Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 36


__ADS_3

Kabar yang membahagiakan saat sang putra mengatakan jika dirinya akan mempunyai seorang cucu, Papah Haris pun bertanya lagi untuk meyakinkan jika pendengarannya tak salah.


"Iya, Pah."Jawab Tuan muda Raditya yang mengangguk sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, Dit. Papah sekarang punya cucu," ucap syukur Papah Haris mendengar kabar yang membahagiakan itu, tapi di sisi lain menantunya itu sedang berbaring di ranjang pasien karena kecerobohannya.


"Jaga Rembulan dan calon anak mu ya, Dit. Dia adalah calon menerus perusahaan kita," pesan Papah Haris sambil menepuk pundak putranya itu.


"Ita, Pah." jawab Tuan muda Raditya sambil tersenyum


Kedua pria yang berbeda usia itu masuk ke ruangan di mana Rembulan sudah di pindahkan. Ruangan yang begitu luas seperti hotel bintang lima.


Rembulan sudah sadarkan diri dari pingsannya beberapa jam lalu. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan yang asing baginya.


"Ini di mana?" lirih Rembulan masih lemas, ia melihat sekeliling ada Tata, suami dan Papah mertuanya yang baru masuk.


"Tadi nyonya pingsan setelah jatuh dari pohon mangga itu," jelas Tata sambil tertunduk karena takut pada kedua Tuannya itu.


"Apa yang kamu lakukan di sana, sampai jatuh begitu? Kalau perlu sesuatu bisa bilang pada orang di sana." omel Tuan muda Raditya yang gemes dengan tingkah laku istrinya yang membuat ia mengelus dadanya.


"Aku pengen buah mangga itu, rasanya pasti segar," ucap Rembulan yang ingat dengan kejadian tadi saat ia jatuh dari pohon itu.


"Kan bisa suruh orang," balas Tuan muda Raditya.


Rembulan merengut kesal pada suaminya itu yang memarahinya tanpa melihat dirinya sedang lemah berada di atas ranjang pasien. Ia ingin sekali memukul kepala suaminya itu jika keadaannya sehat.


"Kenapa pengen buah itu?" tanya Tuan muda Raditya.


"Tidak tau, pengennya makan yang asem-asem," sahut Siska yang tak sadar dengan kondisinya yang lagi berbadan dua.


"Jangan makan buah yang asem, nanti kamu sakit perut," omel Tuan muda Raditya tak hentinya seperti tetangga yang menagih hutangnya.

__ADS_1


"Dia lagi ngidam, Dit. Mungkin Rembulan pengen mangga. Sana cari kalau perlu beli semuanya." titah Papah Haris tak masuk akal. Ia memerintahkan putranya untuk memborong buah mangga tersebut di toko atau pun di minimarket.


.


.


.


Di rumah Tuan Raditya, Siska begitu kecewa saat melihat benda tipis berbentuk panjang, benda itu tak lain adalah sebuah tespek yang ia beli kemarin. Kecurigaan nya tentang tubuhnya yang berbeda di tambah bulan ini ia tak kedatangan tamu bulanannya.


Aaarghhhh....


"Kenapa bisa ceroboh ini sih gue, gimana nasib gue dengan bayi ini jika Mas Raditya tahu jika ini bukan darah dagingnya. Ini adalah hasil dari Chiko adik angkatnya." ucap Siska yang kecewa karena kecerobohannya tak meminum pil itu, ia lupa saat Chiko mengajaknya untuk bermain.


"Gimana ini, gue harus hubungi Chiko." ucapnya lagi sambil mengambil ponselnya berada di atas ranjang.


Rasa gelisah yang kini Siska rasakan saat ia mengetahui jika ia sedang mengandung buah hatinya dengan Chiko. Ia pun berkali-kali menelpon pria itu tapi tak ada jawaban sedikit pun dari sang empunya.


Sampai puluhan kali barulah Chiko mengangkat panggilan yang membuat Siska mengumpat pria itu.


"Kamu kemana saja sih, aku telponin kamu gak di angkat-angkat," omel Siska tak biasanya, ia seolah kehilangan akalnya saat ini.


"Ada apa? Mau ku temenin lagi," bukannya menjawab pertanyaan Siska Chiko menggoda istri pertamanya sang kakak yang membuat ia candu.


"Cepetan ke sini ada yang perlu aku sampaikan." titah Siska.


"Iya, nyonya Siska saya laksanakan." jawab Chiko begitu senang dan semangat. Ia tahu jika dirinya datang hanya untuk senang-senang dan memadu kasih di ranjang yang begitu hangat.


Tak membutuhkan waktu lama, Chiko pun datang ke rumah kakaknya yang selalu ia manfaatkan terutama istrinya yang sudah ia ambil.


"Ada apa?" tanya Chiko sudah berada di dalam kamar milik Siska.

__ADS_1


Siska pun melemparkan benda panjang dan tipis itu ke hadapan muka pria yang selalu memuaskan dirinya.


"Apa ini?" tanya Chiko yang seolah tak tahu dengan benda tersebut.


"Kamu lihat baik-baik, Chik. Gue hamil." bentak Siska tak habis pikir dengan kelakuan pria partner ranjangnya itu tak paham dengan benda tersebut.


"Hamil, kamu hamil?" tanya Chiko ingin memastikan jika kebenaran itu salah.


"Iya, Chik. Gue hamil dan ini adalah anak kamu," jelas Siska sambil menghampiri Chiko seperti bodoh.


"Bukannya kamu meminum pil agar tak kebablasan," tanya Chiko, permainannya dengan Siska sejak dulu tak pernah kejadian seperti ini membuat Chiko tak percaya jika itu adalah bayinya.


"Aku lupa, Chik. Ini gimana? Aku tak mau jika Mas Raditya tahu kalau ini bukan anaknya di tambah lagi Mas Raditya tak pernah menyentuh ku selain kamu,'m" ucap Siska yang sedih, ia tak ingin di hukum atau pun di keluarkan dari rumah ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gugurkan kandungan itu, bereskan.....

__ADS_1


__ADS_2