Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 41


__ADS_3

Di ruangan Tuan Raditya, ia juga merasakan hal yang sama seperti Rembulan rasakan. Memberikan hukuman itu dengan


rasa tak tega melihat Rembulan kesakitan menahan cambukan nya dengan derai air matanya. Tapi rasa sakit melihat istrinya sedang berduaan dengan pria lain termasuk sakit yang luar biasa yang ia alami sekarang.


Di khianati terang-terangan membuat Tuan Raditya gelap mata saat menghukum Rembulan dengan cambukan nya sampai 5 cambukan. Semua yang dapat kesalahan akan mendapatkan hal seperti itu, tapi istrinya begitu kuat menahan sakit yang ia berikan.


"Aaargghh...," teriak Tuan Raditya mengeluarkan kekesalannya dengan derai air matanya yang tak sanggup melihat Rembulan sudah lemah.


Tok... Tok...


Tata memberanikan diri untuk menghadap pada Tuan Raditya, ia akan membela majikannya yang tak bersalah dan melakukan kesalahan yang tak pernah Rembulan lakukan. Apa pun yang terjadi Tata akan di posisi Rembulan.


"Masuk," sahut dari dalam. Membuat Tata membuka pintu tersebut lalu menghampiri Tuannya yang sedang merenung di kursi kebesarannya.


"Maaf, Tuan. Saya mengganggu kenyamanan, Tuan. Saya ke sini hanya meminta belas kasih dari Tuan agar majikannya di berhentikan dari hukumannya. Kasihan dia, Tuan." ucap Tata sambil menunduk ia tak berani untuk mendongakkan kepalanya melihat Tuannya sedang kacau seperti ini.


"Itu pantas untuknya yang tak tahu diri dan mengkhianati ku, berselingkuh di depanku," jawab Tuan dengan nada dinginnya seperti dulu belum mengenal Rembulan.


"Tapi majikan saya tak mungkin melakukan hal seperti itu, Tuan." bela Tata.


"Apa maksudmu?" tanya Tuan Raditya mendongakkan kepalanya.


"Saya berani bersumpah, Tuan. Majikan saya tak mungkin melakukan hal sekeji itu. Pasti ini jebakan," ujar Tata.


"Aku tidak percaya, sebelum ada buktinya dan bukti yang saya lihat sudah jelas jika Rembulan telah mengkhianati ku," jawab Tuan Raditya dengan tegas.


"Tapi, Tuan." ucap Tata lagi.


"Tapi apa lagi? Saya tidak mau mendengar alasan lagi dan membela pengkhianat itu,"


"Rembulan sedang hamil, Tuan. kasihan, bukannya Tuan tahu tentang kehamilan nyonya Rembulan," ucap Tata dengan lantangnya, Rembulan yang ingin memberikan surprise pada suaminya. Sepulang dari kantor, Rembulan sudah merencanakan sesuatu agar sang suami bahagia karena dapat kabar yang membahagiakan ini. Tapi, lagi lagi Rembulan harus merasakan hidupnya yang tak terduga ini. Dituduh, dan dihukum karena perbuatan orang yang tak suka dengannya.


Deg..


Hamil, ia baru mengingatnya jika sang istri sedang hamil, tapi lagi lagi ia menepis jika itu bukan lah anaknya.


"Aku tak percaya jika itu adalah anak ku," ucap Tuan muda Raditya.

__ADS_1


"Saya berani bersumpah, Tuan. Majikan saya sedang mengandung anak Tuan," ucap Tata dengan yakin, ia yang seharian bersama dengan Rembulan tak mungkin jika majikannya itu berselingkuh.


"Aku tak percaya," jawab Tuan Raditya.


Tata langsung mendongakkan kepalanya tak percaya dengan perkataan Tuannya barusan, tidak menerima jika Rembulan sedang mengandung buah hatinya.


"Itu pasti anak bajingan tersebut," sambungnya lagi dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Saya berani bersumpah, Tuan. Itu anak Tuan bukan anak pria lain,"


"Sekarang kamu keluar, jangan bikin hidup ku kacau lagi," titah Tuan Raditya yang frustasi mendengar kabar tersebut ada hal aneh yang ia rasakan saat ini. Mendengar kabar itu hatinya merasakan kebahagiaan tapi ia membayangkan kejadian barusan yang membuat ia tak percaya jika itu adalah anaknya.


Tata keluar dengan raut wajah yang sedih karena tak bisa membujuk Tuannya untuk melepaskan Rembulan dari hukuman itu. Tata kasihan karena majikannya sedang mengandung baru trimester pertama.


Tara segera berlari melihat keadaan Rembulan di ruangan khusus tempat orang mendapatkan hukuman itu. Dan pertama Tata lihat, ia melihat majikannya lemah tak berdaya di lantai.


"Ulan..," panggil Tata yang menghampiri Rembulan dan mendekapnya erat sambil menangis.


"Maafkan aku, Ulan. Aku tak becus menjaga mu hingga kayak gini," Tata menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga majikannya dengan baik. Dan saat di dapur pun ketika ia membuatkan minuman tersebut Tata sudah merasakan firasat tak enak dengan majikannya.


"Ulan, bangun. Ayok bangun." panggil Tata yang menepuk kedua pipinya agar majikannya bangun.


"Ta-ta," panggil Rembulan dengan lemahnya, ia memegang perutnya yang keram.


"Apa yang kamu rasakan, Ulan. Apa perut mu sakit?" tanya Tata yang khawatir dengan keadaan Rembulan, ia tak ingin kandungan Rembulan bermasalah karena hukuman itu.


"Perutku sakit, Ta." ucap lirih sambil memegang perutnya.


Tanpa bertanya lagi Tata membangunkan Rembulan dan memapahnya untuk mencari pertolongan agar bayi yang di kandung Rembulan tidak terjadi sesuatu.


"Ayo, Ulan. Kamu harus kuat demi calon bayimu," ucap Tata yang menyemangati Rembulan yang tak berdaya.


Semar-semar Rembulan melihat kearah Tata dan tersenyum lemah, benar perkataan Tata jika ada nyawa yang harus Rembulan pertahankan dan harus selamat.


Tata di bantu seorang pelayan yang baik tak tega melihat Tata dan majikannya sedang kesusahan ia tak perduli dengan nasibnya jika akan mendapatkan hal yang sama.


Membantu untuk keluar dari kediaman ini dan membawa Rembulan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.

__ADS_1


Keluar dari arah belakang, kedua pelayan tersebut dengan hati-hati agar tidak ketahuan jika mereka membawa Rembulan keluar dari kediaman ini.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, asisten Angga menghampiri Tuannya yang masih merenung di kursi kebesarannya.


"Permisi, Tuan. Saya hanya ingin menginformasikan jika Nyonya Rembulan tidak ada di ruangan itu," ucap Angga menyampaikan sesuatu pada Tuannya.


"Apa? Cepat cari dan bawa kemari lagi," titah Tuan Raditya yang murka dengan Rembulan yang hilang.


"Baik, Tuan." patuh Angga, ia berlalu untuk mencari keberadaan nyonya Rembulan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Apa kurangnya aku, Ulan. Hingga kau berkhianat padaku.. Apa cinta tulus ku tak cukup untukmu???

__ADS_1


__ADS_2