
"Nyonya Siska, tuan," ucap Tata, Tuan muda Raditya pun sudah menduganya jika dalang dari kejadian ini adalah mantan istrinya. Ia pun pergi untuk menghubungi asistennya agar mencari keberadaan mantan istrinya itu sampai dapat. Ia ingin membalaskan apa yang sudah di lakukan oleh Rembulan dan bayinya.
Tak membutuhkan waktu yang lama asisten Angga meringkus Siska sedang bersembunyi di kota yang terpencil untuk menghindari amukan dari mantan suaminya itu. Siska tak menyangka jika dirinya mudah di temukan setelah ia meninggalkan tempat itu.
"Lepas, kamu mau apakan aku, hah. Aku tak akan memaafkan kalian." teriak Siska yang meronta di bawa oleh anak buahnya Tuan muda Raditya.
Di sini lah, Siska di sekap di ruangan sempit sedikit berantakan.
Datang lah Tuan muda Raditya menghampiri mantan istrinya yang telah menghancurkan semua hidupnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah Tuan muda Raditya menggema di ruangan yang sempit ini, Siska yang melihatnya dengan tatapan kebencian. Ia tak merasa takut setelah ia di ceraikan begitu saja tanpa menghiraukan rengekan dan permintaannya saat itu. Bencinya berkali-kali lipat saat ia sedang mengandung tak ada satu orang pun yang perduli dengan. Dan dendam yang Siska lakukan adalah sakit hati karena di perlakukan tak adil oleh mantan suaminya itu.
"Dimana Rembulan?" tanya Tuan muda Raditya bertanya dengan nada pelan, ia ingin berbicara dengan Siska hati ke hati agar wanita itu dengan mudah memberitahukan tentang dimana keberadaan istrinya.
Sudah ketebak jika mantan suaminya itu akan mencari keberadaan istrinya bernama Rembulan, Siska tersenyum penuh arti.
"Aku tak tahu, kenapa tanya padaku. Bukannya dia istri kesayangan mu," jawab Siska yang tak mengakui perbuatannya yang sudah ia lakukan.
"Aku tanya lagi di mana Rembulan?" tanya Tuan muda Raditya sedikit membentak.
Siska tertawa begitu kencang, ia tak merasa takut pada sosok pria yang sudah meninggalkannya demi bocah tengil itu.
"Kamu tak akan bisa bertemu dengan istri mu itu, Tuan muda. Dia sudah tenang di neraka," ejek Siska seolah ia senang karena berhasil menyingkirkan Rembulan dari hidup mantan suaminya.
"Jawab yang benar atau aku--,"
"Atau aku apa? Kamu mau membunuh ku iya? Silahkan aku sudah tak perduli lagi dengan hidup ku ini," sentak Siska yang menyela perkataan dari mantan suaminya itu.
Tuan muda Raditya tak menyangka dengan keberanian seorang Siska setelah ia ceraikan. Tuan muda Raditya pun mencengkram kedua pipi Siska dengan kuat.
"Jika kamu tak mau memberitahukan tentang keberadaan Rembulan aku akan membunuh anak mu yang ada di dalam perut mu," ancam Tuan muda Raditya yang melihat kehamilan Siska sudah trimester kedua. Membuat Siska seketika memegang perutnya yang sudah kelihatan besar.
"Jangan macam-macam kamu," bentak Siska, ia tak ingin ada satu orang pun menyakiti calon bayinya yang masih ada di perutnya. Calon bayinya adalah keluarga satu-satunya, yang ia miliki di dunia ini setelah Ayah dari calon anaknya tak ingin mengakui anaknya berada dalam kandungannya. Siska akan mempertahankan calon anaknya walaupun ia harus menerima kenyataan jika ia harus berjuang sendirian.
"Aku kasih pilihan, beritahu istri ku atau ku bunuh bayi dalam perut mu jika kamu tak mau memberitahukannya," ancam Tuan muda Raditya pada mantan istrinya itu.
__ADS_1
Siska yang mulai bingung dengan ancaman mantan suaminya yang akan melenyapkan calon anaknya yang belum menyapa dunia.
