Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 58


__ADS_3

Kandungan Rembulan sudah menginjak trimester tiga membuat Rembulan susah untuk bergerak, badannya tambah gemuk dan perutnya yang semakin besar membuat tak leluasa untuk bergerak bebas. Ada saja keluhan Rembulan akhir akhir ini.


Tata yang menemaninya harus ekstra sabar untuk menghadapi majikannya yang super aneh dan bikin orang merasakan jengkel dan kesal. Tapi Tata selalu menemaninya titah Tuan Raditya.


Papah mertuanya juga sering mengabulkan keinginannya yang ia mau, rasa bahagia yang ia rasakan saat tinggal di rumah Papah mertuanya membuat Rembulan begitu nyaman dan tentram. Ia tak ingin kembali ke rumah suaminya yang bagai neraka baginya.


.


.


.


.


Tata yang menemani Rembulan untuk jalan santai di pagi hari agar persalinannya berjalan lancar dan mudah. Ini adalah momen yang paling Rembulan benci karena setelah ini ia akan merasakan pegal di bagian kakinya yang sedikit bengkak itu.


"Kenapa diam, ayo jalan lagi," titah Tata yang melihat kebelakang Rembulan yang berhenti berjalan.


"Cape, aus, lapar." ucap Rembulan yang sudah terbiasa, ia tak bisa menghentikan nafsu makannya saat hamil trimester ketiga ini.


Tata membuang napasnya dengan perlahan lalu mendekati Rembulan yang berdiri tak jauh darinya.


"Bukannya tadi sudah makan di tambah lagi ngemil puding coklat," sahut Tata yang tak habis pikir dengan pola makan majikannya yang drastis meningkat tinggi.


"Jangan salahkan aku, Ta. ini tuh bayi aku yang mau," jawab Rembulan yang memberi alasan seperti itu dan Tata pun sudah biasa mendengar hal itu. Lag dan lagi bayinya yang jadi sasaran saat Rembulan menginginkan hal itu.


"Baiklah, tapi makan buah saja ya," tawar Tata, ia tak mungkin memberikan makanan berat karena baru saja Rembulan sudah makan di tambah lagi ngemil puding coklat.


Rembulan merenggut kesal, tak yang selalu di batasi konsumsi makanan untuk dirinya yang sewaktu-waktu lapar tanpa mengingat siang ataupun di malam hari.


.


.


.


.


Di ruangan kerja, Tuan Raditya bersama Angga sang asisten pribadinya sedang diskusi tentang anak cabang perusahaan yang sedang di pimpin oleh adik angkatnya itu yaitu Chiko, ia akan mengambil alih yang sudah ia percayakan.


"Kita bisa berangkat sekarang, Tuan," ucap Angga yang melihat jam yang ada di tangannya sudah menunjukkan waktu untuk Keduanya melakukan hal yang mereka rencanakan.


"Tapi, Ga. Perasaan ku tak enak beberapa hari lalu." adu Tuan Raditya pada asistennya, ia merasa ada hal yang akan terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


"Itu hanya perasaan Tuan saja, mungkin beberapa hari ini sebentar lagi nyonya Rembulan akan melahirkan, Tuan," ucap Angga yang menenangkan hati Tuannya yang sedang gelisah.


"Mungkin, tapi setelah kita pergi aku ingin menemui istriku dulu," balas Tuan Raditya setelah itu ia bangkit dari kursinya lalu meninggal asistennya sedang membereskan berkas yang harus di bawa.


Tuan Raditya berjalan dengan langkah angkuhnya dan tatapan dinginnya, ia begitu merindukan sosok istri tengil itu. Beberapa hari ini Tuan Raditya tak ingin jauh-jauh dari Rembulan.


Ceklek..


Tuan Raditya membuka pintu kamar Rembulan dan melangkah masuk setelah melihat istrinya sedang duduk sambil memakan cemilan.


"Kamu makan apa?" tanya Tuan Raditya yang berbasa-basi.


"Cuma buah apel saja, Tata tega tak mau memberikan makanan untuk ku," adunya Rembulan pada suaminya sambil merengek kesal.


"Memangnya kamu lapar?" tanya Tuan Raditya.


