
"Aluna..," panggil temannya dari arah belakang, ia mengejar temannya yang sudah berbuat hal yang sempat ia marah dan mengejarnya sampai dapat.
"Permisi, Kak. Aku segera pergi lain kali aku akan bertanggung jawab," jawab gadis itu yang bernama Aluna ia pun berlari dan belum sempat mendengar jawaban dari pria itu.
"Dasar gadis aneh, bikin gue jadi malu dan pergi gitu saja. Awas saja nanti jika bertemu lagi tak akan ku lepaskan." gurutu Revan yang kesal, di hari pertama ia masuk ke universitas ini sudah di bikin kesal dan emosi oleh wanita itu.
Dan teman yang satunya itu yang sempat meneriakinya pun sampai di depan Revan dengan suara yang memburu karena kelelahan mengejar temannya itu.
"Ngapain di lepas sih, Kak. Susah tuh dapat dia," omel temannya pada Revan yang tak tahu apapun dan Revan pun mengernyitkan dahinya karena bingung dengan dua gadis ini.
"Apa urusannya dengan ku," tanya Revan dengan nada dinginnya.
Wanita itu terdiam dan melirik kearah pria tersebut dengan tatapan mata yang berbinar saat memandang wajah pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Masa Allah ini nih ciptaan yang paling sempurna yang pernah aku temukan," ucap gadis itu yang tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Pria tampan, tinggi, putih dan pokonya idaman para wanita.
"Aneh," sahut Revan yang meninggalkan gadis itu yang masih memandang kearah dengan tak berkedip.
Hari pertama Revan masuk dan memperkenalkan diri setelah itu berlangsungnya pelajaran yang diberikan oleh dosen tersebut. Dan waktu jam istirahat pun telah tiba, Revan pun keluar untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Di sini ia adalah mahasiswa baru yang tak kenal siapa pun termasuk seorang teman untuk menemaninya. Saat sampai di kantin, Revan yang mencari kursi kosong untuk ia duduk dan memesan makanan. Semua mahasiswi melihat kearahnya seperti biasa tak berkedip saat memandanginya, tapi Revan tak menghiraukan dan mengabaikan orang-orang tersebut.
__ADS_1
Ketika ia berada di kantin dan memesan sesuatu untuk mengganjal perutnya, Revan pun mulai mengecek ponselnya yang sedari tadi berdering tak henti. Satu pesan dari sang Papih nya yang menanyakan dirinya akan datang atau tidak.
Revan membalas pesan dari Papih nya, ia fokus pada ponselnya tak menghiraukan di sekelilingnya yang begitu ramai di kantin ini.
"Itu cowok ganteng banget ya," banyak siswi yang berkata seperti itu dan Revan tak memperdulikan itu.
Saat ia ingin bangun untuk pergi ke kamar mandi tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang yang lagi membawa sesuatu yang begitu panas membuat Revan marah dan kepanasan.
"Aw," ucap Revan yang menatap kearah yang tadi menabraknya dan ia pun kaget dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Kamu lagi," ujar Revan yang sudah tersulut emosi, ia sudah di bikin sial oleh gadis yang tak ia kenal sudah berbuat kesalahan dengannya sampai dua kali.
"Ini bukan salah aku ya! Kamu sendiri bangun tak lihat kanan kiri fokus terus sama ponsel mu," balas gadis yang bernama Aluna itu, kali ini ia tak terima di tuduh salah nyatanya pria itu yang salah.
Dan semakin marah saja Revan, ia pun menarik tangan gadis itu untuk keluar dari kantin itu dan tak memperdulikan pesanan dan rasa laparnya yang tadi ia rasakan. Hilang sudah dengan kejadian tadi dengan gadis itu.
"Eh, eh. Mau di bawa kemana aku," ucap Aluna yang sempat memberontak tapi tenaganya tak sekuat pria ini dan hal hasil ia pun pasrah mau di bawa kemana.
Dan tujuan Revan kali ini adalah ke ruangan tempat di mana siswa dan siswi di bawa ke ruangan UKS untuk pertolongan pertama.
__ADS_1
"Ngapain ke sini?" tanya gadis yang bernama Aluna itu mengernyitkan dahinya yang mulai cemas dan takut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa kamu tidak lihat ini nih tangan ku kena kuah yang kamu bawa, hah. Sekarang kamu harus obati...