
Rembulan pun di tolong oleh kakek itu dan di bawa ke rumahnya untuk di beri pertolongan pertama pada wanita yang ia temukan. Banyak luka di sekujur tubuhnya terutama darah yang mengalir dari pangkal pahanya membuat kakek itu dengan panik segera membawanya.
Lain di sini lain pula dengan Tuan Raditya, ia mencari sampai terjun langsung ke sungai itu. Tuan Raditya ingin memastikannya sendiri dengan keadaan sang istri sekarang. Mencari beberapa jam membuat Tuan Raditya tak menyerah walaupun ia terlihat lelah. Asisten Angga pun tak bisa mencegah ia hanya bisa pasrah dan mengikuti semua yang Tuan Raditya lakukan.
"Ulan...," panggil Tuan Raditya dengan kencang, semoga sang istri mendengarnya dan menyahut apa yang ia katakan.
Tapi, semua pencariannya nihil tak menemukan sesuatu apapun yang kini di lakukan. Tuan Raditya yang mulai kelelahan menyusuri sungai itu tak menemukan tanda-tanda keberadaan sang istri.
"Kamu dimana, sayang?" tanya Tuan Raditya pada dirinya sendiri. Ia yang mulai lelah hanya duduk di atas perahu yang ia sewa.
"Tuan harus istirahat jangan terlalu kelelahan," ucap Angga yang tak tega dengan kondisi Tuannya yang kacau.
"Tapi istriku belum di temukan, Ga," jawab Tuan Raditya yang lirih, ia tak punya semangat hidup lagi setelah kepergian sang istri entah kemana keberadaannya sekarang.
"Nyonya Rembulan pasti selamat, Tuan. Percayalah padaku, jika nyonya Rembulan orangnya kuat," ucap Angga yang meyakinkan Tuannya agar menghentikan pencariannya yang kini dia lakukan.
"Saya akan serahkan pasukan khusus untuk mencari keberadaan nyonya Rembulan lebih banyak lagi agar cepat di temukan," sambungnya lagi, ia tak tega harus di posisi Tuan Raditya yang saat ini merasakan kebahagiaannya dengan pasangannya.
Tuan Raditya terdiam, ia memikirkan tentang perkataan asistennya. Dan memikirkan tentang bagaimana dengan putranya yang membutuhkan kasih sayangnya.
"Baiklah, tolong perbanyak lagi pencariannya. Kamu dan tim kamu harus menemukannya," ucap Tuan Raditya yang pasrah dan mengikuti apa yang di katakan asisten pribadinya.
.
.
__ADS_1
.
.
Dan benar, sang putra yang kini di rawat oleh Tata sedang menangis kencang. Segera Tuan Raditya menghampiri dan ingin melihat apa yang terjadi dengan putranya.
"Kenapa?" tanya Tuan Raditya yang khawatir.
"Tidak tau, Tuan. Tiba-tiba menangis dan tak mau menyusu," jawab Tata yang takut jika Tuan Raditya akan marah melihat putranya menangis dengan kencang.
Tuan Raditya pun mengambil alih putranya dari gendongan pelayan pribadinya sang istri, ia menggendong dengan lembut agar bayinya lebih nyaman.
Dan dengan sekejap bayi itu terdiam tak menangis seperti tadi. "Kamu kenapa, sayang? Kangen sama Papih, hem?" tanya Tuan Raditya pada putranya, ia sedih seharusnya sang istri yang menemani dan mengurus putranya sekarang ini.
"Mungkin dia merindukan, Tuan." sahut Tata yang takjub dengan bayi itu, sudah banyak yang ia lakukan saat menghentikan tangisannya tapi selalu nihil dan tak ada hentinya sang bayi itu untuk berhenti.
"Maafkan Papih, sayang. Papih hanya ingin Mamih mu kembali bersama kita," ucap Tuan yang lirih, dan siapa pun mendengar dan melihatnya akan ikut sedih seperti Tata sekarang ini. Tak terasa Tata pun menitikkan air matanya tak sengaja.
"Temukan nyonya Rembulan dengan Tuan Raditya ya Allah, mereka orang-orang baik dan bayi Revan butuh mereka," batin Tata yang berdoa semoga doanya terkabulkan.
.
.
.
__ADS_1
.
Semua Tim pencarian nyonya Rembulan mulai kelelahan dan belum menemukan dan tanda-tanda keberadaan nyonya Rembulan. Semua sudut sungai itu sudah di cari sampai berulang-ulang kali tapi tetap sama semua tak ada yang menemukan sosok nyonya Rembulan.
"Permisi, Tuan. Tim kami mulai kelelahan dan belum menemukan Nyonya Rembulan," ucap ketua tim itu yang menyampaikan apa yang terjadi.
Angga pun membuang napasnya dengan berat, apa yang harus ia katakan pada Tuannya yang kini sedang menunggu kabarnya sekarang. Dan Tim pencarian pun mulai naik satu persatu.
"Baiklah, pencarian sekarang ini kita hentikan besok kita lakukan lagi," ucap Angga, ia tak mungkin untuk memaksa Tim itu untuk mencarinya. Ada rasa bersalah dan tak tega melihatnya.
"Baik, Tuan. Kami akan istirahat dulu baru kami lanjutkan lagi," sahut ketua tim pencarian itu
Angga pun mengangguk dan mengiyakan ucapan ketua itu, ia tak boleh egois ada orang yang butuh istirahat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tunggu, ngapain di hentikan pencarian istri ku???