitu kamu baik-baik saja di sini,"


"Terimakasih," jawab Rembulan begitu senang, ia di sini begitu di ratu kan oleh Papah mertuanya tak di rumah suaminya yang banyak aturan.

__ADS_1


Tata turun meminta izin pada Tuan besar itu jika Rembulan ingin makan di dalam kamarnya saja.


Biarkan saja, turutin apa yang dia inginkan... Jangan sampai cucu ku ileran


__ADS_2