Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 72


__ADS_3

"Setelah makan siang bersama kita kesana untuk temuin Mamih mu," sahut Tuan Raditya saat di ambang pintu kamar putranya, keduanya menoleh berbarengan karena kaget dengan ucapan Tuan Raditya.


"Papih benar?" tanya Revan yang senang, ia ingin bertemu lagi dengan Mis Laura yang katanya Mamih kandungnya.


"Tapi, Tuan. Apa Tuan tahu dimana rumah Nyonya Rembulan?" tanya Tata yang saat ini belum diketahui di mana keberadaan majikannya. Ia hanya bertemu dengan di sekolah tempat dimana Tuan mudanya Belajar dan lebih kagetnya yang jadi guru kelasnya adalah wanita yang sama dengan majikannya itu.


"Aku sudah memerintahkan Angga untuk mencari tahu keberadaan tentang wanita yang mirip dengan istri ku itu," jawab Tuan Raditya yang sudah bertindak saat Tata memberitahukan tentang apa yang ia lihat tadi siang.


Tata tersenyum, semoga apa mereka lakukan membuahkan hasil dan benar jika wanita itu benar-benar majikannya yang hilang selama 10 tahun lalu. Tata yang begitu merindukan majikannya yang selalu baik dan menjadi temannya saat dulu.


Revan tak kalah senang, ia bahagia karena hari ini adalah momen paling bahagia yang ia nanti-nantikan selama 10 tahun ini. Dan semoga apa yang di katakan oleh Papih dan bibi Ta benar dan ia akan menjadi seorang anak yang paling bahagia di dunia ini karena akan memiliki keluarga yang lengkap seperti teman-temannya itu.


Dari ia sekolah kanak-kanak sampai ia sekolah dasar ia selalu iri dengan teman-temannya yang selalu di temani oleh ibu kandungnya sendiri, sedang dirinya hanya di antar oleh bibi Ta saja.


"Ayo, Tuan muda. Kita makan dulu setelah itu baru kita pergi untuk temui Mamih Tuan muda," ajak Tata yang membuyarkan lamunan Revan yang sudah membayangkan hal itu akan terjadi.


Revan pun mengangguk dengan semangat, ia berjalan lebih dulu agar sampai di meja makan yang sudah tersedia berbagai makanan kesukaannya. Revan pun menarik kursinya dan duduk, ia akan menunggu bibi Ta untuk mengambilkan makanan untuknya yang sudah biasa Tata lakukan dari bayi sampai sekarang.


Kadang Tata merasa kasihan dengan Tuan muda yang selalu melamun dan berdiam diri di samping kolam renang, ia juga butuh sandaran seorang ibu kandung untuk mencurahkan isi hatinya dan segala keinginannya. Tuan Raditya yang selalu sibuk dan sibuk tak setiap hari memperhatikan putra semata wayangnya bersama Rembulan.


"Mau ini?" tawar Tata yang menawarkan berbagai macam lauk untuk Tuan muda, ia sudah biasa melayani Tuan mudanya karena sudah berjanji pada Rembulan untuk menjaga dan merawat putra dari Rembulan. Ia akan menganggap Tuan muda seperti anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Sudah bibi Ta," tolak Tuan muda Revan yang sudah cukup banyak, ia ingin segera menyelesaikan makanan dan ingin bertemu dengan Mis Laura yang katanya ibu kandungnya.


Tuan Raditya melihat putranya yang begitu semangat dan ingin segera bertemu dengan wanita yang katanya mirip dengan istrinya itu, dan ia berharap apa yang ia rasakan benar dan tak ingin mengecewakan putranya yang sudah bahagia.


.


.


.


.


.


Tapi, ia merasakan hal aneh saat bertemu dengan bocah anak muridnya itu, ada hal yang aneh yang ia rasakan seperti tak ingin jauh dari bocah berumur 10 tahun itu. Ia merasa nyaman dan tak ingin jauh-jauh. Dan ia belum bisa menerka hal itu.


Ketukan pintu membuyarkan lamunannya dan ia beranjak untuk membukakan pintu yang ia sudah tahu siapa yang datang.


Ceklek...


"Vino..," ucap Laura yang senang karena vino adalah tunangan yang beberapa bulan lalu, Laura menerima Vino bukan karena cinta tapi ia ingin ikut dan berkerja di tempat yang ia suka.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Vino yang selalu mengingatkan tunangannya untuk hal itu, ia sudah biasa dan itu wajib ia lakukan karena tunangannya yang selalu susah jika soal makanan.


Laura menyengir tanda jika ia belum, ia lupa karena pikiran hari yang banyak ia pikirkan tentang kejadian tadi membuatnya ia menebak dan menerka-nerka. Pengasuh anak muridnya yang menuduh jika ia adalah majikannya dan ibu kandung Revan anak didiknya.


Vino pun masuk yang membawa makanan kesukaan tunangannya, ia sudah biasa masuk kedalam apartemen tunangannya ini. Vino pun menaruh bungkusan itu lalu mengambil piring dan sendok untuk menaruh makanan tersebut.


"Makan lah," titah Vina pada Laura yang terdiam di ambang pintu dan seketika Laura tersadar dan menghampiri tunangannya.


Rembulan pun duduk dan mengambil apa sudah tunangan belikan, ia tak memilih makanan yang di berikan oleh Vino. Di kasih tempat tidur di apartemen ini saja Laura sudah bersyukur dan berterimakasih. Tapi sampai sekarang Laura masih belum bisa menerima dan menempatkan isi hatinya olehnya. Laura juga tak tahu dan belum bisa menerima sepenuhnya tentang sosok Vino di dalam hatinya ada seseorang yang entah siapa belum Laura pastikan.


"Kamu tak makan?" tanya Laura yang heran dengan pria yang ada di hadapannya sekarang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tak apa, melihat mu saja aku sudah kenyang, sayang....


__ADS_2