
"Renungkan lah kesalahanmu, Ulan," ucap Tuan Raditya yang baru tiba di kediamannya. Rembulan yang baru turun dan duduk di kursi roda yang akan di dorong oleh Tata.
Rembulan memejamkan kedua matanya, perkataan suaminya tersebut membuat Rembulan meneteskan air matanya. Se benci itu kah suaminya terhadapnya. Dan menjijikan itu kah dirinya yang tak pernah melakukan hal serendah itu.
Rembulan akan buktikan pada suaminya jika ia tak melakukan itu dan mencari dalang dari semua kejadian yang menimpa dirinya.
Tata mengusap bahu majikannya untuk menyemangati Rembulan dari masalah ini, ia tahu jika majikannya akan melewati semua ini dan mendatangkan pelangi setelah badai petir melanda.
"Kamu kuat, Ulan. Kamu pasti bisa, kamu adalah wanita yang tangguh dan ceria yang pernah aku temukan." ucap Tata sambil tersenyum agar majikannya bisa melewati semua ini.
Rembulan membalas senyuman pelayan pribadinya itu dengan senyum tipisnya. Lalu melihat sekeliling kediaman rumah ini penuh dengan kenangan bahagia, senang, luka dan air mata. Rembulan akan mengingatnya sebagai kenangan.
Tata mendorong kursi roda majikannya untuk menuju ke paviliunnya yang ia tinggalkan satu hari itu. Rasa sedih dan sakit Rembulan rasakan.
Saat melewati paviliunnya kak Siska, ia bertemu dengan pemiliknya yang lagi heran melihatnya.
"Kamu udah pulang, Ulan. Sok polos tapi tak cukup dengan satu pria," ejeknya Siska pada Rembulan.
Rembulan tak membalasnya, ia ingin cepat sampai dan istirahat menenangkan pikirannya yang lagi kacau.
"Kenapa diam? Bukannya kamu selalu melawan ku, hah," sambungnya lagi.
"Kamu tau gak Ulan jika pria yang tidur bersama itu telah mati, dia di hukum mati oleh Tuan Raditya," sahut Siska yang melihat Rembulan sudah jauh darinya.
Seketika Rembulan menghentikan kursi rodanya, ia tak menyangka dengan nasib pria itu yang tak salah apapun, dia juga sepertinya di jebak untuk meluruskan rencananya.
Rembulan menoleh kearah Siska dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kaget ya karena pria kesayangan kamu telah mati," ejek Siska yang tersenyum.
Rembulan memerintahkan Tata untuk melanjutkan mendorong kursi rodanya sampai ke paviliunnya, ia tak ingin berdebat atau mencari masalah lagi yang membuat Rembulan capek.
Iya, Rembulan sangat kaget luar biasa. Begitu kejamnya seorang Tuan Raditya pada orang yang belum dia selidiki atau cari tahu kebenarannya sudah menghakimi orang yang tak bersalah, pria hanya jadi kambing hitam dari perbuatan orang tak bertanggung jawab.
Sampai di depan kamarnya, Rembulan memberhentikan Tata sejenak, ia melihat sekeliling bangunan yang akan ia tinggalkan penuh dengan kenangan tersebut. Rasa tumbuhnya cinta, menyerahkan kesuciannya, dan luka yang kemarin pun jelas Rembulan ingat.
Tata tahu yang di rasakan oleh majikannya saat ini, memang tak mudah bagi Rembulan gadis yang baru tahu dunia luar harus di pertemuan dengan berbagai macam kisah. Kisah percintaannya yang mulai dia rasakan, di buang orang tuanya karena masalah hutang dan kini ia harus merasakan pahitnya kehidupan yang baru saja ia rasakan manisnya rumah tangga.
"Ayo masuk, Ulan. Di luar tidak baik untuk kesehatan mu yang belum stabil," titah Tata yang menyadarkan Rembulan dari lamunannya.
Rembulan mendongakkan kepalanya keatas lalu memandang kearah pintu tersebut.
"Aku masih ingat betul, Ta. Gimana hari mengerikan itu terjadi, tak ku sangka dan membayangkan tentang itu, Ta." ucap Rembulan dengan lirih sambil menitikkan air matanya.
"Kamu harus kuat demi calon bayimu, Ulan. Ada pelangi yang menunggu mu, percayalah." ucap Tata yang meyakinkan sang majikannya.
Rembulan pun tersenyum dengan tipis, ia masih ada yang percaya dengannya kecuali Tuan Raditya sebagai orang yang dekat dengannya sekaligus suaminya tak percaya dan menuduhnya.
Tata mendorong masuk kedalam membantu Rembulan untuk beristirahat lalu keluar untuk memanggil dokter pribadi untuk memeriksakan Rembulan lebih lanjut.
Saat Tata ada di dapur ingin mengambil makanan untuk Rembulan, ia di kejutkan dengan kedatangan Santi.
"Wah ada pelayan kesiangan nih, eh bukan. Pahlawan kesiangan ya," ejeknya pada Tata.
Tata tak menghiraukan ucapan Santi, ia melanjutkan apa yang ia kerjakan saat ini. Fokusnya hanya pada Rembulan yang kini membutuhkannya.
__ADS_1
"Kenapa diam?" tanya Santi tak ada balasan dari seorang Tata yang kemarin berani padanya.
Selesai membikinkan makanan, Tata yang ingin membawa makanan itu ke tempat Rembulan tiba-tiba..
Prang....
Nampan yang berisi makanan tersebut jatuh berantakan oleh Santi yang mendorong Tata jika terjatuh, Tata mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena Rembulan dalam masa pantauan anak buahnya Tuan Raditya.
"Of, maaf. Sengaja," ucap Santi dengan wajah cemas sekaligus tertawa. Ia pergi begitu saja tanpa membantu atau mengulurkan tangannya.
Tata bangun sambil menarik nafasnya lalu membereskan apa terjadi barusan, setelah itu ia akan membuatkan lagi makanan itu untuk Rembulan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kamu pasti bisa, Ulan. Untuk bisa melewati semuanya...