
"Mamih lagi ngapain?" tanya Revan dan Tuan Raditya sang suami yang heran dengan sikap sang istri yang aneh.
Mamih Rembulan mendongakkan kepalanya melihat ke atas di mana ada kedua pria berbeda usia itu lagi melihat kearahnya dengan tatapan aneh. Mamih Rembulan pun bangun setelah memeluk tubuh pelayan setia yang sampai sekarang tak menikah ia lebih baik mengabdikan dirinya pada Tuan dan nyonya nya.
Mamih Rembulan pun bangun dan mendekat ke arah suami dan anaknya itu, ia pun menangis mengingat kejadian buah hatinya yang telah tiada itu. Mamih Rembulan yang menahan diri dari rumah itu, ia ingin segera pulang dan memeluk pelayan pribadinya itu yang bernama Tata. Hanya pelayan itu Rembulan mencurahkan isi hatinya yang ia rasakan saat ini.
Tuan Raditya pun mah maju dan menghapus sisa dari air mata di pipi sang istri, ia pun memeluk dengan lembut untuk mencari dan meringankan beban pikiran sang istri yang merasakan kesedihan saat kehilangan buah hatinya adik untuk Revan.
Flashback on..
Saat di nyatakan hamil oleh seorang dokter, Rembulan pun bahagia dan hari-harinya selalu di turutin permintaannya di waktu malam hari pun Tuan Raditya akan menjadi suami siaga 24 jam untuk sang istri di saat ngidam anak keduanya itu.
Ketika malam tiba sekitar jam 1 malam, Rembulan terbangun yang ingin sesuatu. Rembulan pun melirik kearah sang suami yang masih terlelap tidur dengan nyenyak nya Rembulan pun membangunkan suaminya itu untuk mewujudkan keinginan yang entah apa yang ia inginkan.
"Mas bangun, aku pengen sesuatu, Mas. Aku lapar," ucap Rembulan yang menggoyang tubuh sang suami agar terbangun dari mimpinya.
"Hmmm," jawab Tuan Raditya hanya berdehem saja dan masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ayo bangun, Mas." paksa Rembulan, ia yang sudah tak tahan lagi dengan apa yang ia rasakan saat bermimpi tersebut. Membayangkan makanan yang menggugah seleranya.
Mau tak mau pun Tuan Raditya bangun dengan wajah bantalnya, ia baru saja beberapa jam tidur setelah pulang dari kantornya itu. Tuan Raditya akan menuruti keinginan sang istri yang sedang mengidam di tengah malam.
Kendaraan mewah itu ia kendarai sendiri yang masih mengantuk dan di sampingnya ada sang istri dengan perut yang sudah terlihat itu. Kehamilan Rembulan yang kini menginjak usia trimester kedua itu membuat ia begitu bahagia menantikan kehadiran buah hatinya yang kedua ini. Rembulan pun mengelus perut dan melirik kearah suaminya itu. Dan tiba-tiba saat Rembulan melihat ke depan lagi sebuah truk besar menghalangi jalan mereka dan Tuan Raditya tak sadar ada kendaraan di depannya pun di buat kaget dengan jeritan sang istri yang menggema itu.
"Awas, maass...," teriak Rembulan yang begitu cemas dan setelah itu kejadian bertabrakan itu terjadi.
Brukkk....
.
.
.
Keduanya pun di bawa ke UGD dan Rembulan pun di tindak ke ruang operasi untuk mengeluarkan kandungan yang sudah tak terselamatkan.
__ADS_1
Flashback off..
"Maafkan aku, Mih. Ini semua salah ku jika saja aku tak lalai membawa kalian mungkin kejadian itu tak mungkin terjadi. Aku yang salah, Mih." sesal Tuan Raditya saat mengingat semuanya itu, jika ia berhati-hati dan lebih waspada lagi mungkin sekarang putri kecilnya itu sudah besar dan memanggilnya Papih.
Rembulan semakin histeris saat di pelukan sang suami, ia tak mungkin sepenuhnya menyalahkan sang suami jika keinginannya pun bisa di tunda. Lagi lagi Rembulan hanya bisa pasrah dengan keadaan yang kini tak bisa mengandung buah hatinya lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan sedih, Mih. Kan Revan ada buat Mamih sekarang, Revan akan turutin apa maunya Mamih...