Rembulan mengangguk dan tersenyum, ia akan memberikan wajah yang begitu menggemaskan agar suaminya bisa menuruti keinginannya.


"Mau makan apa?" tanya Tuan Raditya yang tak bisa menolak keinginan sang istri di tambah ada calon anaknya yang butuh nutrisi.


Dan benar saja dugaan Rembulan, suaminya pasti akan memberikan apa yang ia inginkan tak seperti pelayan pribadinya itu yang banyak aturan dan banyak mencegahnya.


"Aku pengen bakso, gado-gado, cumi bakar dan soto ayam," jawab Rembulan tanpa dosa menyebut semua makanan itu.


"Kamu serius?" tanya Tuan Raditya yang menanyakan lagi tentang apa yang di sebutkan oleh istrinya.


Rembulan mengangguk dengan mantap, ia sudah membayangkan makanan itu ada di hadapannya sekarang.


Melihat wajah Rembulan, Tuan Raditya pun mengiyakan keinginannya dan memerintahkan pelayan lain untuk membelinya.


"Terimakasih suami ku," ucap Rembulan dengan bahagia, karena suaminya selalu memberikan yang terbaik untuknya dan calon anaknya yang akan hadir beberapa minggu lagi.


Tuan Raditya mengelus perut sang istri yang kini sebesar buah semangka itu dan mengecupnya tanda ia menyayangi calon anaknya kelak.


"Sehat-sehat ya sayang jangan bikin Mamah susah ya," ucap Tuan Raditya pada calon anaknya yang ada di perut sang istri.


Rembulan tersenyum, ia bahagia karena Tuan Raditya telah membuktikan jika dirinya akan berubah dan menyayanginya dengan sungguh-sungguh. Rembulan pun mengelus rambut suaminya saat berbicara dengan calon anaknya.


"Aku pergi dulu, mungkin akan pulang telat," ucap Tuan Raditya yang pamit pada Rembulan.


Rembulan yang sudah biasa mendengar hal itu, dan sekarang ia seperti ada hal aneh tak ingin di tinggalkan oleh suaminya ini.


"Kamu kenapa?" tanya Tuan Raditya yang melihat Rembulan merenggut kesal.

__ADS_1


Rembulan menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin memberitahukan kegelisahan pada suaminya. Entah apa yang kini ia rasakan.


"Jaga diri baik-baik ya? Jangan capek dan istirahat yang cukup, mengerti," pesan Tuan Raditya yang mengecup kening istrinya.


Rembulan pun mengangguk dan tersenyum, ia akan menurut perintah suaminya demi kebaikannya.


"Aku pergi ya," ucap Tuan Raditya yang meninggalkan Rembulan.


Saat Tuan Raditya pergi datanglah Tata yang membawa pesanan Rembulan yang tadi di sebutkan pada Tuan Raditya.


"Nih, astaga, Ulan. Itu perut apa tempat penampungan makanan sih, dari tadi tak kenyang kenyang." omel Tata yang meletakan makanan itu di atas meja di kamar Rembulan.


Rembulan bangun dan menghampiri makanan itu, ia mulai mencicipi satu persatu makanan itu dengan lahapnya. Membuat Tata menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri Tuannya itu.


"Ta, aku pengen es krim di depan minimarket di depan sana," pinta Rembulan sedang mengunyah makanan yang belum habis.


"Es krim, itu saja belum habis," ucap Tata begitu kaget dengan apa yang di inginkan Rembulan.


"Ayo antar aku, cepetan." rengek Rembulan harus di turutin.


"Baiklah," dengan pasrah Tata mengikuti apa maunya majikannya untuk menemani ia membeli es krim kesukaannya.


Berjalan dengan jalan kaki Rembulan di temani oleh Tata dengan perut besarnya itu, Rembulan begitu senang dengan apa yang ia inginkan.


Dari kejauhan ada sebuah mobil yang mencurigakan melihat kearah Rembulan dan pelayan itu, seorang wanita tersenyum penuh selidik pada Rembulan. Wanita itu pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kearah Rembulan yang sedang berjalan kaki menuju minimarket itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat tinggal Rembulan...

__ADS_1


__ADS_2