"Satu.. Dua.. Ti--," ucap Tuan muda Raditya yang menghitung angka agar Siska buka mulut tentang keberadaan istrinya itu.
"Aku lempar ke sungai," jawab Siska dengan pasrah, ia tak ada pilihan lain selain memberitahukan pada mantan suaminya itu.
"Apa? Kamu melemparkannya ke sungai saat istriku sedang koma," bentak Tuan muda Raditya yang tak habis pikir dengan kelakuan Siska.
Siska pun memberitahukan dimana Rembulan di lemparkan, Tuan muda Raditya pun pergi ke sungai itu untuk mencari keberadaan sang istri yang sedang membutuhkannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tak becus menjaga kalian." lirih Tuan muda Raditya sambil meneteskan air matanya.
Tuan muda Raditya tak akan memaafkan mantan istrinya itu, ia menghukum Siska dengan menjebloskan Siska ke polisi. Ia tak ingin mengotori tangan untuk menghukum wanita itu.
.
.
.
"Tuan," cegah Angga yang menarik tubuh Tuannya yang akan melompat juga ke sungai yang deras itu.
"Lepas, Ga. Istriku butuh bantuan ku, dia tak bisa berenang." ucap Tuan Raditya yang meronta dari dekapan asistennya, ia pikirkan hanya Rembulan karena sang istri tak bisa berenang.
"Tenang, Tuan. Sungai itu sangat deras sekali. Saya akan memerintahkan pengawal lain untuk mencari nyonya Rembulan," ide asisten Angga, ia tak mengizinkan Tuannya ke sana di tambah tubuhnya yang tak memungkinkan.
"Tapi istriku butuh aku, Ga. Rembulan butuh aku jangan sampai terjadi sesuatu dengannya," kekeh Tuan Raditya yang masih meronta.
Dan pukulan dari bahu punggung pun asisten Angga lakukan, ia tak mungkin membiarkan Tuannya pergi ke sana dengan memaksakan diri. Tubuh Tuan Raditya sudah tak sadarkan diri oleh asisten Angga, dan membawanya pulang ke kediamannya di bantu pengawal yang lain. Sementara yang lain mencari keberadaan nyonya Rembulan yang terjun ke sungai itu.
.
.
.
Sampai di kediaman, asisten pribadinya merebahkan tubuh Tuannya di atas kasurnya. Ia melihat keadaan sekeliling kediaman rumah ini Tuan besar.
__ADS_1
"Kasihan sekali dengan Tuan, semoga nyonya Rembulan segera di temukan. Aku tak bisa membayangkan jika nyonya Rembulan tak bisa di temukan." ucap lirih asisten Angga yang melihat keadaan Tuannya yang berbaring tak sadarkan diri.
asisten Angga pun keluar, ia ingin memberitahukan pada Tuan besar apa yang telah terjadi pada putranya.
"Tuan..," panggil asisten Angga ketika papah Haris pulang dari rumah sakit.
"Gimana kondisi putraku, Ga?" tanya Papah Haris pada asisten putranya.
"Dia baik-baik saja, Tuan besar. Maaf saya yang sudah memukulnya, karena Tuan muda nekad untuk meloncat ke sungai itu," jelas asisten Angga yang takut jika Tuan besar akan marah padanya ketika ia melakukan itu pada putranya.
"Tidak apa-apa, tolong lebih banyak lagi pengawal untuk mencari mantuku." titah Papah Haris.
"Baik, tuan besar." jawab asisten Angga dengan patuh.
Asisten Angga pun masuk kedalam kamar tuan mudanya, ia ingin melihat kondisinya setelah ia memukul di bagian belakang kepalanya.
Saat masuk Tuan muda Raditya sudah sadarkan diri dari pingsannya, ia mengedarkan pandangannya dari dalam ruangan yang ia kenal adalah kamarnya.
Tuan muda Raditya melihat kedatangan asisten Angga masuk kedalam kamarnya.
"Dimana istriku, Ga. Apa Rembulan sudah di temukan?" tanya Tuan Raditya.
.
.
.
.
.
.
Belum, Tuan. Kami masih mencarinya....
Yuk yuk di kemon, like dan votenya ya... biar ramai
__ADS_1