
Perintah Rembulan pada Tuan Raditya yang kini ada di sampingnya. Ia tak perduli dengan tatapan Tuan Raditya yang dingin itu.
"Aku," tunjuk Tuan Raditya sendiri.
"Siapa lagi," jawab Rembulan dengan ketus.
"Biar saya yang Carikan orang untuk memanjat pohon itu, nyonya." ucap Tata yang menimpali ucapan Rembulan.
"Tidak perlu, aku pengen dia. Tuan Raditya harus kebagian karena ini juga anaknya," tolak Rembulan, ia ingin menghukum Tuan Raditya lewat calon anaknya yang ada di perutnya. Rembulan ingin memanfaatkan kondisi ini sebaik-baiknya untuk membalas perbuatannya yang kemarin.
Tuan Raditya membuang napasnya dengan perlahan. "Baiklah, tapi...," ucap Tuan Raditya yang berpikir.
"Tapi apa? Kamu mau anakmu itu ileran," tanya Rembulan yang menakuti Tuan Raditya.
"Ileran?" ucap Tuan Raditya yang mengulangi ucapan istrinya.
"Iya," jawab Rembulan dengan santai.
"Baiklah, ini demi calon anakku," jawab Tuan Raditya dengan pasrah dan berlalu meninggalkan kamar Rembulan menuju belakang rumah Papahnya yang ada pohon apel di belakang halaman tersebut.
Tata menghampiri Rembulan yang kini sedang tersenyum puas karena telah mengerjai Tuan Raditya.
"Ngapain senyum senyum?" tanya Tata.
"Gak ada apa-apa, aku lagi bahagia saja." jawab Rembulan yang mengambil makanan itu yang di berikan oleh Tata untuk dirinya. Rembulan pun makan dengan lahapnya tak seperti orang yang lagi hamil.
Kehamilan Rembulan yang biasa saja, ia tak seperti orang hamil pada umumnya yang merasakan morning sickness di pagi hari. Rembulan hanya merasa lelah dan mengantuk.
Setelah beberapa jam kemudian, Tuan Raditya membawa buah yang tadi istrinya mau. Ia rela demi calon anaknya yang tak mau anaknya ileran seperti yang di sebutkan oleh istrinya itu.
"Inih, makan ya," titah Tuan Raditya yang memberikan buah apel tersebut.
Bukan mengambil Rembulan hanya menatapnya, lalu ia mengabaikan Tuan Raditya yang sudah memetiknya demi si ibu hamil.
"Kok di lihatin saja? Gak di ambil," tanya Tuan Raditya.
"Aku tidak mau, kamu saja yang makan," jawab Rembulan dengan santai tanpa dosa.
__ADS_1
Tuan Raditya yang melongo mendengar ucapan Rembulan itu, bukannya dia meminta dan merengek tadi. Tapi apa yang kini ia lihat istrinya dengan santainya berbicara seperti itu.
"Bukannya tadi kamu memintanya?" tanya Tuan Raditya yang heran.
"Itu tadi sekarang tidak mau," tolak Rembulan tanpa dosa.
Tuan Raditya membuang napasnya dengan kasar, ia tak habis pikir dengan kelakuan istrinya ini. Ia mengambil buah itu dengan susah payah dan pengorbanan di malam yang gelap itu. Tapi dengan entengnya Rembulan menolaknya tanpa mencicipi sedikit pun.
"Kalau calon anak ku ileran gimana? Kan tadi kamu pengen," ucap Tuan Raditya yang ingin Rembulan mencicipi sedikit saja hasil dari jerih payahnya untuk mengambil buah tersebut.
"Kalau aku gak ya gak, kamu ngerti gak sih," bentak Rembulan dengan emosinya yang tak tertahan. Semenjak Rembulan di nyatakan hamil ia lebih emosi dan gampang banget baperan.
