
"Hasilnya positif 99,9% akurat, Tuan." ucap asisten Angga yang telah membaca kertas itu berulang-ulang kali, membuat Tuan Raditya mematung sesaat.
Apa yang dikatakan asistennya bagai peluru terbersayam di hatinya. Ia meragukan calon anaknya yang masih ada di kandungan Rembulan. Tuan Raditya memejamkan kedua matanya untuk meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.
"Coba ulangi, Ga." ucap Tuan Raditya yang ingin mendengar sekali dan ia mendengar dengan jelas.
"99,9% akurat, Tuan. Bayi yang di kandung nyonya Rembulan itu adalah darah dagingmu, Tuan." jelas asisten Angga untuk mengulangi permintaan Tuannya.
Tuan Raditya mengambil kertas itu, ia ingin melihat dan membacanya langsung. Dan benar, apa yang ia dengar dan di bacakan oleh asisten itu.
Menyesal sudah tentu, Tuan Raditya memandang kearah Rembulan yang masih terdiam tanpa bersuara sedikit pun. Melangkah dengan pelan Tuan Raditya menghampiri Rembulan istri yang ia sakiti.
"Rembulan..," panggilan pertama kali saat kejadian itu terlontar dari mulut Tuan Raditya.
"Rembulan..," panggilnya lagi sambil melangkah menuju Rembulan yang tak jauh darinya.
"Stop," cegah Rembulan, ia tak mau lagi berurusan dengan suaminya sekarang. Perasaan dan batinnya sekarang sudah hancur dan sakit karena perlakuannya terhadap dirinya.
"Aku ingin tinggal bersama Papah Haris," pinta Rembulan yang sudah di sepakati jika kebenaran itu benar ia bisa keluar dari rumah itu.
"Tapi,"
"Tolong jangan mempersulit keadaan, Mas." ucap Rembulan lagi.
Asisten tahu dengan kondisi ini, ia meminta dan memohon pada dokter itu agar keluar dari ruangan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga Tuannya. Asisten Angga akan menyodok atau menyewa ruangan pribadi dokter tersebut.
Semua keluar, hanya ada tiga orang yang sedang berdiri dengan perasaan masing-masing. Rembulan tak mengizinkan pelayan pribadinya untuk pergi dan meninggalkan dirinya dengan pria kejam yang ada di hadapannya sekarang.
__ADS_1
"Maaf," ucapan kata maaf pun keluar dari mulut Tuan Raditya, ia menyesali perbuatannya yang telah menyiksa dan tak mengakui jika itu anaknya.
Rembulan tersenyum, ia bahagia karena kebenaran itu telah terungkap dan satu lagi yang belum terungkap.
"Sayang..," ucap Tuan Raditya yang sudah ada di hadapan Rembulan, saat ingin menggenggam tangan istrinya, Rembulan pun menepisnya dengan kasar.
"Terlambat Tuan Raditya yang terhormat," sahut Rembulan.
"Aku tau, Rembulan. Dan aku menyesal. Terlalu kecewa atas apa yang telah terjadi padamu, Ulan. Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilangan mu," jawab Tuan Raditya yang penuh penyesalan. Andai waktu bisa berputar ia akan mendengar penjelasan istrinya.
"Lalu yang kemarin kamu kemana saja, Tuan Raditya. Saya sudah memohon dan bersumpah jika bukan perbuatan ku dengan pria itu. Kamu tak mau mendengar penjelasan ku, melihat ku juga sepertinya sangat jijik." ucap Rembulan yang mengingat semua yang telah Tuan Raditya lakukan terhadapnya. Rengekan, rintihan, dan meminta ampun tak kau hiraukan. Dan apa sekarang, kamu menyesalinya, TERLAMBAT. ucap Rembulan yang menekan kata terlambat, ia sudah muak menjadi istri yang di kurung dan kini ia di perlakukan seperti hewan tanpa belas kasih.
Tuan Raditya bersimpuh di hadapan Rembulan, ia menangis menyesali perbuatannya yang telah menyakiti dan menyiksa Rembulan yang sedang mengandung buah hatinya.
"Maafkan aku, sayang..." ucap Tuan Raditya dengan lirih sambil memegang tangan Rembulan.
"Kamu tidak lupa dengan janjimu kan," ucap Rembulan yang mengingatkan janji yang pernah Rembulan dan Tuan Raditya sepakati.
Tuan Raditya mengingatnya, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai sedang mengandung.
"Kamu harus menempati janjimu Tuan Raditya yang terhormat, dan sekarang aku menagihnya karena kebenaran sudah terungkap," ujar Rembulan yang memalingkan wajahnya. Ia tak ingin melihat wajah sedih Tuan Raditya yang sedang memohon padanya.
"Kamu boleh menghukum ku asal jangan pernah tinggalkan aku, Ulan. Aku akan melakukan apapun agar kamu memaafkan ku,"
"Ayo, Ta. Kita pergi dari sini. Di sini kita sudah selesai," ajak Rembulan yang mengabaikan penyesalan Tuan Raditya padanya. Kesalahannya sudah membuat Rembulan kecewa dan tak percaya lagi dengan adanya cinta.
"Rembulan.. Rembulan... Rembulan...," teriak Tuan Raditya yang penuh penyesalan. Ia menangis meraung-raung karena di tinggalkan oleh Rembulan.
__ADS_1
Rembulan keluar bersama Tata, ia melihat asisten pribadinya Tuan Raditya masih setia menemani Tuannya di depan pintu ruangan pribadi dokter tersebut.
Asisten Angga menundukkan kepalanya saat nyonya Rembulan keluar dan pergi entah kemana..
Asisten Angga pun masuk ingin mengetahui keadaan Tuannya yang sedang hancur mengetahui pakta yang ada.
"Tuan..," panggil asisten Angga menghampiri Tuannya yang sedang menangis. Belum pernah melihat Tuannya menyesali kesalahan dan kebodohannya karena telah percaya dengan kebohongan yang orang itu buat.
"Rembulan, Ga. Dia meninggalkan ku," adu Tuan Raditya pada asistennya.
"Sabar, Tuan. Mungkin nyonya butuh ketenangan," menenangkan Tuannya.
.
.
.
.
.
.
.
Aaargghh... Bodoh, bodoh, bodoh. Aku mempercayai semua itu. Menyakiti istriku sendiri dan tak mengakui calon anakku sendiri....
__ADS_1