
"Anak ganteng Mamih kenapa?" tanya Rembulan yang sudah ada di hadapannya putra semata wayangnya. Dan Rembulan begitu panik melihat tangan putranya kemerahan.
"Siapa yang lakuin ini sama kamu, sayang?" tanya Rembulan, ia orang tak terima jika anaknya terluka sedikitpun.
"Cuma ketumpahan saja, Mih. Dia tak sengaja," jawab Revan, ia tak mungkin memberitahukan siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Biar itu jadi urusannya.
"Ayo, Mamih obati. Lain kali hati-hati ya, Van." nasehat Rembulan sambil mengobati luka kemerahan pada tangan putranya. Rembulan yang sudah menawarkan ke rumah sakit takut terjadi sesuatu dan di tolak oleh Revan karena itu hanya luka kecil besok juga sudah sembuh.
"Kamu sudah makan, Van?" tanya Rembulan, ia akan mengurus putranya seperti seorang bayi.
"Udah, Mih. Revan pengen istirahat saja," jawab Revan, ia bangun dan pergi ke lantai dua tempat di mana kamarnya berada.
Rembulan hanya memandang punggung putranya, ia pun berlalu mengecek orang yang sedang masak dan menghampiri Tata.
"Tata temenin aku belanja bulanan yuk? Aku pengen makan sesuatu deh," ucap Rembulan yang menghampiri Tata yang memantau keadaan dapur dan orang yang sedang berkerja.
"Gak besok aja, Ulan. sebentar lagi mau makan malam loh," jawab Tata sambil melihat jam di tangannya. Karena waktu tak mungkin keluar untuk berbelanja kebutuhan rumah, Tata tahu jika kebutuhan rumah dan majikannya tak sedikit dan perlu waktu cukup lama untuk memilih dan membeli keperluannya.
Rembulan tak menjawab saat ia akan menjawab tiba-tiba suara mobil itu ia kenal dan Rembulan segera meninggalkan Tata untuk menyambut suaminya yang sudah datang.
__ADS_1
"Tumben udah pulang, Mas?" tanya Rembulan yang menyambut tangan suaminya untuk di cium takzim dan mengambil alih tas yang sedang di bawa oleh suaminya.
"Pulang telat marah, pulang lebih awal di bilang tumben," sindir Tuan Raditya tak lupa ia mengecup kening istrinya dan berjalan beriringan masuk kedalam.
Rembulan hanya tersenyum, ini adalah momen yang paling membahagiakan karena suaminya pulang di jam kebiasaannya kadang telat sampai pulang larut malam. Tapi Rembulan selalu mengerti dan paham tentang pekerjaan suaminya yang semakin menumpuk.
"Revan sudah pulang?" tanya Tuan Raditya pada istrinya.
"Sudah, Mas. Tapi tangannya tadi terluka, jangan khawatir, Mas. aku udah obati kok," jawab Rembulan, ia langsung menjawab semua yang ia sampaikan takut suaminya marah atau pun salah paham.
"Kenapa?" tanya Tuan Raditya.
"Dia sudah besar, Mas. Revan tahu mana yang harus ia lakukan dan ia tak mungkin di lakukan. Percayalah," ucap Rembulan lagi, ia selalu berkata seperti itu agar suaminya tak terlalu memanjakan putranya dengan terlalu berlebihan.
"Aku hanya bertanya saja, sayang. Dan aku tahu kamu pasti akan mendidiknya dengan baik," ucap Tuan Raditya yang menangkup wajah sang istri dan sambil mengecup bibirnya sekilas.
"Malu, Mas. kalau ada yang lihat gimana?" protes Rembulan sambil memukul lengan suaminya, ia takut ada seseorang yang melihat kelakuannya terutama putranya yang tak boleh menonton apa yang seharusnya tak terjadi.
"Dikit doang, Yang. Tapi entar malam boleh ya?" goda Tuan Raditya yang mengedipkan matanya yang kanan.
__ADS_1
Belum Rembulan menjawab pertanyaan dan ajakan dari suaminya, Revan sudah menimpali percakapan orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Emang entar malam ada acara apa, Pih???