Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 07


__ADS_3

"Ingin membunuh ikan itu," ketus Rembulan yang tak ada takutnya sama sekali pada suaminya itu, ia sudah terlanjur marah dan benci dengan semua yang terjadi pada dirinya.


"Jangan pernah menyentuhnya," ucap Tuan muda Raditya yang tak suka jika miliknya di sentuh sama orang yang baru ia kenal.


Rembulan mendongakkan kepalanya keatas melihat dengan seksama wajah tampan suaminya itu, ia pun bangun dan menatap kearah suaminya yang sama menatapnya.


"Kamu sayang dengan ikan itu?" tanya Rembulan yang ingin memastikan jika suaminya itu tak melakukan yang membuat ia marah.


"Hem," sahut Tuan muda Raditya yang enggan untuk menjawab, ia hanya berdehem jika itu miliknya.


"Makan saja sama kamu sana, sekaligus nikahin biar puas," ketus Rembulan yang berlalu meninggalkan Tuan muda Raditya yang masih mematung.


Baru satu langkah kaki Rembulan melangkah, Tuan muda Raditya mencekal pergelangan tangan Rembulan membuat Rembulan refleks terhuyung ke belakang dan..


Brukk...


Rembulan menimpa tubuh kekar milik sang suami yang tak jauh darinya. Keduanya ambruk di atas rumput hijau. Rembulan dan Tuan muda Raditya saling memandang satu sama lain dengan tatapan aneh.


Beberapa detik, Tuan muda Raditya mendorong tubuh Rembulan yang ada di atasnya dan seketika Rembulan tersadar lalu bangun dari tubuh suaminya itu. Ia begitu terpesona melihat dengan jarak dekat seperti yang sekarang ini.


Rembulan bangun dan merapihkan pakaiannya lalu bergegas pergi dari hadapan Tuan muda Raditya, ia tak ingin berlama-lama ada di dekat pria yang memberi luka di hari pertama menjadi seorang istri.


Tuan muda Raditya juga bangun setelah sang istri kecil itu bangun, ia pun membersihkan pakaian dari sisa rumput yang menempel pada pakaian. Ia menatap punggung istrinya itu setelah menatapnya dengan tatapan marah.


Tuan muda Raditya pun menyunggingkan senyumnya sambil menatap kearah Rembulan yang masih terlihat.


"Ada apa, sayang?" tanya Siska yang menghampiri suaminya di dekat kolam ikan hias.


"Tidak ada apa-apa," jawab Tuan muda Raditya yang mengalihkan pandangannya ke arah istri pertamanya, ia yang akan pergi ke kantor harus mendapatkan kejadian seperti tadi.


.


.


.


Ia berlari meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Pelayan pribadinya pun menghampiri majikannya yang sedang meringkuk di balik selimut tebal tersebut.


"Nyonya kenapa? Saya cari-cari tidak ada, apa nyonya sakit?" tanya Tata begitu khawatir dengan keadaan majikannya berada di bawah selimut tebal.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," sahut Rembulan di balik selimutnya itu, ia hanya ingin menenangkan dan menetralkan detak jantungnya itu.


"Mau ku ambilkan obat?" tawar Tata yang takut jika terjadi sesuatu pada majikannya sejak semalam tak tidur karena sehabis menangis.


"Aku pengen sendirian tolong tinggalkan aku," pinta Rembulan yang enggan untuk di ganggu, ia ingin menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


"Tapi, nyo--," belum Tata melanjutkan perkataannya, Rembulan menyibakkan selimut dan menatap kearah pelayan itu dengan tatapan marah.


"Bisa gak tinggalkan aku, aku ingin sendiri," pinta Rembulan untuk kedua kalinya, ia masih merasakan kesedihan di tambah rindunya pada kedua orang tuanya.


"Baiklah, aku tinggalkan kamu istirahat saja," balas Tata setelah itu ia berlalu meninggalkan kamar milik majikannya itu.


"Hiks... Hiks .. Hiks ..., seharusnya aku menolaknya jika caranya seperti ini. Apa dia tak punya hati," lirih Rembulan, ia pikir jika dirinya adalah satu-satunya istri untuk pria yang baru ia kagumi itu, tapi semua berbeda dan Rembulan begitu membencinya.


