
"Apa kamu tidak lihat tanganku kena kuah yang kamu bawa , hah. Sekarang kamu harus obati." bentak Revan saat ada di depan ruangan tempat siswa dan siswi di obati atau istirahat.
Gadis itu menatap tangan pria itu, ia jadi kasihan melihat tangan pria itu jadi kemerahan akibat ulahnya.
"Ayo obati malah bengong lagi," bentak Revan lagi yang membuyarkan lamunan gadis itu sambil melihat luka di tangannya.
"Iya, iya. Aku obati. sini," jawab Aluna sambil menarik tangan itu dan Revan menjerit kesakitan karena ulahnya.
"Eh, sakit tau. Ini tangan bukannya sembuh malah tambah sakit." omel Revan yang tak habis pikir kenapa ia bisa bertemu dengan gadis yang bar-bar dan aneh seperti itu.
"Pengen di obati gak? Kalau mau sini, kalau tidak mau ya udah." ucap Aluna yang tak kalah meninggikan suaranya. Ia tak takut takutnya pada pria yang baru ia temui dan mulai mencari masalah.
"Nih cewek benar-benar ya, ya di obati lah. Lo yang bikin gue seperti ini dan Lo harus tanggung jawab,"
"Siapa yang duluan menabrak aku, hah." balas Aluna tak salah menatap wajah pria itu, dan kedua saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang berbeda.
Dan, Aluna pun dengan terpaksa mengobati dan telaten. Ia tak ingin di cap tak bertanggung jawab oleh pria yang baru ia kenal.
"Udah," ucap Aluna setelah mengoleskan salep pada kulit yang merah karena tumpahan kuah bakso yang tadi ia pesan.
Revan pun menatap gadis itu dengan tatapan tajam, ia pun berdiri dan bergegas pergi keluar dari ruangan UKS ini.
"Dasar pria aneh, sudah di tolongin gak bilang terima kasih," gerutu Aluna yang menatap punggung pria itu semakin jauh. Ia pun bangun dan menghampiri penjaga yang menjaga ruangan itu untuk berterima kasih.
__ADS_1
Setelah itu Aluna masuk kedalam kelasnya untuk mengambil tasnya. Hari ini jadwal kelas sudah selesai waktunya ia untuk pulang dan istirahat karena hari ini ia merasakan lelah tubuh dan pikirannya.
Saat ingin menaiki sepeda motornya yang berbeda dari para gadis lain, Aluna mengendarai sepeda motor sportnya yang di belikan oleh orang tuanya itu.
"Kena kamu," ucap Hesti yang tadi pagi mengejarnya dan baru sekarang ke tangkap.
"Astaghfirullah, Hes. Gak lihat apa aku lagi nyalain motor," jawab Aluna yang kaget dan takut karena ia tertangkap oleh teman.
"Mau lari kemana? Gue capek, Lun. Ngejar-ngejar lu terus dari pagi mana belum sarapan lagi," keluh Hesti pada Aluna.
"Suruh siapa belum sarapan," balas Aluna yang mematikan mesin motornya.
"Ganti ponsel gue, cepetan."
"Gak mempan ya, Lun. Lo harus ganti," ucap Hesti. Ia sudah berkali-kali di buat seperti ini tapi ujung-ujungnya ia juga yang harus mengalah dan membiarkan semua itu.
"Bulan depan Ok," ucap Aluna yang ingin bernegosiasi pada temannya. Pasalnya ia hari sudah kehabisan biaya karena orang tuanya belum mentransfer uang bulanan untuk dirinya.
Hesti pun menarik nafasnya dengan kasar lalu membuangnya dengan perlahan. Pasti ujung-ujungnya akan seperti ini dan ia pun harus menerimanya dari pada sama sekali. pikirnya.
"Janji ya? Awas aja sampai gak di ganti. Akan ku laporkan pada orang tuanya jika kamu--," belum sempat Hesti melanjutkan ucapannya Aluna pun memotongnya dengan cepat.
"Iya, iya. Bawel banget sih." ucap Aluna dengan cepat dari pada rahasia di bongkar oleh temannya itu.
__ADS_1
"Lun, Luna..," panggil Hesti yang memandang kearah yang baru saja lewat.
"Apaan sih," jawab Aluna yang belum menyadarinya. Ia sibuk untuk menyalakan motornya karena ingin segera pulang.
"Itu," ucap Hesti dengan wajah yang berbinar.
"Iya, apaan?" tanya Aluna lagi sambil menatap kearah apa yang sedang temannya pandang.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Itu, itu ada cowok ganteng banget, Lun...