
Mendengar ucapan sang anak membuat Tuan Raditya seolah bingung dan syok dengan ucapan yang ia baru bangun tidur.
"Apa?" tanya Tuan Raditya pada sang anak.
"Mis Laura bilang kalau dia Mamih Revan, Pih," ucap Revan mengulangi perkataan yang tadi ia ucapkan. Rasa senang yang luar biasa dari pengakuan seorang wanita yang baik hati.
Rembulan mendekat kearah putranya dan merentangkan tangannya. "Revan tak mau memeluk, Mamih?" ucap Rembulan lagi, ia tak menyangka akan mengingat dan di pertemuan dengan keluarga kecilnya ini.
Tanpa berpikir panjang Revan pun langsung bangun dan berlari kearah wanita hebatnya, saking senengnya ia tak perduli kan Papih nya hanya menatap tak percaya.
Tuan Raditya menepuk pipinya dan mencubitnya dengan kencang, ia tak ingin ini hanya sebuah mimpi saja. Dan rasa sakit itu memang benar-benar nyata dan ia pun merasakan sakit setelah ia mencubit beberapa kali.
"Aw, sakit, ini benar-benar nyata," gumam Tuan Raditya tak percaya, Tuhan kembalikan cinta sejatinya pada dirinya.
Pemandangan yang begitu indah yang Tuan Raditya rasakan saat ini, dua orang yang sangat berarti ada di depannya sedang mencurahkan rasa rindunya bertahun-tahun lamanya.
"Mis Laura benar Mamih Revan?" tanya Revan yang mengulang pertanyaannya. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Rembulan mengangguk dan mengiyakan ucapan putranya itu yang menggemaskan, Rembulan pun mengusap punggung putranya dengan lembut. Perasaan itu saat pertama melihat Revan di sekolah tempat ia berkerja sudah ada yang berbeda yang ia rasakan dan hari ini semua perasaan itu sudah terjawab. Jika Revan adalah putranya yang ia tinggalkan selama 10 tahun lalu.
Tapi yang ada didalam benaknya, ia curiga dengan tunangannya yang tak pernah terbuka saat ia tak mengenali diri sendiri. Seolah ia menutupi kebenaran yang ada.
"Revan kangen, Mih." ucap Revan yang masih ada di dekapan Rembulan seolah ia mengungkapkan perasaannya selama ini yang ia tahan bertahun-tahun.
__ADS_1
Deg..
Ucapan yang sederhana itu pun membuat hati dan perasaan Tuan Raditya sakit, sebegitu kah putranya merindukan sosok seorang ibu dan ia pun tak ada di sisinya untuk menemani ataupun memberi waktunya. Rasa bersalah itu pun menyelinap di dalam hatinya kini.
"Maafkan, Papih ya? Papih yang salah dan tak becus menjaga dan mengurus mu." sahut Tuan Raditya yang lirih seolah ia tak berguna untuk putranya itu
Keduanya menoleh kearah suara itu yang tak lain adalah Papih nya. Revan melepaskan pelukan dari Mamihnya dan menghampiri sang Ayah. "Papih adalah Papih yang hebat buat Revan, Papih berkerja juga buat Revan kan? Jadi Papih gak boleh sedih ya," ucap Revan, ia selalu di beri pengertian oleh bibi Ta dengan pekerjaan Papih nya tersebut.
Tuan Raditya tersenyum, ia bahagia karena putranya tak membencinya saat ia mengabaikannya dan ia berterima kasih pada pelayan yang mengurus putranya hingga sekarang.
"Terimakasih, sayang. Papih sayang sama Revan," ucap Tuan Raditya yang mencium pipi bulat putranya itu.
"Papih sayang tidak sama Mamih?" pertanyaan yang membuat kedua orang tersebut menjadi malu seolah ia ketahuan berpacaran oleh orang tua.
Tuan Raditya dan Rembulan saling pandang ada yang ia pikirkan dan rasakan saat ini. Tak bertemu selama 10 tahun membuat pasangan itu merasa aneh.
"Mungkin Mamih mu malu dengan Papih," sahut Tuan Raditya yang memberi alasan dan membuat Rembulan melotot kearah suaminya tersebut.
Tuan Raditya malah tersenyum dan mengedipkan matanya seolah ia rindu dengan adanya sang istri yang dulu bertingkah laku tak seperti orang-orang.
Rembulan merengek kesal, ia bangun dan meninggalkan dua pria yang beda usia itu.
"Pih kayaknya Mamih marah?" bisik Revan pada telinga sang Papih.
__ADS_1
Tuan Raditya mengangguk seolah membenarkan ucapan putranya lalu ia berpikir dan berjalan kearah istrinya berada.
"Kamu marah?" tanya Tuan Raditya.
"Gak," jawab ketus Rembulan.
Tuan Raditya mengangguk dan ia pun mendekat lalu mencium pipi Rembulan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sedang apa kalian?
Hayo siapa tuh, jadi penasaran 🤔