
"Ulan, apa kamu mengenaliku?" tanya Tata yang rindu dengan sosok majikannya yang pencicilan dengan tingkah tengilnya membuat ia geleng-geleng kepala karena tingkahnya.
Mis Laura terdiam, ia bingung dengan apa yang di katakan wanita yang ada di hadapannya seperti seumuran dengannya.
"Memang siapa Rembulan?" tanya Mis Laura, ia yang penasaran juga dengan semua orang selalu memperhatikan dan mengatakan jika dirinya adalah Rembulan istri dari Tuan Raditya.
Tata pun merogoh ponselnya dari dalam tasnya yang ia bawa lalu membuka dan memperlihatkan pada wanita yang mirip dengan majikannya itu.
Mis Laura melotot lalu mengucek kedua matanya berulang-ulang kali ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ini seperti dirinya yang membedakan hanya penampilannya saja.
"Ini istri Tuan mu?" tanya Mis Laura, ia mulai mengerti dengan apa yang di rasakan bocah itu karena tak merasakan kehilangan sosok seorang ibu.
"Iya, dia menghilang setelah kejadian itu dan tercebur ke sungai oleh nyonya Siska, saat itu majikan ku tertabrak oleh seseorang entah itu siapa? Tapi dia melahirkan di saat luka parah," ucap Tata yang menceritakan kejadian tersebut agar wanita benar-benar mengingat jika benar wanita ini adalah Rembulan.
Rembulan memegang kepalanya, ia seperti merasakan tentang apa yang di ceritakan oleh wanita yang bernama Tata itu, entah kenapa tiba-tiba ia merasakan pusing di bagian kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya yang khawatir dengan keadaan wanita ini yang sedang memegang kepalanya.
"Aku pusing sekali," jawab Mis Laura yang tak tahan dengan apa yang ia rasakan saat ini, kepalanya membuat ia tak kuat menahannya.
"Aku panggilkan dokter ya?" tawar Tata, tapi Laura terdiam ia enggan untuk menjawab karena ia merasakan sakit di kepalanya.
Tanpa bertanya dua kali Tata pun keluar dari ruangan ini untuk memanggil dokter, ia khawatir dengan keadaan Laura yang mengeluh di bagian kepalanya.
"Dok..," panggil Tata yang tak melihat seorang dokter, ia pun berlari ke bagian informasi dan menanyakan sesuatu.
"Sus," panggil Tata.
"Iya, Mbak. Ada perlu apa?" tanya seorang suster tersebut.
__ADS_1
"Tolong panggilkan dokter sekarang, pasien yang bernama Laura sedang kambuh," ucap Tata yang mengatakan itu, ia takut jika terjadi sesuatu setelah ia menceritakan hal itu.
"Baik, Mbak. Biar saya yang mengeceknya ya," jawab suster yang mendatangi ruangan itu untuk memeriksa keadaan pasien, jika terjadi sesuatu baru ia akan memanggil sang dokter.
Suster dan Tata pun berjalan dengan tergesa-gesa, keduanya ingin segera sampai karena kekhawatiran terhadap pasien.
Ceklek....
Pintu pun di buka, Laura yang tak sadarkan diri setelah mengeluh di bagian kepalanya. Dan yang bikin Tata dan suster itu kaget dengan Revan yang menangis.
Segera Tata menghampiri Tuan mudanya dan suster itu pun memeriksa keadaan pasiennya.
"Tuan muda kenapa?" tanya Tata yang khawatir.
"Mis Laura, bibi Ta. Dia kasihan, Mis Laura kesakitan dia pegang kepalanya terus," ucap Revan sambil sesenggukan karena menangis, ia takut dan kasihan melihat kondisi guru kelasnya yang lagi kesakitan. Ia tak bisa berbuat apapun kecuali hanya menangis saja.
Revan pun mengangguk, ia sedikit lebih tenang karena sekarang sudah ada yang menangani mis Laura dengan baik.
"Bagaimana, sus?" tanya Tata, ia khawatir dan langsung bertanya.
"Sepertinya pasien harus di cek dan harus di periksa di bagian kepalanya. Sepertinya ada yang bermasalah dengan kepalanya," jawab suster tersebut sambil memasangkan selang infus pada tangan pasien. Suster itu pun keluar untuk memanggil dokter agar di tindak lebih lanjut lagi.
"Mis Laura tak apa-apa, Tuan. Jadi jangan khawatir ya," ucap Tata lagi, ia akan menenangkan Tuan mudanya baru ia akan menghampiri Laura untuk melihat keadaan lebih dekat lagi.
"Semoga tak terjadi sesuatu pada mu, Ulan. Aku yakin jika kamu adalah Rembulan yang hilang 10 tahun lalu dan aku akan kembalikan kamu pada Tuan dan kalian akan berkumpul lagi seperti dulu." batin Tata yang melihat kearah pasien yang bernama Laura itu.
Dokter pun masuk dengan suster yang tadi dan langsung memeriksanya, setelah di ceritakan oleh suster itu.
"Tolong kabari Tuan Raditya jika besok akan di periksa lebih lanjut tentang kepalanya. Saya takut akan terpengaruh dalam otaknya." ucap seorang dokter yang memerintahkan pada Tata untuk segera mengabarkan tentang hal ini.
__ADS_1
"Baik, Dok. Saya akan segera mengabarkan pada Tuan saya," jawab Tata sambil mendekap Tuan mudanya.
Setelah mengatakan hal itu dokter dan suster itu pun pergi dari ruangan ini dan Tata pun langsung mengambil ponselnya dari dalam tasnya yang ia bawa.
Panggilan itu pun tersambung pada nomor Tuannya.
Tut... Tut.... Tut...
"Halo," ucap Tuan Raditya dari sebrang sana, saat mendengar bunyi ponselnya dari Tata segera mengangkatnya ia takut terjadi sesuatu karena meninggalkan putranya di sana.
"Iya, halo, Tuan. Bisa ke sini?" tanya Tata dengan ragu, ia takut jika Tuannya akan marah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku akan segera ke sana...
__ADS_1