"Iya, iya, Aku gak akan maksa lagi," sahut Tuan Raditya yang pasrah dan menyimpan buah tadi. Setelah pemeriksaan tempo hari ia harus ekstra sabar dan menjaga keadaan Rembulan dan calon anaknya.
"Pergi sana," usir Rembulan pada suaminya itu.
"Pergi kemana? Aku mau tidur di sini menemani calon anak ku," ucap Tuan Raditya yang memberi alasan agar Rembulan mengizinkannya untuk tidur di sini. Tuan Raditya kangen tidur dengan istrinya, ia tak pernah tidur bareng lagi setelah kejadian itu dan Tuan Raditya telah menyesalinya.
"Dia tidak mau," jawab Rembulan dengan ketus.
Perdebatan antara Rembulan dan Tuan Raditya tak ada habisnya, Tata hanya jadi pendengar tanpa menimpali. Dan jadinya Tuan Raditya tidur di kamar Rembulan tapi ia tidur di sofa bukan di ranjang Rembulan, Tuan Raditya hanya pasrah dari pada tidak sama sekali pikirnya.
.
.
.
.
Papah Haris membawa putra angkatnya itu ke rumah sakit untuk di obati luka yang ada di wajahnya bekas goresan dan cairan alkohol membuat Papah Haris ta tega.
"Kamu bodoh sekali, Chik. Papah kecewa dengan tindakan mu seperti ini, apa tak ada seorang wanita yang bisa memuaskan dirimu selain istri kakak ku itu?" tanya Papah Haris yang tak habis pikir dengan kelakuan putra angkatnya itu tertarik pada kakak iparnya sendiri.
"Dia selalu menggoda ku, Pah." bela Chiko yang ia alami saat dulu datang ke rumah kakaknya.
"Kalau aku tak ke sana mungkin kamu sudah menjadi mayat dengan kelakuan mu itu," sambungnya lagi tak habis untuk marah-marah.
__ADS_1
"Dia yang menggoda ku, Pah. Ya aku terima saja dari pada mubajir kan," jawab Chiko berkata seperti itu lagi.
"Apa kamu bilang? Mubajir maksud mu itu? Lihat wanita seperti dia tu hanya ingin memanfaatkan kalian saja. Apa jadinya jika papah tak ke sana mungkin kamu--," ucap Papah Haris.
Chiko pun menggelengkan kepalanya, ia tak ingin seperti itu lagi mengalami hidupnya susah dan hidup di jalanan seorang diri. Setelah kepergian sang ibu Chiko pun hidup di jalanan seperti anak tak tau arahnya dan untungnya ia bertemu dengan Papah Haris yang mau membawanya dan mengangkat dirinya sebagai anaknya.
"Mangkanya kalau bertindak harus gegabah, Chik. Kita tak boleh tergoda dengan wanita hanya ingin memanfaatkan kondisi kita, mengerti?" ucap Papah Haris yang berpesan agar hati-hati, ia tak ingin Chiko melangkah ke jalan yang salah.
"Sekarang kamu di sini dulu, biar dokter yang akan membersihkan luka mu itu. Papah sudah menyiapkan keberangkatan ku ke kota itu agar kamu bisa menjalani hidup lebih baik lagi,"
Chiko pun mengangguk dan mengiyakan apa yang akan di perintahkan oleh Papahnya. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama setelah di berikan kesempatan kedua.
"Pah," panggil Chiko yang ragu untuk mengatakan hal ini pada Papah angkatnya ini.
"Ada apa?" tanya Papah Haris yang ingin keluar dari ruangan ini.
"Chiko hanya ingin memberitahukan jika Siska--, jika Siska sedang, sedang mengandung anak Chiko," ucap Chiko yang tertunduk, ia takut reaksi papah Haris yang akan murka padanya.
"Apa?" ucap Papah Haris yang kaget dengan pengakuan anak angkatnya itu.
"Iya, Pah." balas Chiko.
.
.
.
.
.
.
.
Kita bicarakan lagi setelah urusan dengan kakak mu selesai..
__ADS_1