Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 111


__ADS_3

"Kamu kenal putri Om yang namanya Aluna? Dia juga kuliah di sana," ucap Tuan Reyhan pada Revan.


"Putri Om Reyhan kuliah di sana juga?" ucap Revan mengulangi ucapan Tuan Reyhan. Ia yang tak tahu siapa-siapa termasuk teman satu kelas juga. Revan yang baru pertama datang dan menjadi siswa baru di sana pun ia belum mendapatkan seorang teman.


"Saya tidak tahu, Om. Mungkin beda kelas," jawab Revan, tapi rasa-rasanya ia tidak asing lagi mendengar nama itu sering ia dengar tapi entah itu di mana dan kapan Revan juga tak tahu dan tak ambil pusing.


"Putri Om sudah satu tahun di sana dan semoga kamu mengenal ya," ucap Tuan Reyhan, ia pun bangun untuk pergi ke kantornya untuk mengecek beberapa berkas yang baru ia tandatangani dan mempelajari tentang kerja sama yang sudah di sepakati bersama.


Revan pun pergi, ia yang tak ada banyak waktu segera melesat dengan kecepatan tinggi karena waktu sudah tak adanya untuk sampai di universitas Gunadarma tempat ia menuntut ilmu di sana.


Sampai di parkiran, Revan pun berlari karena waktu beberapa menit lagi akan dimulai dan ia tak ingin terlambat untuk masuk kedalam kelas itu. Lagi lagi ia harus berpapasan dengan seorang wanita yang ia selalu hindari dan benci dengan adanya wanita itu yang tak lain adalah gadis yang beberapa kali menabraknya di berbagai tempat.


"Minggir," geser Revan, ia ingin berdebat atau membuang waktu karena gadis itu. Waktunya yang berharga membuat Revan tak memperdulikan gadis itu walaupun ia mencari masalah dengannya.


"Tuh, jalan masih luas juga. Dasar pria aneh." balas Aluna yang menggeser tubuhnya, ia biarkan juga pria itu dan menatapnya dengan tatapan tajam.


Revan pun berlalu dan berlari untuk sampai ke kelasnya ia membiarkan gadis itu lepas begitu saja.


"Dasar pria aneh bin ajaib," gerutu Aluna, ia baru saja keluar dari kelasnya dan akan menghampiri temannya yang sudah ada di kantin lebih dulu.


Sesampainya di kantin, Aluna menghempaskan bokong di kursi itu dengan wajah di tekuk seperti tak mendapatkan jatah jajan dari orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Lun? Sakit?" tanya Hesti teman dekatnya yang selalu di ada untuknya.


"Lagi bete, Hes." jawab Aluna sambil menyeruput minuman Hesti yang baru datang yang Hesti pesan.


"Itu minuman gue, Lun. Astaghfirullah punya teman kere banget ya," omel Hesti yang selalu gamblang dengan sesuka mulutnya jika ia berbicara, ia selalu keceplosan dan itu membuat Aluna tak ingin berbagi rahasia pada temannya itu.


"Minta dikit napa pelit banget, entar aku ganti berkali kali lipat," ucap Aluna dengan pedenya, ia memang dari keluarga yang berada tapi dengan kelakuan di luar batas tak seperti anak gadis pada umumnya dengan penampilan seperti cowok alias tomboi orang tuanya selalu geleng-geleng kepala dan kadang tak ingin mengganti dan membantu kelakuan putrinya itu. Tapi Aluna akan merengek pada Mamah yang begitu baik seperti malaikat tak bersayap.


"Berkali-kali lipat apanya? Yang kemarin saja ponsel ku belum lu ganti kan," balas Hesti yang baru ia ingat, kejadian kemarin membuat ia harus di marahi oleh Papahnya karena ia meminta ponsel baru. Dan alasannya gara-gara terjatuh ke got bukan karena temannya itu.


Aluna menyengir dan menyeruput minuman temannya yang tanpa dosa dan salah. Ia pun memanggil penjaga kantin untuk ia pesan makanan yang sedari tadi ia keroncongan.


Satu mangkok bakso dan minuman teh manis jadi pilihan Aluna, itu adalah makanan favoritnya saat menyantap makanan di kantin.


"Ini tempat duduk gue," ucap Aluna yang tak terima, pasalnya ia bangun untuk memesan kembali karena satu porsi bakso yang ia makan tak kenyang untuknya.


"Gue sedari tadi lihat kursi ini kosong dan tak ada orangnya," sahut Revan yang kekeh dan tak mau mengalah.


"Enak saja, ini kursi gue," balas Aluna, ia akan mempertahankan apa yang ia miliki.


Revan pun menatap kearah gadis itu dan memanggil penjaga kantin tersebut. "Tolong usir gadis ini?" titah Revan pada ibu penjaga kantin.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu jadi bingung dan harus bagaimana untuk menderai kedua orang tersebut yang sedari tadi berdebat masalah tempat.


"Gak mau? Dan ibu jangan mau di suruh sama dia," tunjuk Aluna yang tak ada takut takutnya pada pria yang selalu menjadi biang rusuhnya itu.


Revan pun mengangkat tubuh gadis itu untuk pergi dari hadapannya, dan menduduki kursi tersebut dengan wajah bangganya. Tapi tidak dengan Aluna yang merenggut kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Semua yang ada di kantin ini akan di traktir sama pria ini ya? Jadi jangan sungkan untuk mengambil dan menambah lagi pesanannya....


__ADS_2