Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 93


__ADS_3

Ucapan Tuan Raditya yang masuk kedalam kamar putranya tersebut hanya ingin memastikan langsung tapi tak di sangka jika Rembulan bertanya tentang sosok dirinya yang tak pernah di perlihatkan pada putranya. Bukan Tuan Raditya tak mau tapi ia ada alasan tersendiri terutama yang ia katakan tadi.


Rembulan terdiam, alasan suaminya memang masuk akal tapi alangkah baiknya jika di kasih tahu agar putranya tak sesedih dulu saat ia pertama kali bertemu di sekolah dan menanyakan tentang orang tuanya itu. Hati Rembulan terenyuh mendengar cerita Revan saat ia menceritakan tentang orang tuanya.


"Kan sekarang Revan sudah bertemu dengan Mamih kan," ucap Rembulan yang mengalihkan perhatian putranya yang mulai sedih mengingat kejadian tersebut.


Revan pun mengangguk, benar kata Mamihnya jika ia tak ingin bersedih lagi karena sosok itu sudah ada di hadapannya sekarang.


"Mamih jadi kan tidur bersama Revan?" tanya Revan yang ingin memastikan langsung agar sang Papih tak melarangnya.


Rembulan tak langsung menjawab, ia melirik kearah suaminya untuk memutuskan permintaan putranya itu.


Tuan Raditya membuang napasnya dengan kasar, ia tak mungkin egois karena putranya lebih membutuhkan istrinya itu. "Baiklah, tapi. Mulai besok Mamih tidur bersama Papih ya?" ucap Tuan Raditya yang pasrah dan memberikan kesempatan pada putranya untuk menghabiskan waktu bersama dengan istri satu malam.


"Hore... Makasih ya, Pih." ucap Revan yang begitu senang. Ini adalah momen pertama kalinya ia tidur di temani oleh Mamihnya dan besok ia akan ceritakan pada teman-temannya jika ia mempunyai seorang ibu.


Rembulan tersenyum tapi tidak dengan Tuan Raditya yang cemberut karena ingin menghabiskan waktu bersama istrinya yang baru saja ia temukan.


"Oh, iya, Mas. Aku mau bertanya boleh?" ucap Rembulan yang ingin bertanya tentang pribadi suaminya itu


"Apa?" tanya Tuan Raditya.


"Selama aku tidak ada kamu pernah nikah lagi tidak?" tanya Rembulan yang ingin tahu.


"Menurut mu?" bukannya menjawab Tuan Raditya malah memberi pertanyaan balik pada istrinya itu.

__ADS_1


"Awas saja sampai nikah lagi, kemarin saja kak Siska di kasih madu," ancam Rembulan yang melihat suaminya dengan tajam.


"Memang siapa yang jadi madunya?" tanya Tuan Raditya.


"Aku," jawab Rembulan dengan cepat, ia seolah tak salah menjadi madu dari istrinya yang pertama.


"Berarti yang harus di salahkan siapa?" tanya Tuan Raditya lagi.


"Kamu lah, kamu yang maksa aku ya! Ingat ya bukan aku, aku hanya korban di sini," jawab Rembulan tak mau salah dan itu semua benar. Tuan Raditya menikahi Rembulan karena ia sudah tertarik padanya dan menikahi Siska karena paksaan dari Mamahnya.


"Papah kemana? Kok gak ada?" tanya Rembulan tak melihat Papah mertuanya.


"Papah sudah tiada, dia sudah tenang di sana," lirih Tuan Raditya saat mengingat Papahnya yang selalu menjadi panutan baginya.


"Maafkan aku ya, Mas. Aku tak tahu jika Papah sudah tiada," jawab Rembulan, ia juga merasakan kehilangan oleh sosok pria baya yang telah mengajarkan ia untuk bertahan dengan pernikahan sejak itu.


Tok... Tok...


Ketukan pintu membuyarkan keduanya yang sedang mengobrol dan Rembulan pun mempersilahkan orang itu untuk masuk. Dan yang mengetuk pintu tersebut adalah Tata yang memberitahukan jika makan malam sudah tersaji.


"Yuk makan yuk," ajak Rembulan pada Revan, bocah tersebut merasa senang karena makan malam kali ini bersama Mamihnya dan seterusnya akan seperti ini.


Ketiganya duduk di kursi masing-masing, Rembulan mengambilkan untuk putranya yang merengek ingin di ambilkan. Revan sekarang menjadi manja saat bertemu dengan Rembulan, saat tak ada Rembulan Revan begitu mandiri dan apa yang ia kerjakan sendiri hanya Tata menemani saat tertentu saja.


"Kok Revan jadi manja gini," tanya Tuan Raditya yang aneh dengan sikap putranya yang berubah 80% lebih manja.

__ADS_1


"Revan pengen ngerasain di manja sama Mamih seperti teman-teman Revan, Pih. Revan iri lihat teman Revan begitu manja dan di manjakan oleh Mamahnya." adu Revan yang dulu ia hanya memandang ke arah teman-temannya dan orang tuanya saat menjemput dan menemani anaknya.


Tuan Raditya terdiam, ia yang sangat bersalah karena tak ada waktu dengan putranya itu. Hari-harinya ia habiskan dengan berkerja dan di kantor saja, dan sekarang Revan mengeluarkan perasaan saat Rembulan sang istri ada di tengah-tengah mereka. Ia pikir dengan di temani pelayan itu bisa menggantikan sosok seorang ibu tapi itu tidak bisa karena yang Revan ingin hanya ibu kandungnya sendiri.


Rembulan mengelus kepala putranya, ia tak bisa membayangkan hari-harinya putranya tersebut tanpa dirinya yang menamainya. Bohong, jika Revan tak menginginkan kehadirannya dan sosok wanita yang telah melahirkan tapi Rembulan salut pada pelayan pribadinya itu yang telah menempati janjinya untuk menjaga dan merawat hingga besar seperti ini sampai ia kembali ke keluarga ini.


"Yang, kok aku gak di ambilkan," protes Tuan Raditya tak di layani oleh istrinya itu, Rembulan hanya fokus pada putranya saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya ampun, Mas. Saking lamanya aku sendiri jadi lupa jika aku tuh sekarang masih punya suami....

__ADS_1


__ADS_2