
Tangisan Rembulan yang masih merasakan sedih yang luar biasa, ia kehilangan orang yang berarti bagi dirinya di tinggalkan dan tak sempat untuk melihat dan mengucapkan kata-kata terakhirnya. Biar pun orang tuanya telah menjaminkan dirinya dari hutan piutang tapi Rembulan tak membencinya ia malah akan berterima kasih karena telah memberikan suami yang begitu baik dan setia walaupun di saat pertama ia jadi madunya. Tapi Rembulan bahagia sekarang karena di cintai begitu besar oleh suaminya tersebut.
"Aku sedih, Mas. Tak melihatnya untuk terakhir kalinya," lirih Rembulan yang masih ada di pelukan sang suami.
"Mamah dan Papah pasti ngerti kok, dia selalu ada di tengah-tengah kita. Jadi jangan sedih ya," pinta Tuan Raditya yang masih mendekap tubuh istrinya sambil mengelus punggung untuk menenangkan sang istri.
Rembulan mengangguk dan mendongak ke atas melihat wajah sang suami yang memberikan senyum manisnya.
Cup...
Tuan Raditya langsung mencium kening sang istri, ia begitu gemes dan menghapus sisa air matanya yang masih mengalir di pipi mulusnya.
"Mih...," panggil Revan yang menghampiri orang tuanya yang sedang ada di ruang tamu.
"Mamih kenapa? Kok nangis, Papih diapain Mamih sampai nangis gitu?" tanya Revan yang langsung menghampiri sang ibu, ia yang penasaran dan ikut sedih.
"Mamih tak apa-apa, sayang. Jangan khawatir ya," jawab Rembulan yang meyakinkan sang anak, ia tak ingin melihat putranya juga merasakan sedih di hari pertama kalinya ia tinggal di rumah ini.
Revan melirik kearah sang Papih nya, ia ingin mencari tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya tersebut.
"Papih gak ngelakuin apa apa ya, Van. Jangan menuduh Papih," sahut Tuan Raditya yang peka dengan sorot mata sang anak pada dirinya dan ia pun langsung memberi alasan agar sang anak tak menyalahkan dirinya.
__ADS_1
"Ayo, Mih. Katanya mau tidur sama Revan," ajak Revan, ia tak bertanya lagi tentang hal itu dan kedua orang tuanya juga sudah memberi alasan.
"Masih ingat aja tuh si bocah," batin Tuan Raditya.
Malam semakin larut membuatnya menjadi lega karena bocah itu tak mengingatnya tentang keinginannya tapi tak di sangka kedatangannya malah menagih janji dengan sang istri.
Rembulan melirik kearah suaminya, ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya tersebut. Rasa kesal pasti ada di dalam hatinya yang mengumpat putranya tersebut.
"Ayo, Mih. Revan sudah ngantuk," rengek Revan sambil menarik tangan wanita yang begitu berarti bagi dirinya.
Rembulan pun membuang napasnya dengan perlahan dan bangun untuk menempati janjinya tadi siang. Ia akan menemani selama putranya tidur baru ia akan kembali pada suaminya tersebut.
"Kenapa bocah itu belum tidur?" tanya Tuan Raditya pada Tata yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Tadi sempat saya kasih pengertian, Tuan. Tapi Tuan muda selalu kekeh ingin menemui nyonya." jawab Tata, yang tahu maksud dari pertanyaan dari Tuannya.
Tuan Raditya menarik nafasnya lalu membuangnya dengan perlahan. Setelah menanyakan hal itu ia pergi ke kamarnya untuk istirahat sendiri lagi.
Baru ia membayangkan akan tidur di peluk dan di temani oleh sang istri lagi tapi harapannya harus pupus karena sang putra itu.
Tuan Raditya merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, ia malas untuk bersih-bersih karena tak semangat lagi saat bayangan itu pupus.
__ADS_1
Satu jam sudah, Rembulan membuka pintu tersebut dan menghampiri suaminya yang sedang tertidur di atas ranjang tanpa membersihkan terlebih dahulu. Setelah menemani dengan sabar saat menemani putranya untuk tidur Rembulan ingin segera keluar dan menemani bayi besarnya itu yang pastinya sedang kesal.
Rembulan membungkukkan badannya dan menatap wajah suaminya dari dulu sampai sekarang tak ada perubahan sedikit pun, suaminya tetap kelihatan masih muda seperti sejak ia bertemu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bangun, Mas. Bersih-bersih dulu, aku temani tidurnya mau gak???
__ADS_1