Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 104


__ADS_3

"Itu, itu ada cowok ganteng banget, Lun." tunjuk Hesti pada pria yang menaiki sepeda motornya sama seperti Aluna. Dan Aluna pun menoleh dan penasaran dengan sosok yang selalu temannya ceritakan tadi pagi sampai sekarang. Dan Aluna melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, pria yang barusan berurusan dengan di bilang paling ganteng oleh temannya itu.


"Itu kan? Cowok nyebelin bukan ganteng. Ganteng apanya coba?" sahut Aluna yang tak habis pikir dengan kelakuan temannya itu. Kalau melihat cowok ganteng pasti matanya tak akan melirik pada siapapun termasuk dirinya.


"Mata lu buta apa, hah? Segitu gantengnya Lo bilang apa tadi?" tanya Hesti yang tak terima dan ia mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna itu.


Aluna tak memperdulikan ocehan temannya itu ia pun menyalakan motornya dan bergegas pergi dari hadapan temannya itu yang mulai fokus memandang kearah pria itu.


"Lun, gue nebeng pulang ya? Soalnya bokap gue hari ini ada urusan jadi gak bisa jemput gue," ucap Hesti, ia masih memandang pria tersebut sampai bayangannya juga tak terlihat olehnya.


"Lun, kenapa lu diam saja sih," tanya Hesti yang aneh dengan sahabatnya itu, soalnya Aluna yang cerewet kini tak menyahut omongannya. Dan, saat Hesti menoleh ia melotot dan melihat sekeliling tak ada temannya dan kendaraannya pun juga tak ada.


"Alunaaa... Ya ampun gue di tinggalkan sama dia, baru mau nebeng tuh. Hari ini nasib gue gini amat ya, ponsel rusak, gak di jemput, dan sekarang di tinggal teman sendiri." gerutu Hesti yang ingin mengamuk di sini juga, ia bingung pulang ke rumah dengan apa? Ponselnya mati dan bokap nya pun tak bisa menjemputnya.


"Ini semua gara-gara si Luna..," teriak Hesti dan teman-temannya yang belum pulang pun memandang kearahnya dengan tatapan aneh.


"Apa Lo lihat-lihat, sana pergi," usir Hesti yang memandang kearahnya.


.


.

__ADS_1


.


.


Revan yang akan mampir ke perusahaan sang Papih nyatanya tak jadi karena jadwal kuliahnya bertambah oleh sang dosen dan di tambah lagi tadi ada kejadian yang membuat Revan marah dengan tangannya yang masih memerah karena tumpahan kuah. Ia akan pulang dan minta untuk di obati oleh Mamihnya karena rasa perih masih ia rasakan saat ini.


Sampai di kediamannya, Revan masuk setelah memarkirkan motor kesayangannya ia pun masuk dan mencari keberadaan Mamihnya itu.


"Mih..," panggil Revan, ia seperti anak kecil jika sudah bertemu dengan Mamihnya. Rasa sayang dan cintanya pada wanita hebatnya yang baru bertemu saat ia berumur 10 tahun membuat Revan haus akan kasih sayang dari Mamihnya itu dan bibi Ta selalu ada dan sampai sekarang masih menjomblo tak ingin mendapatkan mendamping, ia hanya ingin hidupnya di habiskan untuk Tuan dan nyonya saja.


Saat masuk ia bertemu dengan bibi Ta yang sudah tak muda lagi tapi hati kecilnya begitu baik seperti malaikat tak bersayap.


"Bibi Ta lihat Mamih?" tanya Revan yang bertemu dengan bibi Ta.


"Itu tangan kamu kenapa, Tuan muda?" tanya bibi Ta yang khawatir, ia yang begitu cemas melihat seperti itu dan dari kecil pun Revan selalu tak lepas darinya.


"Cuma ketumpahan kuah saja, bibi Ta. Tadi sudah diobati tapi sekarang sakit lagi," adunya pada pengasuhnya dari kecil, Revan akan mengadu dan menceritakan apapun tentang yang ia rasakan dari mulai sedih, bahagia dan senangnya saat di luar sana. Bibi Ta ada tempat di hatinya selain Mamihnya itu.


"Sini biar bibi Ta obati?" tawar Tata yang begitu kasihan, ia melihat Revan kecil terjatuh saja sudah menangis dan sekarang ada bekas kuah tersebut.


"Bibi Ta tak usah khawatir ya? Revan sudah besar dan ini mau di obati lagi," ucap Revan yang menenangkan pengasuhnya itu.

__ADS_1


Tak berselang lama Rembulan datang dari arah belakang dan menghampiri putra dan pelayan pribadinya itu.


"Ada apa?" tanya Rembulan pada mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ini, Ulan. Tangan Tuan muda memerah bekas kuah katanya... Cepetan obati nanti inspeksi...


__ADS_2