
Ancaman Tuan Raditya yang membuat semua orang yang ada di luar ruangan tempat wanita yang mirip dengan istrinya itu terdiam termasuk Vino yang tadi dengan beraninya padanya. Ia tidak ingin kehilangan kedua kalinya membuat Tuan Raditya enggan untuk beranjak atau pun meninggalkan sedetik pun.
Revan mendekat, ia menghampiri sang Papih nya yang sedang terbawa emosi karena kejadian tadi.
"Pih..," panggil Revan sambil memegang tangan Papih nya, ia tak ingin melihat sang Papih berbuat kekerasan pada pria yang ada di hadapan Papih nya itu, ia tak ingin terjadi sesuatu pada sosok Ayah untuk dirinya.
Tuan Raditya melirik ke arah sang putra lalu berlutut di hadapan putrinya.
"Ada apa, Nak?" tanya Tuan Raditya yang mengelus kepala putranya agar tak sedih dan kecewa dengan tindakannya saat ini.
"Apa Mis Laura baik-baik saja, Pih?" tanya Revan, ia belum bisa mengatakan tentang wanita itu yang katanya adalah ibu kandungnya. Ia akan memastikan jika wanita itu beneran ibunya. Revan nyaman dan tentram saat bersamanya tapi wanita yang katanya mirip dengan Mamih itu tak mengenali siapa pun termasuk Papih nya sendiri.
"Kita tunggu saja ya? Semoga Mamih mu baik-baik saja," jawab Tuan Raditya yang kekeh jika itu adalah Rembulan, ia merasakan getaran hati yang dulu saat ia pertama melihat Rembulan.
Revan mengangguk dan tersenyum, ia genggam tangan Papih nya agar tak berdebat dengan pria itu lagi. Tuan Raditya pun menggiring putranya ke kursi tunggu agar tak terlalu lelah saat menunggu kabar dari seorang dokter yang sedang memeriksa.
Begitu pun dengan Vino, ia tak beranjak sedikit pun dari ruangan tempat wanita yang ia cintai itu berada. Ia akan menunggu kabar dari dokter tersebut.
Tata dan asisten Angga pun hanya terdiam, ia enggan untuk berkomentar atau pun memberikan pendapat jika ada yang mendesak baru ia akan turun tangan untuk membela Tuannya.
Beberapa menit pun mereka menunggu dan dokter atau pun perawat belum ada yang keluar dari ruangan itu membuat semua orang yang lagi menunggu merasa cemas.
__ADS_1
"Revan mau makan?" tanya Tuan Raditya, ia ingat tujuan datang ke resto tersebut untuk menghabiskan waktu bersama dengan putranya. Tapi, lagi lagi ada kejadian yang tak terduga, tapi ia bersyukur karena datang ke tempat itu ia bisa menemukan belahan jiwanya yang telah hilang selama 10 tahun lamanya.
Revan menggelengkan kepalanya yang ia inginkan hanya kesadaran dari guru kelas itu. Dengan mata yang mulai mengantuk Revan pun menyandarkan kepalanya di bahu Papih nya yang sudah memberikan untuk putra satu-satunya ini.
"Kita pulang saja yuk, Tuan muda. Kita tungguin nya dari rumah saja ya?" ajak Tata yang menghampiri Tuannya dan Tuan muda, ia kasihan melihatnya yang sudah mengantuk karena malam semakin larut.
Revan tetep menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan dari bibi Ta yang selalu ada untuknya, ia hanya ingin bertemu langsung dengan wanita yang katanya adalah Mamihnya itu.
Tuan Raditya memberi kode pada Tata agar membiarkan putranya di sini untuk menemani dan bertemu langsung dengan ibu kandungnya. Cukup 10 tahun ia tak merasakan kasih sayang dari istrinya itu.
Tata pun mengangguk dan mundur, ia akan mencari tempat duduk untuk menemani Tuan mudanya jika Tuan mudanya berubah pikiran, ia tak mungkin meninggalkan Revan yang ia urus dari bayi tersebut. Revan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri dan berjanji pada Rembulan tak akan meninggalkan walaupun sedetik pun saja.
Saat seorang dokter keluar bersama dengan perawat segera Tuan Raditya dan pria yang bernama Vino pun menghampiri dan menanyakan keadaan tentang wanita yang sedang di tangani oleh dokter tersebut.
"Pasien yang bernama Laura tidak apa-apa, dia hanya syok saja," ucap seorang dokter tersebut.
Membuat keduanya bernapas lega, lalu bertanya. "Apa saya boleh masuk, Dok?" tanya kedua pria tersebut. Membuat seorang dokter jadi bingung.
"Hanya boleh satu orang saja ya, karena pasien masih butuh istirahat," saran dokter tersebut.
"Saya saja, Dok." ucap Tuan Raditya.
__ADS_1
"Saya saja, Dok," ucap Vino juga yang berbarengan.
"Keluarga pasien siapa?" tanya seorang dokter.
"Saya," ucap dua pria yang berbarengan.
Dokter yang bingung pun mengernyitkan dahinya dan memandang kearah dua pria tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Saya suaminya, Dok...