Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 119


__ADS_3

"Emang kamu mau menikah?" tanya Mamah Mentari yang memancing agar sang putri mau membuka hatinya untuk pria lain.


"Gak, itu belum kepikiran sama Luna." jawab Aluna sambil bangun dari kursinya karena ia sudah selesai sarapan dan akan ke kamarnya lagi.


"Sampai kapan, Lun. Mamah tuh kesepian pengen nimang cucu." balas Mamah Mentari, ia begitu kesepian saat suami dan anaknya sudah pergi beraktivitas masing-masing. Ia bingung setelah mengurus kedua orang yang begitu berharga baginya.


"Bukannya Mamah suka arisan sama teman-teman ya?" tanya Aluna, ia pikir sang Mamah selalu menyibukkan diri dengan teman-temannya di luar sana.


"Gak setiap hari, sayang. Mamah tuh harus bagaimana setelah kalian pergi beraktivitas masing-masing." keluh Mamah Mentari, setelah melahirkan buah hatinya yang bernama Aluna sagita itu Mentari tak lagi mengandung anak lagi, ia juga tak mengerti dan tak ada masalahnya dengan kandungannya.


Tuan Reyhan memandang sang istri yang aneh tak biasanya, ini tak seperti sifat sang istri yang selalu ceria dan tanpa mengeluh sedikitpun. Apa ada yang sedang di sembunyikan oleh sang istri, pikirnya.


"Kamu kenapa, Mah?" tanya Papah Reyhan. Ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri.


"Mamah tuh kadang sepi, Pah. Sendirian di sini gak ada temen ngobrol untuk menghilangkan kejenuhan di rumah ini." keluh Mamah Mentari yang mengeluarkan isi hatinya. Kali ini ia mengatakan saat ini karena ia ingin sekali sang putri selalu ada di rumah ini.


"Kamu dengarkan, Lun. Mamah bilang apa? Jadi, jangan keluyuran gak jelas sama teman-teman kamu tuh," pesan dari sang Papah yang selalu menuruti keinginannya dan kali ini ia tak ingin mengecewakan belahan jiwanya karena untuk mendapatkan seorang wanita yang kini menjadi pendampingnya segitu sulit dan butuh pengorbanan.


"Iya, Pah." jawab Aluna yang tak bisa melawan jika sudah sang Papah yang memerintahkan dirinya, ia akan menjadi anak yang penurut seperti anak yang takut di marahi oleh orang tuanya.


Mamah Mentari tersenyum, ia hanya karena telah ada di dalam kehidupan Reyhan entah apa jika saat itu ia tak menerima dan malah meninggalkannya mungkin ia takkan merasakan kebahagiaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Tuh kamu dengarkan, sayang. Jika putri kita akan menuruti keinginan kita ya? Kamu jangan sedih lagi ya," rayu Tuan Reyhan sambil mengusap pipi sang istri yang masih terawat di usianya yang lagi muda.


Mamah Mentari tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia tak akan sebahagia ini saat bersama dengan sang sandaran hatinya, tapi ia teringat dengan sahabat dan teman semasa kecilnya itu yang selalu ada dan merebutkan pria yang sama-sama ia cintai itu.


"Pah," panggil Mamah Mentari saat mengingat itu semua.


"Apa?" tanya Tuan Reyhan yang ingin berangkat ke kantor karena hari semakin siang.


"Apa kabarnya dengan Vina ya? Kok Mamah jadi kangen gini ya sama dia," ucap Mamah Mentari yang mengingat sahabat dan teman sedari ia masih bayi.


Tuan Reyhan menoleh sesaat sebelum ia melangkah kakinya lagi, ia pun terdiam dan mengingat sesuatu yang ia pernah melihat di mana wanita yang bernama Vina itu.


Tuan Reyhan tersadar dari lamunannya saat sang istri mengusap tangannya dan melihat sekeliling tak ada putrinya itu.


"Minggu kemarin Papah lihat Vina, Mah. Tapi Papah sih tidak yakin itu Vina," ucap Tuan Reyhan yang sudah mengingat sesuatu tentang ia melihat Vina di sebuah mall saat ia meeting di sana dengan rekan kerjanya.


"Dimana, Pah?" tanya Mamah Mentari yang penasaran.


"Di mall tapi Papah tak yakin dia sih, Mah." jawab Tuan Reyhan yang masih ragu.


"Mamah pengen ketemu, Pah. Sama Vina di mana dia sekarang?" tanya Mamah Mentari yang begitu antusias, ia begitu merindukan sosok sahabatnya yang selalu ada untuk dirinya.

__ADS_1


"Papah juga tidak tahu, Mah. Dimana dia tinggal, saat itu Papah hanya melihatnya di sana."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bisa cari tahu tentangnya, Pah. Mamah sangat merindukannya...

__ADS_1


__ADS_2