Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 34


__ADS_3

Rembulan juga merasakan hal yang sama seperti Tuan Raditya yang sudah terbakar birahinya karena ulah suaminya itu, saat menginginkan lebih sebuah ketukan membuat keduanya harus menghentikan aktivitasnya. Rembulan segera turun dan menghampiri Papahnya yang sedang mengganggu kegiatan yang menyenangkan.


Rembulan merendam dengan aroma terapi yang ia suka, kali ini Rembulan mandi sendiri tidak di temani oleh Tata pelayan pribadinya itu.


Ingin rasanya merutuki Papah mertuanya itu, tapi kebaikan yang Papah mertuanya berikan itu tak sebanding saat ia di ganggu.


"Aku sangat berharap lebih dari itu, tapi Papah itu terus mengetuk pintuku, andai Papah itu tak mengganggu kegiatan ku bersama Tuan Raditya mungkin sekarang aku menikmati indahnya surga dunia yang di tawarkan olehnya." ucap Rembulan dengan cekikikan. Membayangkan kegiatan yang pertama kali Rembulan rasakan.


Tuan Raditya meninggalkan Rembulan dengan keadaan seperti ini, ia harus menghadiri meeting penting bersama para petinggi perusahaannya.


Kesal memang, tapi Rembulan tidak bisa berbuat apapun jika Papah mertuanya lah yang mengetuk pintu tersebut. Ia ingin egois meminta suaminya itu untuk tinggal bersama dengan di rumah ini. Tapi, Bagaimana pun Rembulan tidak boleh egois, ada kak Siska yang berhak atas suaminya tersebut. Dirinya hanya istri keduanya Tuan Raditya.


"Kalau aku pamerkan pada kak Siska apa reaksinya ya? Pasti dia akan membunuhku jika tahu aku sama Tuan Raditya telah melakukan yang begitu nikmat tapi harus tertunda." Rembulan cekikikan, ia menggerutu dirinya sendiri.


Tok.. Tok...


"Ulan, apa kamu ada didalam?" tanya Tata sudah masuk ke dalam kamar majikannya. Ia masuk tapi tak menemukan sosok majikannya. Dan ia mendengar suara percikkan air dari dalam kamar mandi.


"Iya, aku ada di dalam," teriak Rembulan pada pelayannya.


Tata pun lega jika majikannya ada di dalam, setelahnya ia menyiapkan pakaian untuk Ulan kenakan hari ini.


Satu jam sudah, Rembulan merendam di dalam kamar mandi membuat Tata begitu khawatir dengan keadaan majikannya yang belum selesai juga.


Tok... Tok...


"Ulan, ini sudah lama sekali loh kamu berendam, nanti kamu masuk angin. Cepetan keluar atau...," teriak Tata yang menakuti majikannya dengan memanggil pelayan yang lain agar membantu ulan untuk bersiap.


"Iya, iya. Bawel banget sih, Ta. Ini aku sudah selesai," jawab Rembulan dengan nada tinggi. Ia mengambil handuk kimono nya dan keluar dengan keadaan segar.

__ADS_1


Segera Tata membantu Rembulan untuk memakaikan pakaiannya dan membantu untuk merias wajah dan penampilan agar lebih menarik perhatian Tuan Raditya.


"Aku mau seperti biasa, yang simpel dan natural saja. Jangan berlebihan," ucap Rembulan selalu mengingatkan tentang itu, ia tidak ingin seperti kak Siska yang selalu glamor jika menyangkut penampilannya.


"Cie cie... Senyum senyum..," goda Tata yang tahu hal semalam Tuan Raditya tidur di paviliunnya Rembulan.


"Apaan sih, Ta. Ngapain ganggu aku saja," jawab Rembulan dengan salah tingkah karena ketahuan oleh pelayannya.


"Nanti saja menghayal nya, Tuannya juga tidak ada," ucap Tata lagi yang menggoda majikannya yang terus tersenyum.


"Tata." bentak Rembulan yang sudah memerah karena malu.


Tata menahan tawanya melihat majikannya yang sedang salah tingkah karena godaannya. Nampak sangat jelas jika majikannya sedang berbunga-bunga karena jatuh cinta pada Tuannya.


.


.


.


.


"Sepi banget di sini," gumam Rembulan yang mengedarkan pandangannya kearah lain, ia berjalan ke halaman belakang dan melihat sekeliling hamparan tanah yang luas.


Hamparan tanah yang luas banyak pohon dan tanaman seperti bunga dan buah-buahan.


Rembulan menghirup udara segar di pagi hari, walaupun ia berada di halaman belakang tapi suasananya begitu sejuk dan indah, ada beberapa pohon yang berbuah kesukaannya.


Rembulan melihat ada sebuah pohon besar yang menarik perhatiannya untuk ia didatangi. Tanpa takut Rembulan melangkah seorang diri yang sedang penasaran.

__ADS_1


Setelah di depan pohon besar itu, Rembulan memandang dan melihat keatas puncak tinggi pohon tersebut.


"Tinggi sekali, buahnya juga lebat. Pengen tapi yang matang ada di atas sana," ingin Rembulan mengambil buah tersebut tapi ia berpikir dengan cara apa untuk mendapatkan buah itu yang lumayan tinggi.


Rembulan mengelilingi pohon tersebut, ia menemukan sebuah tangga yang lumayan tinggi. Rembulan pun membawanya untuk mengambil buah tersebut.


Dengan susah payah Rembulan membawa tangga tersebut untuk sampai di sana, ia pun meletakkan tangga tersebut saat tangannya sampai kesemutan.


Ia pun meletakkan tangga tersebut pada pohon yang ia akan ambil buahnya. Rembulan pun menaiki satu persatu anak tangga tersebut sampai di tengah anak tangga.


Baru ingin memetik satu buah mangga Rembulan di kejutkan dengan teriakan suara yang membuat ia kaget, Rembulan tak pun melepaskan tangan itu pada ranting pohon yang ia pegang. tiba-tiba ia pun jatuh ke bawah dengan rasa takutnya.


Aaarghhhh..


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bruk....


__ADS_2