
"Gue di sini!!! Biar gue yang bayar," sahut Revan yang kembali ke kantin. Ia yang sudah di umumkan akan mentraktir mereka mau tak mau pun harus menerimanya dan kembali ke kantin itu.
Dan benar saja, semua orang sedang menunggu dan meminta kepastian atas dasar kegaduhan oleh wanita itu dan Revan kembali dan membayar semua tagihan itu.
"Ngapain balik lagi? Bukannya kamu gak mau bayar?" tanya Aluna, ia pikir dirinya lah yang akan membayar semua tagihan siswa dan siswi itu makan tapi ia di kagetkan dengan suara yang has pria yang menjengkelkan itu.
"Takut kamu tak punya duit," jawab Revan begitu enteng lalu menghampiri yang punya kantin tersebut.
"Enak aja gak punya duit, aku punya ya," jawab Aluna yang tak terima di katakan tak punya duit, ia sebenarnya masih punya simpanan uang dan membayar tagihan itu bagi Aluna sebuah hal kecil tapi Aluna hanya ingin mengerjai pria yang menjengkelkan itu.
Setelah selesai membayar semua, Revan pun pergi dari kantin tersebut. Ia tak ingin berlama-lama di sana dengan raut wajah siswi yang selalu menatapnya tak berkedip.
"Baik banget tuh cowok, pengen jadi pacarnya jadi simpanan juga tak apa." ucap salah satu siswi yang terkagum-kagum dengan siswa baru di kampusnya.
"Baik apanya, yang ada bikin orang naik darah." gerutu Aluna, ia pun pergi ke kelasnya untuk mengambil tasnya. Hari ini ia tak mungkin melanjutkan jadwalnya karena ada acara yang tak bisa ia tinggalkan.
"Kamu mau kemana, Lun?" tanya Hesti, ia berpikir setelah ini ada jadwal kuliah kedua dan temannya itu malah ingin pergi.
"Absen kan saja, Hes. Aku ada perlu." jawab Aluna yang pergi dan tak menghiraukan jawaban Hesti.
"Tuh anak seenaknya saja, emang dia pikir ini kampus nenek moyangnya apa." gerutu Hesti dan ia pun masuk kedalam karena sebenar lagi akan segera di mulai.
.
.
.
Revan yang baru datang di kediamannya pun di hentikan oleh Mamihnya itu yang lagi duduk di ruang tamu sambil membaca majalah di tangannya.
"Revan," panggil Mamih Rembulan yang menghentikan langkah putranya yang akan menuju ke kamarnya. Ia akan memberitahukan tentang acara nanti malam yang sudah di sepakati kedua keluarga tersebut.
"Iya, Mih. Ada apa?" jawab Revan, ia baru menyadari adanya sang Mamih dan ia pun menghampiri untuk di cium tangannya dan kedua pipinya yang rasa sayangnya.
"Nanti malam kamu siap-siap ya? Jangan kemana-mana, kita akan makan malam sedang keluarga pak Reyhan, kamu tahu kan?" tanya Mamih Rembulan, dan Revan mengingat nama itu yang tak asing baginya.
__ADS_1
"Om Reyhan?" tanya Revan, ia baru mengingatnya saat pertemuan pertamanya dengan pria paruh baya tersebut.
"Iya, betul. Dia adalah rekan kerja Papih mu dan beliau mengundang kita untuk makan malam bersama di rumahnya," jawab Mamih Rembulan, Revan yang tak suka dengan acara tersebut mau tak mau harus mengiyakan ajakan Mamihnya itu. Acara yang akan membuat Revan cepat bosan dengan obrolan para orang tua yang menurut Revan sangat bosan.
"Emang Revan harus ikut?" tanya Revan, ia ingin sekali tak ikut tapi itu tak mungkin jika Mamihnya sudah mengajaknya.
"Harus lah , Van. Kamu kan putra Mamih satu-satunya," jawab Mamih Rembulan, ia begitu gemes pada putranya yang tak mau di ajak kemana kecuali ia memaksanya.
"Tapi, Mih. Revan gak mau ikut boleh gak?" tanya Revan, ia lebih baik tidur seharian dari pada harus mendengarkan obrolan yang membuat ia bosan.
