
"Semua yang ada di kantin ini akan di traktir sama pria ini ya? Jadi jangan sungkan untuk mengambil dan menambah pesanannya." ucap Aluna yang puas mengerjai pria itu, dengan kerumunan semua orang yang gembira atas traktiran dari seorang siswa baru di universitas Gunadarma ini di tambah lagi yang mentraktirnya adalah seorang pemuda tampan incaran para wanita yang tak berkedip saat menatap pemuda itu.
Tapi, lain dengan Revan. Ia melotot tak percaya dengan tindakan gadis itu yang tekad menjadikan dirinya sebagai orang yang membayar semua yang sedang makan di sini, Revan pun bangun dan menghampiri gadis itu yang sudah keterlaluan padanya.
"Apa maksud mu, hah?" tanya Revan yang tak terima. Bukan ia tak bisa membayar semua orang yang makan di kantin ini. kantin beserta isinya juga Revan sanggup dan itu terbilang kecil baginya. Yang jadi masalahnya gadis itu sudah bertindak keterlaluan dan membuat seorang Revan Putra Raditya itu murka.
"Apa? Aku hanya memberitahukan mereka saja," jawab Aluna yang tak takutnya dan ia malah tersenyum mengejek kearah pria itu.
Dan, Revan pun menarik tangan wanita itu dan membawanya ke belakang kampus yang tak jauh dari kantin tersebut. Ia akan memberikan sedikit pelajaran agar gadis itu tak membuat onar padanya.
"Mau di bawa kemana aku," ucap Aluna yang berontak, ia takut tangannya di tarik dengan kencang oleh pria itu.
Tak ada jawaban dari Revan, ia pun menariknya jika sampai di belakang kampus. Cukup sepi dan pas saat memberi pelajaran pada gadis ini atas tindakan yang iya lakukan.
Revan pun menghempaskan tangannya itu dan Aluna terhuyung karena dorongan yang pria itu.
"Apa-apaan loe kayak gitu, hah." bentak Revan dengan wajah tatapan tajamnya.
__ADS_1
Aluna terdiam, kali ini ia tak membalas perkataan dari pria itu. Bentakan seorang pria membuat Aluna terdiam seribu bahasa tak ada lagi Aluna si cewek pemberani dan melawan pada siapapun termasuk orang tuanya.
"Sekarang Lo bayar sendiri tuh di kantin, Lo yang bikin pengumuman itu dan Lo harus tanggung jawab." ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan Aluna yang masih terdiam karena takut dengan bentakan Revan.
Setelah berlalunya pria itu Aluna tersadar dan melihat sekeliling tak adanya pria itu membuat ia menepuk keningnya sendiri karena keisengannya itu, mau tak mau pun Aluna kembali ke kantin dan mempertanggungjawabkan semua keisengannya itu.
Saat sampai di kantin semua orang menunjuk kearah Aluna dan melihat Aluna dengan tatapan senangnya karena mereka sudah banyak mengambil apa yang mereka inginkan.
"Nah ini dia orangnya," sahut Hesti yang menghampiri sahabatnya itu dan merasa lega, ia tidak ingin membayar semua yang ada di kantin ini termasuk pesanannya sendiri karena uang saku jajannya tak cukup untuk membayar semua yang ada di kantin tersebut.
"Apa?" tanya Aluna yang begitu polos, ia yang membuat keributan dan ia pun seperti tak tahu dengan keadaan ini.
"Kirain gue cowok itu yang akan bayarin ternyata gue juga yang apes banget," keluh Aluna, ia bisa saja membayar semua tagihan di kantin tersebut.
"Terus cowok ganteng itu kemana?" tanya Hesti yang mengedarkan pandangannya mencari sosok cowok ganteng itu, dan ia baru menyadarinya.
"Pergi, entah kemana itu cowok. Gak kasihan apa sama cewek semanis gue," jawab Aluna yang membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Gue di sini, biar gue yang bayar....