Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 99


__ADS_3

Di dalam kamar Rembulan membuka kedua matanya karena tak mendapati sosok suami itu di sampingnya. Dan ia pun bangun dengan pelan agar putranya tak terganggu saat dirinya turun dari ranjang tersebut.


Rembulan mengedarkan pandangannya dan di kamar mandi pun tak ada suara gemercik air menandakan jika sang suami tak ada di dalam sana. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari keberadaan sang suami.


Malam semakin larut menandakan semua penghuni di rumah ini sudah tertidur lelap di kamarnya masing-masing. Rembulan pun turun ke lantai satu dan benar dugaannya jika sang suami ada di ruang tamu. Berjalan menghampiri dan melihat keadaan sang suami yang tertidur di sofa itu.


Rembulan menggelengkan kepalanya dengan tingkah suaminya itu saat tertidur dengan keadaan duduk. Dan Rembulan pun pergi untuk mengambil selimut untuk suaminya itu.


Menyelimuti sang suami dengan selimut agar tak kedinginan nyatanya membuat sang suami terjaga tidurnya dan menatap kearah dengan has bangun tidur.


"Yang, kok kamu keluar bukannya tidur," sahut Tuan Raditya dengan suara has bangun tidur sambil menguap.


"Terus ngapain kamu, Mas. Tidur di sini?" tanya Rembulan, ia tak menjawab pertanyaan sang suami malah balik bertanya.


"Lagi pengen keluar saja, di dalam bikin aku kesal saja," adu Tuan Raditya yang mengingat itu.


"Kesal kenapa?" tanya Rembulan yang merebahkan tubuhnya di sisi sang suami yang lagi duduk.


"Anak kamu," balas Tuan Raditya.


"Oh, berarti itu bukan anak kamu, iya." ujar Rembulan yang tak terima jika putranya menjadi sasaran keinginannya yang tak bisa di penuhi.


"Bukan gitu, Yang. Hari ini Revan manja banget tak seperti biasanya," jawab Tuan Raditya yang serba salah, ia bingung harus mengatakan tentang apa yang mengganjal dalam hatinya.


Rembulan pun membuang napasnya dengan perlahan lalu menatap kearah suaminya yang sama saling menatap juga.


"Ayo tidur, Mas. Udah malam," titah Rembulan pada suaminya itu.

__ADS_1


Tapi tak bagi Tuan Raditya, ia memikirkan cara dan kesempatan malam ini untuk ia lakukan dengan baik dan sebuah ide pun terlintas dari otaknya.


"Kamar tamu yuk?" ajak Tuan Raditya yang mengedipkan matanya. Ini adalah kesempatan tak boleh di buang secara cuma-cuma karena kalau sudah ada putranya semua bisa hancur.


"Ngapain?" tanya Rembulan yang belum peka dengan ajakan suaminya itu.


Tuan Raditya menepuk keningnya, ia memberi kode itu pun tak bisa membuat sang istri bisa mengerti dan paham tentang apa yang ia sampaikan.


"Berenang," jawab Tuan Raditya dengan asal.


"Ngapain berenang tengah malam, Mas. kan dingin." jawab Rembulan yang bingung dengan permintaan sang suami yang tak masuk asal.


"Ya salam, ni istri tak bisa di kodein ya. yuk," tarik Tuan Raditya langsung agar sang istri tahu.


Keduanya sekarang berada di dalam kamar tamu dan Tuan Raditya pun tak lupa mengunci kamar tersebut agar tak ada orang yang menggangu ritual yang ia inginkan. Rembulan yang duduk di samping ranjang hanya bisa pasrah dan ia pun sudah tahu jika sang suami menginginkan hal itu.


Dan kejadian itu pun dan yang di inginkan Tuan Raditya pun tercapai juga, yang ia inginkan pun surga dunia yang ia nanti-nantikan selama ini malam ini sudah terbayar juga dengan sang istri yang sudah terkapar lemes gara-gara dirinya. Tuan Raditya tersenyum bahagia dan bangga karena sang istri begitu melayani dengan baik dan bisa memuaskan dirinya.


Pagi yang begitu cerah membuat seisi rumah di buat cemas karena rengekan Tuan muda yang mencari keberadaan kedua orang tuanya yang tak ada di dalam kamarnya.


"Mamih dan Papih kemana..," teriak Tuan muda sambil menangis. Tata pun menghampiri tapi sebelum itu ia mengetuk pintu itu karena tidak enak pada Tuan dan nyonya nya.


Tata pun menghampiri saat tak ada yang membuka pintu itu dan rasa khawatirnya pada Tuan muda melebihi anaknya sendiri.


"Tuan muda kenapa?" tanya Tata yang kini ada di hadapan Tuan mudanya.


"Mamih dan Papih gak ada," jawab Revan sambil menangis.

__ADS_1


"Kita ke bawah ya! Dan kita cari sama-sama," rayu Tata yang begitu kasihan melihat anak asuhnya begitu sedih.


Tata pun menuntun Tuan mudanya dan mencari keberadaan nyonya dan Tuannya itu, ia tak bisa lagi menggendong karena Tuan muda sudah besar.


Sampai di lantai bawah, Tata dan Revan mencari setelah ia sudah mencari di lantai dua tak ada sosok yang mereka cari dan keduanya pun memutuskan untuk kebawah dan mencarinya.


"Mamih kemana ya, bibi Ta. Apa Mamih pergi lagi," cemas Revan yang khawatir dengan keberadaan Mamihnya yang pergi lagi, baru saja ia merasakan apa itu sosok seorang ibu.


Ceklek...


Yang jadi tersangka itu pun keluar dan tanpa dosa menghampiri putranya yang sedang sibuk mencari mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Nah ini nih yang culik Mamih...


__ADS_2