Bukan malam pertama yang Rembulan rasakan tapi yang ia dapat adalah kekecewaan atas kenyataan jika suaminya itu sudah memiliki seorang istri sebelum dirinya menjadi istrinya. Ia bagai di bohongi menjadi seorang istri.


Di dapur tempat ART melakukan tugasnya seperti memasak membersihkan dapur dan berbagai macam yang di lakukan oleh mereka, Tata pun menghampiri salah satu dari mereka dan meminta tolong untuk di buatkan sesuatu untuk majikannya itu.


"Sedang apa kau di sini,"' tanya Siska yang mengangetkan pelayan pribadi istri kedua dari suaminya itu.


"Eh, nyonya. Saya hanya meminta cemilan untuk nyonya Rembulan," ucap Tata yang mengatakan niatnya masuk ke ruang dapur tersebut.


"Gak usah, tak ada cemilan buat dia," ucap Siska yang mencegah pelayan itu membawakan cemilan untuk majikannya itu.


Cek lek.


Tata masuk kedalam kamar milik majikannya itu, ia menatap kearah selimut itu, ia merasa tak tega dengan keadaan seperti menimpa seorang gadis yang di nikahi oleh Tuannya itu.


"Tata," panggil Rembulan yang bangun lalu ia duduk bersandar pada dipan tersebut.


"Ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Tata yang menawarkan sesuatu agar majikannya itu bisa lebih baik dari semalam.


"Aku ingin keluar dari sini," pinta Rembulan yang ingin pulang dan kembali pada kedua orang tuanya.


"Itu tak mungkin, nyonya. Dan Tuan muda tak akan mengizinkan hal itu," jawab Tata, ia tahu apa yang kini di rasakan oleh majikannya itu.


"Aku mau tanya? Apa kamu tahu soal istri pertamanya Tuan mu itu?" tanya Rembulan yang penuh selidik, ia ingin tahu lebih jauh lagi tentang kehidupan seorang Raditya Bagaskara.


"Saya tak tahu, Nyonya. Saya datang ke sini pun baru mengetahuinya," jawab Tata.


"Benar kah?" tanya Rembulan lagi.

__ADS_1


Tara mengangguk, ia tak pernah berbohong pada siapapun termasuk Tuannya yang sudah menikah diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya dan para penghuni di kediaman Bagaskara tersebut.


"Apa mereka nikah diam-diam?" tanya Rembulan yang berpikir bahwa mereka nekad melakukan hal itu tanpa sepengetahuan Papah Haris.


"Pantas saja Mas Raditya kekeh ingin membawaku ke sini dan ternyata ada istri kesayangannya." lirih Rembulan, ia bagai istri tak di anggap hanya sebatas istri di atas kertas.


"Sabar, nyonya. Kita tak bisa berbuat apapun kecuali kamu mengambil hati Tuan muda Raditya," sahut Tata yang menyakinkan jika pernikahan yang baru seumur jagung itu akan baik-baik saja.


"Gimana caranya bisa keluar dari sini, Ta. Aku tak sanggup lagi harus melihat mereka bermesraan di depan ku," lirih Rembulan yang sambil menitikkan air matanya. Kali ini ia bukan seorang gadis ceria dan periang yang selalu tertawa lepas saat bersama, ada saja tingkah konyolnya yang membuat semua orang tertawa dan bahagia jika di dekatnya.


"Gimana kalau kita keluar, keliling rumah ini dengan udara begitu sejuk." ajak Tata yang mengalihkan perhatian agar majikannya tak sedih lagi.


"Aku tak mau, Ta. Pasti mereka sedang bermesraan." tolak Rembulan yang enggan untuk melihat pemandangan yang membuat matanya perih.


"Tuan muda sudah berangkat tak usah khawatir," balas Tata.


"Baiklah, tapi--,"


"Ayo," ajak Tata sambil menarik tangan Rembulan dan menyemangati majikannya itu.


Setelah ada di luar Rembulan dan Tata berkeliling melihat pohon dah tanaman hijau yang begitu asri, Rembulan sesekali tersenyum kearah pelayannya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan mu, Ulan...


__ADS_2