
Pagi harinya seperti hari biasanya, Revan bangun lebih awal karena ia tak seperti pria pada umumnya yang susah untuk di bangunkan, dia akan bangun sendiri tanpa ada drama di bangunkan oleh Mamihnya ataupun pengasuhnya itu. Revan bangun dan membersihkan tubuhnya. Hari ini jadwal kuliahnya masuk jam 10 pagi jadi ia bisa mengunjungi kantor sang Papih terlebih dahulu.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian yang lebih formal dari biasanya karena hari ini ia akan mengunjungi kantor pusat bersama Papih itu, setelah selesai merapihkan pakaiannya agak sedikit kusut Revan bergegas keluar dan menemui Mamih dan Papih nya yang sudah menunggunya di ruang meja makan.
"Selamat pagi, Mih, Pih." sapa Revan, setelah itu ia pun menarik kursi dan duduk seperti biasanya melakukan sarapan bersama keluarganya.
Rembulan tersenyum dan membalas sapaan dari putranya dan melayani putranya juga dengan baik seperti sang suami. Ia tak akan membedakan kecuali melayani suaminya di atas ranjang.
"Kamu jadi kan, Van. Hari ini ke kantor?" tanya Tuan Raditya pada putranya itu, ia ingin segera Revan Putra Raditya itu menggantikan dirinya yang sudah kewalahan mengurus kantornya seorang diri walaupun sang asisten pribadinya begitu setia sampai sekarang menemaninya. Tapi, Tuan Raditya ada kalanya ia ingin istirahat dan menghabiskan waktunya bersama sang istri tercintanya.
"Jadi, Pih. Tapi setelah jam 10 Revan ada jadwal kuliah," jawab Revan sambil menyuapkan makanannya.
Tuan Raditya menganggukkan kepalanya, ia tak keberatan yang terpenting putranya bisa meluangkan waktunya dan belajar dari sekarang tentang bisnis yang ia pegang saat ini. Semua perusahaan pun akan jatuh pada dirinya yang tak lain adalah Revan sendiri, dan Tuan Raditya hanya bisa mengandalkan kemampuan putranya saja di bandingkan adiknya yang entah keberadaan di mana setelah kematian mendiang Mamah beberapa tahun lalu. Sang adik jadi tak bisa di atur lebih tepatnya ia hanya bisa menghabiskan harta di bandingkan untuk membangunnya sendiri.
Dan, yang paling Tuan Raditya inginkan saat adalah putranya agar perusahaan yang ia rintis dari nol bisa berjalan lebih besar dan lebih luas lagi setelah di pegang oleh putranya itu.
Selesai sarapan, Tuan Raditya bangun dan menghampiri istrinya sedang membersihkan sisa sarapannya itu. "Papih pergi dulu ya, Mih," pamit Tuan Raditya seperti biasa, dari dulu sampai sekarang ia sudah terbiasa dan menjadi hal biasa saat pergi dan pulang bekerja akan pamit dan mencium kening istrinya itu kadang ia pun mencuri ciuman dari bibirnya walaupun sang istri suka protes oleh ulahnya itu.
"Hati-hati ya, Pih. Jangan ngebut dan jangan --," belum Rembulan menyelesaikan pesannya yang setiap hari selalu di ucapkan membuat Tuan Raditya begitu hapal pesan dari sang istri.
__ADS_1
"Jangan mampir sana sini dan jangan lupa pesanan Mamih kan," Tuan Raditya yang sudah hafal dengan semua pesan dan ada saja pesanan sang istri saat ia pulang nanti.
Rembulan menyengir sambil meraih tangan sang suami untuk ia cium seperti biasa dan ini sudah jadi hal yang tabu baginya.
"Mamih gak bisa anterin Papih ke depan, gak apa-apa ya?" tanya Rembulan, ia ingin membereskan sendiri tanpa meminta bantuan pembantu dan pelayan yang lain.
"Tumben, istri ku jadi rajin seperti ini. Dapat angin dari mana? Apa jangan-jangan semalam udah dapat servis dari ku ya," gumam Tuan Raditya dengan pelan dan setelah itu berlalu meninggalkan sang istri yang hari ini mendadak jadi rajin.
"Mau berangkat bareng, Van?" tawar Tuan Raditya pada putranya yang lagi menunggu di depan.
"Gak, Pih. Jam 10 kan Revan akan pergi ke kampus," tolak Revan, ia akan mengendarai sepeda kesayangannya pemberian sang Mamih hadiah ulang tahunnya.
.
.
.
Setengah jam kemudian Revan sudah sampai di kantor sang Papih dan ia pun masuk ke dalam dan bertemu dengan klien dari sang Papih nya itu yang bersapa padanya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kamu anaknya Tuan Raditya kan????....
__ADS_1
Siapa tuh yang bertanya jadi penasaran 🤔