
Setelah mengatakan itu Revan pun tertunduk lagi, ia sedih saat membayangkan kejadian tadi bersama Papih nya.
"Mungkin Papih Revan lagi sibuk kali, jadi Revan gak boleh gitu ya?" ucap mis Laura yang menenangkan anak muridnya yang lagi kecewa.
Revan pun menganggukkan kepalanya saat mis Laura mengatakan hal itu, ia lebih tenang saat ia di yakinkan oleh guru kelasnya.
Pelajaran pun berlanjut dan Revan tak seperti tadi dengan raut wajah sedihnya, ia bisa menerima semua alasan Papih nya yang sekarang sedang sibuk demi dirinya.
Selesai belajar, Revan pun merapihkan bukunya untuk pulang. Kali ini ia akan di jemput oleh suster yang selalu menjaga dan merawatnya. Revan memanggilnya dengan sebutan bibi Ta untuk panggilan untuk pengasuhnya.
.
.
.
Di gerbang pintu sekolah Tuan muda Revan, Tata yang sekarang ini sedang menunggu untuk menjemput tuan mudanya, ia tak pernah masuk atau mengantarkan langsung ke kelasnya hanya saja sampai di depan pintu gerbang seperti Tuan Raditya lakukan saat pagi tadi.
Revan dan mis Laura berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, Mis Laura yang ingin selalu dekat dengan bocah yang berumur 10 tahun ini. Entah apa yang ia rasakan saat ini saat sedang bersama bocah bernama Revan ini.
"Mis pulang ke mana?" tanya Revan yang nyaman saat sedang bersama mis Laura.
"Mis tinggal di apartemen, sayang." jawab mis Laura yang tersenyum.
"Revan anterin ya?" tawar Revan yang senang dan bahagia.
"Tidak usah, sayang. Revan pasti sekarang sedang di tungguin sama Papih nya?" tolak mis Laura yang tak enak, ia memberikan alamatnya pada siapapun termasuk anak muridnya. mis Laura sudah berjanji pada tunangannya tak boleh sembarang memberi alamat pada siapapun.
__ADS_1
"Papih tak akan menjemput, Mis. Papih sekarang sedang sibuk, yang jemput Revan bibi Ta," ucap Revan.
Mis Laura yang baru beberapa minggu ini mengajar di sekolah ini, ia yang suka dengan anak kecil dan mencari kesibukan sendiri yang selalu menunggu di rumah dengan bosan.
Saat di depan gerbang, Mis Laura dan Revan menghampiri wanita yang sedang menunggu Tuannya di pintu gerbang.
"Bibi Ta," panggil Revan yang mengagetkan Tata yang berdiri sedang menunggu.
"Iya, Tuan muda," sahut Tata yang membalikkan tubuhnya dan menatap kearahnya.
Dan, di detik ini pula Tata kaget dan syok melihat apa yang ia lihat sekarang. Sungguh tak percaya yang ia lihat sekarang.
"Rembulan..," panggil Tata yang mengucek kedua matanya, ia ingin memastikan penglihatan yang sekarang ini tak salah.
Tata pun menghampiri Rembulan dan Tuan muda Revan yang bersama Rembulan.
"Ini benar kamu, Ulan. Aku tak salah melihat kan?" tanya Tata yang tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini. Entah apa yang semalam ia mimpikan hingga bertemu dengan majikannya yang sudah hilang selama 10 tahun lalu.
Mis Laura mengernyitkan dahinya tak paham dan tak mengerti dengan panggilan orang yang ia baru ia lihat memanggil dengan sebutan asing bagi Laura.
"Anda salah orang, Mbak," ucap mis Laura yang tersenyum.
"Salah orang gimana? Kamu Rembulan, majikan ku yang selama ini hilang," jawab Tata yang selalu meyakinkan jika dirinya tak salah.
"Saya Laura bukan Rembulan yang anda sebutkan tadi," ucap Laura.
"Laura..," ucap Tata yang mengulangi perkataan wanita yang mirip dengan majikannya yang dulu.
__ADS_1
Mis Laura mengangguk tanda mengiyakan ucapan wanita yang ada di hadapannya sekarang, ia tak tahu tentang nama panggilan itu untuk dirinya.
"Tapi," ucap Tata yang senang tapi bingung dengan apa yang sekarang ini ia temukan.
"Bibi Ta, mis Laura ini guru kelasnya Revan." sahut Revan yang membuyarkan kedua orang yang sedang bingung.
"Dia guru Revan?" tanya Tata lagi, ia yakin jika wanita yang mirip dengan majikannya itu adalah Rembulan. Tata sudah kenal lama dan terus menemani Rembulan sampai 24 jam tak mungkin Tata tak bisa mengenali wajah dan postur tubuh Rembulan yang dulu dan sekarang. Memang ada yang berbeda dengan penampilannya sekarang.
Revan mengangguk, ia tersenyum pada mis Laura karena bangga telah memperkenalkan pada bibi Ta sekarang ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi, dia juga ibu kandung mu Tuan muda...