"Harus ikut, titik." ucap Mamih Rembulan dengan tegas, ia tak ingin di bantah jika ia sudah kekeh ingin mengajak sang putra.
Revan pun membuang nafasnya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Mamihnya itu yang melanjutkan membaca majalahnya. Revan pun masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
.
.
.
Malam yang di nanti-nantikan pun tiba, Aluna yang di suruh pulang cepat oleh kedua orang tuanya harus absen dari jadwal kuliah yang kedua dan menemani Mamahnya ke salon untuk mempercantik penampilannya. Aluna selalu proses jika harus memakai pakaian seperti wanita pada umumnya. Ia lebih baik memakai pakaian sederhana seperti kaos dan kemeja yang lebih nyaman baginya.
"Jangan protes, sekali-kali kayak wanita jangan jadi cowok melulu. Kamu tuh cantik loh sayang kalau begini terus penampilan mu." ucap Mamah Mentari yang kagum dengan penampilan putrinya itu.
"Apaan sih, Mah. Luna gak nyaman tahu." jawab Aluna yang kini di tatap oleh Mamahnya jadi salah tingkah dan tak nyaman dengan pakaiannya yang ia pakai saat ini. Dress yang selutut yang pas di badannya dengan warna merah muda kesukaannya.
"Awas jangan pernah ganti lagi dan harus nurut sama Mamah," ancam Mamah Mentari, ia suka di buat pusing dengan kelakuan putrinya itu yang tak ada sifat minim seperti gadis pada umumnya yang selalu memukau dengan penampilannya.
"Iya, iya. Bawel banget sih," jawab Aluna dengan ketus, ia sebenarnya ingin pergi dari rumah ini dan berkumpul-kumpul dengan teman-temannya.
Setelah berlalu Mamahnya, Aluna memandang dirinya di depan cermin besar dan menelisik dirinya di pantulan cermin tersebut. Ia pun kagum dengan dirinya sendiri bisa beda dari biasanya.
"Kok gue gak percaya dengan penampilan ku sendiri ya?" tanya Aluna pada dirinya sendiri dan tersenyum memandang bayangannya di dalam cermin tersebut.
Waktu yang sudah di nantikan pun tiba, keluarga Tuan Raditya sudah sampai di kediaman rumah Tuan Reyhan yang sama mewahnya seperti rumah itu tapi tak semewah rumahnya.
__ADS_1
Ucapan salam dari keluarga Tuan Raditya saat datang di rumah ini dan penyambutan dari keluarga Tuan Reyhan yang begitu ramah dan sopan membuat keluarga Tuan Raditya tersenyum.
"Ayo masuk, Tuan dan nyonya." titah Tuan Reyhan bersama sang istri tapi tak dengan putrinya yang masih di dalam kamar, ia akan turun saat tamunya sudah datang dan masuk.
"Ini putranya jeng Ulan?" tanya Mamah Mentari yang tersenyum pada pria muda bersama tamunya itu.
"Iya, Jeng. Ini putraku. Dia baru pulang dari kota B." jawab Rembulan sambil memperkenalkan putranya itu pada istri dari rekan kerjanya sang suami.
"Ganteng ya," puji Mamah Mentari, dan menyambut uluran tangan pemuda itu yang begitu sopan.
Semuanya pun masuk untuk memulai acara tersebut dengan makan malam bersama. Tak lupa Mamah Mentari pun memanggil putrinya yang belum turun juga.
Semua orang sudah menempati kursinya masing-masing, terutama Tuan Reyhan yang duduk di depan di antara para tamu dan keluarganya.
"Maafkan kami, Tuan. Jamuan nya ala kadarnya saja." ucap Tuan Reyhan yang tak enak hati, ia tahu dengan keluarga Tuan Raditya yang begitu mewah dan wibawa.
"Tidak apa-apa, Tuan. Di rumah saya juga sama." jawab Tuan Raditya yang tersenyum, ia menghargai rekan kerjanya itu yang sudah menyiapkan semua makanan yang begitu banyak.
Tak berselang lama kedua wanita yang berbeda umur itu turun dan menyapa semua yang ada di ruang meja makan termasuk Revan yang melirik kearah suara itu dan betapa terkejutnya Revan, ia berdiri tak percaya yang ia lihat sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kok kamu ada di sini..
"